Tentang Ceritamu dan Hariku yang Monokrom

Tentang Ceritamu dan Hariku yang Monokrom

  • Bagikan
Kehidupan ini seperti jalan bercabang./tugu jatim
Kehidupan ini seperti jalan bercabang. (Foto: Ardhito Pramono)

Oleh: Nur Rani*
Tugujatim.id – Banyak cerita yang kamu belum ceritakan kepadaku. Apa kamu terlalu sibuk? Atau terlalu banyak seperti lembaran novel yang sudah selesai kamu baca, tapi lupa kalau disuruh mereviewnya ulang.

Malam ini, bahkan kamu menatapku tidak seperti biasanya, yang penuh semangat. Tapi hanya diam dan tersenyum melihatku sesekali. Apa aku terlihat sangat menyedihkan dan hatimu iba? Jangan, tidak perlu. Aku sudah terbiasa dengan banyak hal yang mengajarkanku untuk terus menjadi badut.

Beberapa hari terakhir ini banyak hal yang aku lewatkan, bahkan aku sudah lupa sesedih apa waktu itu saat kehilangan harapan. Oh iya, hari-hariku sekarang monokrom. Berjalan tanpa arah bahkan aku sudah tak bisa melihat peta yang aku buat sendiri.

Semuanya melebur tak ada lagi senyum tawa lepas seperti biasanya. Sekarang mungkin aku semakin tahu bahwa tidak semua rencana yang ditulis akan dibaca atau diwujudkan. Tetapi bisa jadi batu lompatan untuk merasakan gagal dan terlupakan. Aku sudah banyak dipermainkan oleh pikiran dan rencanaku sendiri, sampai aku lupa menikmati rencana-rencana yang sudah tersedia.

Jika akhirnya hidup berjalan tanpa arah, tanpa tujuan dan sedikit rencana. Itu tidak sepenuhnya baik bahkan terkesan pasrah terhadap keadaan. Tapi, juga tidak sepenuhnya buruk karena jalan panjang selalu memiliki persimpangan yang akan membawa kemungkinan-kemungkinan lain.

Ada yang memutar jauh dari peta yang kita buat, ada pula yang tepat di seberang sana. Tapi ingat di setiap jalan pasti ada pemandangan dan pengalaman yang jauh lebih menyenangkan untuk diceritakan, daripada keberhasilan itu sendiri untuk mencapai tempat tujuan. Kejadian menyakitkan bahkan teringat lebih indah ketika kita mampu dan berhasil melewatinya.

Terkadang memilih perjalanan yang memutar arah karena terlalu jauh dengan penuh musik favorit tanpa mengatakan sumpah serapah terlihat lebih sempurna dibanding di seberang sana yang satu sampai sepuluh langkah sampai.

Kita semua bisa mengandalkan pikiran kita untuk akhirnya mengambil tindakan. Atau, memilih memutar arah dengan mengumpat sepanjang jalan bahwa menangis ketakutan karena tidak sampai-sampai pada tempat tujuan.

Begitulah cerita hidup. Tidak selamanya kita akan terus mengikuti tamplet yang orang lain miliki atau bahkan sudah menjadi budaya yang melekat. Kita bisa mengambil jalan lain mungkin lewati lembah, bukit, sungai tapi kita menikmati perjalanannya daripada kita lewat jalan kota yang katanya halus bahkan sudah beraspal (tetapi ya tidak semulus itu juga) tapi perasaan emosi dan marah-marah sepanjang perjalanan.

Malam ini terimakasih sudah mendengarkan ceritaku. Aku doakan semoga kamu (yang ada di cermin) akan kembali tersenyum dan berwarna seiring perjalanan panjang ini, dengan rasa syukur dan iklas yang melekat di hati. Sedikit mengutip kata-kata dari buku Filosofi Teras yaitu Amor fatilove of fate – mencintai takdir kalau kata anak muda sekarang “sudah tidak apa-apa”.

*Nur Rani adalah member Pondok Inspirasi. (Foto: Dokumen)
  • Bagikan