JEMBER, Tugujatim.id – Situasi krisis bahan bakar di Jember memicu fenomena baru yang meresahkan warga setempat. Oknum tengkulak BBM di Jember diduga mengambil keuntungan dari kondisi sulit ini dengan menawarkan Pertalite dalam kemasan botol seharga Rp50.000.
Praktik jual beli dengan margin keuntungan tinggi ini menampilkan rentang harga beragam, dari Rp20.000 sampai Rp35.000 untuk wadah berukuran kecil. Keluhan masyarakat bermunculan di platform digital seperti Facebook dan TikTok.
“Kondisi tidak wajar dengan munculnya penjual dadakan yang mengantre pakai kendaraan, lalu dijual Rp30 ribu-Rp50 ribu per botol air,” ungkap pengguna akun Facebook bernama Naufa dan Kafa dikutip Tugujatim.id pada Rabu (30/07/2025).
Baca Juga: Stok BBM Jember Naik 2 Kali Lipat, Pertamina Puji Langkah Cepat Bupati Gus Fawait
Tidak lama, pernyataan tersebut direspons akun lainnya, yang merasakan resah dengan harga BBM yang naik.
“Benar bisa mencapai Rp30.000-an ya harganya,” timpal Berry Purnama di komunitas Facebook Info Warga Jember Official.
Selain itu, ada akun yang yang memperingatkan para pelaku kecurangan yang menganggap hal tersebut merupakan pemerasan.
“Boleh berdagang tapi secara wajar saja, kalau sampai Rp30.000 per liter itu sudah termasuk pemerasan,” kritik Jci Irianto Hatta.
Warga Minta Pengawasan Ketat Cegah Penyalahgunaan
Sejumlah warga berharap manajemen SPBU menerapkan pengawasan lebih ketat untuk mencegah penyalahgunaan oleh para spekulan. Kemunculan tengkulak BBM di Jember yang mendadak ini menjadi perbincangan hangat di grup Facebook tersebut.
“Sekarang bermunculan penjual bensin dadakan… catat nomor kendaraannya setiap mengisi,” saran Deby Feby.
Sementara itu, Pertamina terus mengintensifkan upaya penyaluran BBM menuju kawasan Jember. Sebanyak 86 unit kendaraan tangki dimobilisasi dari berbagai daerah termasuk Malang, Surabaya, dan Madiun.
Pertamina juga telah menyusun peta rute alternatif distribusi sejak pertengahan Juli 2025. Strategi ini diterapkan menyikapi penutupan akses Jalur Gumitir pada 24 Juli silam.
“Pertamina mengoperasikan rute Banyuwangi-Situbondo-Arak-Arak-Bondowoso-Jember,” papar Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Ahad Rahedi.
Menurut Ahad, Pertamina menjalin koordinasi dengan Satlantas dan Polres demi kelancaran proses distribusi.
“Waktu tempuh yang semula 4 jam menjadi 11 jam, sehingga kami mengalihkan suplai dari Surabaya dan Malang,” pungkas Ahad.
Kebijakan ini diambil untuk menghindari penundaan akibat kemacetan di area Pelabuhan Ketapang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








