Oleh: Akhmad Sifyani (Guru MI Al Asyhar Karangagung Timur-Palang, Tuban)
Tugujatim.id – Setiap tanggal 28 Oktober, seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada momen bersejarah ini, berbagai pamflet dan stiker bertebaran di media sosial dengan tulisan “Selamat Hari Sumpah Pemuda.”
Secara garis besar, Sumpah Pemuda menjadi tonggak semangat dan perlawanan terhadap penjajahan. Peristiwa penting ini tidak lahir begitu saja, tetapi merupakan hasil dari pemikiran para pemuda Indonesia pada masa itu yang ingin menyatukan seluruh rakyat Indonesia menjadi bangsa yang berdaulat dan bersatu.
Baca Juga: Sugondo Djojopuspito, Putra Tuban di Balik Sumpah Pemuda yang Tak Banyak Dikenal
Dari sekian banyak tokoh pemuda yang terlibat, ada satu nama yang menarik perhatian saya, yaitu Soegondo Djojopoespito. Dia lahir di sebuah kota kecil di pesisir pantai utara Jawa, yaitu Tuban, Jawa Timur, yang sering dijuluki “Bumi Wali.”
Dalam perjalanan hidupnya sebagai pelajar dan aktivis, Soegondo Djojopoespito banyak bersinggungan dengan tokoh-tokoh besar pendiri bangsa, seperti Johannes Leimena, Muhammad Yamin, Amir Sjarifudin, W.R. Supratman, H.O.S. Cokroaminoto, dan Soekarno. Tidak mengherankan jika akhirnya dia dipercaya menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).
Dalam proses perumusan naskah Sumpah Pemuda, Soegondo Djojopoespito memberikan paraf pada kertas yang ditulis oleh Muhammad Yamin dengan kalimat sederhana namun sangat bermakna: “Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Indonesia.” Kalimat inilah yang kemudian menjadi ikrar Sumpah Pemuda yang selalu kita hafalkan dan lantunkan hingga hari ini.
Soegondo Pantas Diajukan sebagai Pahlawan Nasional
Peran Soegondo Djojopoespito sangat besar dalam lahirnya Sumpah Pemuda sebuah peristiwa yang menjadi titik balik kebangkitan semangat persatuan bangsa. Sebagai putra terbaik daerah, sudah sepantasnya nama Soegondo Djojopoespito diajukan sebagai Pahlawan Nasional.
Saya berharap pemerintah daerah Kabupaten Tuban benar-benar serius mempersiapkan arsip dan dokumen pendukung untuk mengajukan beliau sebagai pahlawan nasional. Jangan sampai peran besar dia hanya dikenang dalam buku sejarah tanpa penghargaan yang layak dari negeri yang ikut diperjuangkan.
Jika pemerintah daerah tidak memberikan dukungan terhadap pengajuan Soegondo sebagai pahlawan nasional, maka sulit rasanya melahirkan seribu pahlawan baru di kota ini. Sebab, menghargai pahlawan bukan hanya dengan mengingat namanya, tetapi juga dengan melanjutkan perjuangannya dan memberikan tempat terhormat bagi jasa-jasanya.
Sebagai guru madrasah dan warga Tuban, saya merasa bangga mengetahui bahwa dari tanah kelahiran saya, Bumi Wali, lahir seorang pemuda yang ikut merumuskan Sumpah Pemuda ikrar suci yang menyatukan bangsa Indonesia. Semoga semangat perjuangan Soegondo Djojopoespito terus hidup di hati para pemuda Tuban dan menjadi inspirasi untuk berjuang bagi kemajuan bangsa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Dwi Lindawati








