MOJOKERTO, Tugujatim.id – Bentuk masjid di Indonesia umumnya mempunyai menara yang terpisah dari area inti masjid. Tapi, Masjid Jami Ki Buyut Langkay di Mojokerto ini berbeda, apa keunikannya?
Apa jadinya bila masjid dan menara bergabung menjadi satu? Hal tersebut ternyata dijumpai di Mojokerto, Jawa Timur. Ada sebuah masjid yang tidak menggunakan gaya kubah atau mustaka, malah menggabungkan masjid dan menara menjadi satu.
Baca Juga: Adem! Potret Sudut-Sudut Masjid Ki Buyut Langkay Mojokerto
Masjid tersebut adalah Masjid Jami Ki Buyut Langkay. Masjid unik ini berlokasi di Sumbertebu, Bangsal, Kabupaten Mojokerto. Masjid ini mudah ditemukan karena berada persis di depan balai Desa Sumbertebu. Selain itu, menara masjid yang menjulang tinggi di area persawahan membuatnya kian mudah dikenali.
Kesan pertama saat tiba di masjid unik ini adalah dominasi warna hijau dan kuning terang pada bagian depan. Lalu, ada kaligrafi nama-nama Allah SWT (Asmaul Husna) berwarna kuning keemasan di atas pintu dan jendela bagian depan. Sementara, warna hijau juga dapat dijumpai pada hiasan langit-langit masjid. Sementara warna putih lebih banyak dijumpai pada bagian dalam masjid.
Cerita Pendirian Masjid Unik
Masjid Jami’ dengan dua lantai ini dinamai dengan Ki Buyut Langkay sebagai bentuk penghormatan terhadap salah satu tokoh sepuh atau tetua di mana masjid ini berdiri.
“Ceritanya daerah sini dulu berupa hutan lebat. Kemudian sekitar abad 19 itu salah satu penggawa Pangeran Diponegoro ada yang lari. Nah, beliau itu yang mbabat (membuka) dusun ini, makamnya juga tidak terlalu jauh dari masjid ini,” ujar salah satu takmir Masjid Ki Buyut Langkay, Sutikno, Rabu (19/03/2025).
Sutikno melanjutkan, model masjid ini awalnya ingin menggunakan kubah pada bagian atasnya. Namun akibat faktor yang tidak disengaja, membuat konstruksi masjid berubah sehingga menara segi empat tergabung dengan ruang utama masjid.
Masjid Ki Buyut Langkay berdiri pada 1997 silam. Masjid dengan luas 25 x 25 meter ini berdiri di atas lahan seluas 40 x 50 meter. Pembangunan masjid ini berawal dari seorang donatur bernama Haji Toifin.
“Nah untuk menara ini kan bentuknya kayak simbol dari laki-laki. Itu juga sekaligus sebagai pertanda bahwa nama masjid ini berasal dari tokoh laki-laki serta yang membangun juga dari laki-laki,” tambah Sutikno.
Baca Juga: Jamaah Tarawih Masjid di Malang Dapat Uang Barokah Rp20 Ribu Setiap Hari
Menara Masjid Ki Buyut Langkay ini mempunyai tinggi 50 meter dengan menggunakan material dari besi baja serta seng. Seiring berjalannya waktu, secara kasatmata menara tersebut tampak kusam dan berkarat.
“Kalau perawatan memang lumayan sulit. Selain karena tinggi, materialnya juga sudah lama digunakan. Di dalam menara juga akhirnya jadi sarang beberapa hewan karena lama tidak dirawat,” sambung Sutikno.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati







