JAKARTA, Tugujatim.id – Ini catatan kelima saya, Dwi Lindawati, jurnalis difabel dari Tugujatim ID menggunakan KA Jayabaya eksekutif jurusan Malang-Jakarta berakhir di Stasiun Jatinegara Jakarta, Jumat dini hari (29/08/2025), pukul 01.46 WIB, setelah perjalanan jarak jauh selama 12 jam pada Kamis (28/08/2025). Di stasiun ini, difabel seperti saya serasa dimanjakan dan dimudahkan dengan fasilitas lift bagi kelompok rentan.
Untuk diketahui, catatan perjalanan saya ini atas undangan kegiatan perdana kick-off Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch II 2025 di Rumah Belajar TBIG Karawaci, Tangerang, Banten, Jakarta. Tentu, saya menjadi salah satu yang beruntung mendapatkan undangan ini setelah melalui seleksi bertahap dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.
JFC ialah kegiatan pelatihan jurnalistik Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) berkolaborasi dengan Tower Bersama Infrastucture (TBIG).
Mengenal Sejarah Singkat Stasiun Jatinegara
Saya tidak menyangka bakal berada di Stasiun Jatinegara (JNG). Ini adalah stasiun kereta api besar kelas A yang berada di perbatasan antara Jatinegara dan Matraman di Kecamatan Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur.
Stasiun yang terletak pada ketinggian +16 meter ini termasuk dalam pengelolaan Daerah Operasi I Jakarta dan KAI Commuter serta salah satu dari lima stasiun utama di Provinsi DKI Jakarta. Stasiun ini merupakan stasiun tempat bertemunya tiga jalur dilewati ratusan kereta api setiap hari, yaitu jalur ke Pasar Senen, Manggarai, dan Cikarang.

Awalnya, Stasiun Jatinegara bernama Meester Cornelis yang diambil dari nama seorang guru yang mengajar dan berkhotbah di kawasan tersebut yakni Cornelis Senen. Namun, pada masa pendudukan Jepang, nama stasiun ini tidak mau ada istilah berbau Belanda hingga diubah menjadi Jatinegara yang berarti “Negara Sejati”, sebutan dari Pangeran Jayakarta yang terlebih dahulu mendirikan perkampungan Jatinegara Kaum. Kampung ini didirikan setelah Belanda menghancurkan Keraton Sunda Kelapa yang berada di antara Rawamangun dan Pasar Klender.
Seiring berjalannya waktu, Stasiun Jatinegara lalu renovasi besar-besaran. Ada banyak fasilitas tambahan untuk memberikan kenyamanan dan kemudahan kepada para penumpang. Di antaranya:
- Bangunan Baru: Desain arsitektur futuristik modern minimalis dengan skybridge dan eskalator untuk meningkatkan kenyamanan penumpang.
- Jalur Kereta: Stasiun ini memiliki delapan jalur kereta api dengan peruntukan yang berbeda-beda.
- Layanan Kereta: Stasiun Jatinegara melayani keberangkatan penumpang kereta api antarkota dan KRL Commuter Line.
Jadwal dan Rute Kereta
Beberapa contoh kereta api yang berhenti di Stasiun Jatinegara di antaranya:
– Kereta Api Argo Lawu: Tujuan Solo dengan kelas eksekutif luxury.
– Kereta Api Argo Muria: Tujuan Semarang dengan kelas eksekutif luxury.
– Kereta Api Gajayana: Tujuan Malang dengan kelas eksekutif luxury.
– Kereta Api Jayabaya: Tujuan Malang dan Surabaya dengan kelas eksekutif dan ekonomi plus.

Stasiun Ramah bagi Difabel
Sebelum menginjakkan kaki di Stasiun Jatinegara, beberapa penumpang di dalam KA Jayabaya tampak antre di pintu kereta sambil membawa beragam barang. Tidak berdesakan, hanya bersiap-siap agar tidak keburu saat turun.
Saya pun membawa koper berwarna biru, tote bag abu-abu, dan tas ransel kecil. Tetap ditemani Arini (36), warga Jakarta sekaligus sesama penumpang KA Jayabaya yang serasa saudara baru bagi saya. Selama bertemu dan duduk bersebelahan di kereta mulai pemberhentian di Stasiun Gubeng Surabaya, Arini setia menemani saya sambil ngobrol random.
Tujuan akhir Arini sebenarnya di Stasiun Pasar Senen. Tidak disangka, tiba-tiba ada kejadian berita viral yang terjadi di Jakarta. Tengah malam satu jam sebelum kami sampai di Jakarta, seorang ojol diduga dilindas oleh mobil rantis saat aksi demo di sekitar gedung DPR di Jakarta.
Ternyata keluarga Arini menyarankan dia untuk turun di Stasiun Jatinegara. Sebab, massa ojol sudah berada di kantor Brimob, tepatnya di dekat Stasiun Pasar Senen. Mereka bereaksi atas insiden ojol dilindas saat terjadi demo di Jakarta. Demi keamanan, dia mengubah tujuan ke stasiun lain.
Kejadian ini ternyata membawa hikmah untuk kami agar tetap bersama hingga turun di stasiun yang sama. Arini juga merasa lega. Sedari awal dia memang ingin menemani-seperti serasa punya tanggung jawab untuk memastikan kondisi saya aman di Jakarta meski kami baru bertemu beberapa jam.
Ketika KA Jayabaya berhenti di Stasiun Jatinegara, pintu kereta pun terbuka. Hal yang saya khawatirkan sirna begitu melihat peron tampak sejajar dengan pintu kereta sehingga tidak perlu bersusah payah menuruni tangga.
Arini dengan sigap membantu mengangkat koper. Padahal, dia juga membawa barang berat. Beberapa porter tampak menyambut menawarkan jasa. Arini langsung menyambutnya dengan meminta membawa barang-barang kami.

Kereta datang dini hari, hanya sekitar 25-an penumpang yang turun. Stasiun tampak sepi. Para penumpang berjalan keluar stasiun meski tampak kantuk. Saya dan dan Arini juga berjalan sejauh 200-an meter.
Penumpang lainnya berjalan lurus ke luar stasiun, tidak bisa menggunakan eskalator yang off mungkin karena sudah malam. Ternyata porter tiba-tiba mengarahkan kami berdua ke lift yang yang memang dikhususkan untuk difabel maupun kelompok rentan.
Porter pun dengan ramah memberitahukan bahwa lift ini khusus difabel. Jadi, difabel tidak perlu jauh berjalan lurus seperti pada penumpang yang berbarengan dengan kami.
“Lift ini untuk difabel, Mbak. Kalau berjalan lurus tadi, cukup jauh jalannya, kasihan,” ujar porter tersebut.
Harapan Ada Lift Tersedia di Stasiun Malang seperti di Jatinegara
Saya flash back ke Stasiun Malang Kota Baru di mana awal perjalanan sebelum sampai di Jakarta. Saya berpikir, seandainya saja di Stasiun Malang nantinya ada lift seperti ini. Alangkah bagusnya.
Meski di Stasiun Malang saat ini terus berbenah dan semakin bagus dengan adanya fasilitas untuk difabel, mudah-mudahan lift seperti di Stasiun Jatinegara Jakarta ini nanti juga akan tersedia di sana. Tujuannya agar difabel maupun kelompok rentan agar semakin mudah dan nyaman bepergian memakai kereta meski sendirian dan tanpa adanya pendamping atau ditemani petugas.
Tentunya, hal ini akan sangat mengakseskan para difabel, mulai dari difabel pengguna kursi roda, difabel memakai kruk, difabel netra, dan difabel dengan memakai alat bantu lainnya.
Tim TBIG Dini Hari Menjemput Peserta Difabel
Kembali ke perjalanan bersama porter di Stasiun Jatinegara, lift ini membawa kami ke lantai atas. Ternyata kami masih harus berjalan sekitar 150 meter menuju lift kedua yang membawa kami ke lantai bawah lagi. Berjalan lagi sekira 200 meter hingga kami sampai di luar Stasiun Jatinegara.
Arini pun mengaku sama-sama baru kali ini turun di Stasiun Jatinegara. Dia juga baru mengetahui dan memakai fasilitas lift yang ramah difabel bersama saya.
Udara Jakarta di pagi hari menyambut kami. Deretan penjual makanan pun tampak sudah tutup. Hanya ada di ujung tampak para sopir taksi Bluebird setia menunggu penumpang.
Arini pun begitu totalitas dalam mendampingi saya. Dia bahkan sudah membayar jasa porter. Saya beri uang pun dia menolak dengan alasan sudah dibayar.
Dua orang laki-laki tidak lama langsung menyambut Arini. Mereka adalah adik dan saudaranya. Arini tidak mau meninggalkan saya hingga bertemu dengan tim TBIG Revfath Rizqon. Sebelum turun kereta, Revfath mengirimkan pesan jika dia sudah menunggu di exit untuk naik taksi Bluebird.
“Apa sudah turun kereta, Mbakk? Saya di exit yang untuk naik Bluebird ya,” pesan singkat Revfath.
Saya dan Arini akhirnya berpisah. Saya tidak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah menemani dan memastikan kondisi saya baik-baik saja hingga di Jakarta. Tentu saja, saya juga mengatakan akan menghubunginya melalui pesan WhatsApp.
Perjalanan kami terpisah, saya pun melanjutkan perjalanan menuju Hotel Olive, Karawaci, Tangerang, bersama tim TBIG Revfath Rizqon. Butuh waktu perjalanan selama 40 menit menuju ke sana. Saya pun sampai di hotel pukul 03.00 WIB.
Untuk diketahui, perjalanan dan pengalaman saya ke Jakarta menggunakan KA Jayabaya kali ini berkat program Journalism Fellowship on CSR 2025 atau JFC 2025 Batch 2 bermitra dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), perusahaan penyediaan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Perusahaan ini bergerak untuk menyewakan menara telekomunikasi, penyediaan sistem sinyal nirkabel seperti distributed antenna system (DAS), dan lain-lainnya.
Direktur Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) Nurcholis MA Basyari menyampaikan isu CSR bersama TBIG ini menjadi bagian pelatihan karena memiliki kepentingan yang sama yaitu menyebar gerakan kebaikan. Hal ini sesuai tagline yang disampaikan Chief of Business Support Offcer PT Tower Bersama Infrastructure Group (TBIG) Lie Sie An maju “Bersama untuk Indonesia”.
Kick off JFC Batch 2 berlangsung di Rumah Belajar Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), Jl Boulevard Kawasan Sudirman, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, Banten, Jakarta, Jumat (29/08/2025). JFC berlangsung selama sebulan mulai 1 September-8 Oktober 2025 dengan melibatkan 13 wartawan se-Indonesia sebagai peserta. (Bersambung)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis: Dwi Lindawati
Editor: Darmadi Sasongko








