JEMBER, Tugujatim.id – Staf Kecamatan Panti yang sempat dikabarkan menghilang terseret banjir bandang pada Senin malam (02/02/2026), ditemukan meninggal dunia (MD). Korban bernama Abdul Wahid, 53, ditemukan tidak bernyawa di hulu sungai yang terletak di Desa Puger Wetan, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Selasa (03/02/2026).
Pria yang pernah menjabat sebagai sekretaris Desa Pakis ini sebelumnya dikabarkan menghilang terseret derasnya arus sungai yang berujung di pesisir selatan Jember, yakni Pantai Pancer.
Baca Juga: Kecamatan Panti Jadi Langganan Banjir, DPRD Jember Desak Relokasi Hunian Terdampak
Temuan korban selang sehari dikabarkan menghilang ini pun dikonfirmasi KBO Satpolairud Polres Jember Aiptu Agus Riyanto. Dia menjelaskan bahwa korban staf Kecamatan Panti ini ditemukan pertama kali oleh nelayan setempat.
Korban ditemukan dengan kondisi tidak berbusana di antara tumpukan bambu yang berada di sepanjang aliran sungai.
“Tadi kami mendapat informasi dari nelayan di Desa Puger Wetan bahwa telah ditemukan sosok mayat tanpa busana yang tersangkut di area bambu (barongan bambu) yang ada di area sungai itu,” ujar Aiptu Agus saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Selasa (03/02/2026).
Jenazah Diserahkan ke Keluarga
Usai mendapati laporan warga tersebut, pihaknya langsung menuju tempat kejadian perkara (TKP) dan menduga jasad tersebut korban dari Desa Pakis, Kecamatan Panti, yang di malam sebelumnya hilang akibat banjir bandang melanda.
“Ternyata setelah kami evakuasi dengan Polsek Puger menuju Puskesmas Puger dan ada perawat yang dari Pakis membenarkan bahwa jenazah tersebut adalah jenazah Bapak Wahid staf kecamatan,” imbuh Aiptu Agus.
Baca Juga: Staf Kecamatan Panti Hilang Terseret Banjir Bandang Jember
Setelah diidentifikasi jasad oleh kepolisian dan tenaga kesehatan setempat, jenazah langsung dikembalikan ke rumah duka. Setidaknya, usai dikabarkan menghilang, proses pencarian korban telah dilakukan di hari pertama.
“Opsar hari pertama sudah dilaksanakan pencarian lewat darat di area bantaran-bantaran sungai, karena air masih deras dan keruh, tidak memungkinkan untuk turun dari basarnas jadi kami pecah dan ada yang di hilir juga melaksanakan pemantauan di area pelawangan,” ujar Aiptu Agus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








