TUBAN, Tugujatim.id – Ramadan membawa berkah tersendiri bagi Abdul Manaf, 65, bersama istrinya Rosalinda, perajin songkok batik asal Desa Kapu, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Permintaan terhadap songkok khas kreasinya ini melonjak hingga 30 persen selama bulan suci ini.
Produk yang memadukan tradisi batik dengan sentuhan elegan ini semakin menarik perhatian, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga mulai merambah pasar internasional.
Abdul Manaf bukanlah sosok baru dalam dunia kerajinan. Pria kelahiran Gresik ini telah menetap di Tuban selama hampir 25 tahun dan merintis usahanya sejak 2017.
Baca Juga: Menyelami Kekayaan Budaya Batik Jawa Timur: Lima Jenis Batik yang Terkenal
Berbekal pengalaman magang di Gresik pada 1970-an, dia mengembangkan keahliannya dalam membuat songkok berbahan batik khas Kerek, Tuban. Tidak hanya songkok, dia juga memproduksi udeng, sarung batik, baju batik, slayer, dasi, hingga masker batik.
“Dulu saya ingin fokus di batik saja, tapi kemudian terpikir untuk mengembangkan produk yang berbeda, yaitu songkok batik,” ujarnya.
Songkok Batik Elegan Makin Diminati Pasar Lokal dan Internasional
Produk-produk Abdul Manaf telah memiliki pangsa pasar di berbagai daerah seperti Lamongan, Bojonegoro, Gresik, Sidoarjo, Malang, serta beberapa luar pulau. Bahkan, kini dia tengah mengurus administrasi untuk ekspor ke Singapura dan Amerika Serikat.
“Kalau bulan puasa begini, biasanya permintaan meningkat. Tahun ini naik 20-30 persen atau sekitar 5-10 kodi. Tapi dibandingkan tahun sebelumnya, masih ada penurunan, dulu bisa naik sampai 100 persen,” jelasnya.
Harga songkok batiknya bervariasi, tergantung jenis kain yang digunakan. Untuk songkok batik standar, harganya berkisar Rp50 ribu. Sedangkan songkok batik berbahan kain gedog bisa mencapai Rp200 ribu-Rp250 ribu.
Keuletannya dalam berinovasi membuat Abdul Manaf tidak asing dengan penghargaan. Pria yang memilik basic pengajar ini pernah menyabet juara dalam Lomba Kreativitas dan Inovasi Batik di Lasem pada 2018 yang diikuti hampir seluruh Indonesia.

Terbaru, usahanya yang tergabung dalam kelompok industri kecil dan menengah (IKM) meraih juara 1 di ajang serupa pada 2024 yang diterima oleh istrinya.
Tidak hanya fokus berjualan, dia juga aktif membagikan ilmunya kepada masyarakat. Siapa pun yang ingin belajar membuat songkok batik bisa datang langsung ke tempatnya secara gratis. Bahkan, dia dengan terbuka mengajarkan keterampilan ini kepada penyandang disabilitas.
“Saya tidak khawatir kalau ilmu saya ditiru. Justru saya senang jika ada yang ikut melestarikan budaya ini,” ungkapnya dengan senyum.
Meskipun bisnisnya sempat terdampak pandemi, jumlah pekerja berkurang dari enam orang menjadi dua, Abdul Manaf tetap optimis. Dia percaya bahwa songkok batik khas Tuban memiliki daya tarik tersendiri dan akan terus dicari, baik oleh masyarakat lokal maupun mancanegara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








