Tingkatkan Soft Skill, Tugu Media Group X Paragon Goes to Campus Ajak Mahasiswa UB Jadi Jurnalis Andal - Tugujatim.id

Tingkatkan Soft Skill, Tugu Media Group X Paragon Goes to Campus Ajak Mahasiswa UB Jadi Jurnalis Andal

  • Bagikan
Gigih Mazda, Redaktur sekaligus Korlip Tugujatim.id, saat menyampaikan materi jurnalistik dalam workshop peningkatan soft skill tentang jurnalistik dan fotografi yang digelar Tugu Media Group X Paragon Goes to Campus melalui virtual pada Sabtu (11/09/2021). (Foto: M. Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Gigih Mazda, Redaktur sekaligus Korlip Tugujatim.id, saat menyampaikan materi jurnalistik dalam workshop peningkatan soft skill tentang jurnalistik dan fotografi yang digelar Tugu Media Group X Paragon Goes to Campus melalui virtual pada Sabtu (11/09/2021). (Foto: M. Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Tugu Media Group berkolaborasi dengan PT Paragon Technology and Innovation sukses menggelar workshop peningkatan soft skill mahasiswa di bidang jurnalistik dan fotografi 2021. Tugu Media Group X Paragon Goes to Campus kali ini menyapa mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) Malang pada Sabtu (11/09/2021).

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UB Prof Dr Abdul Hakim melalui Staf Ahli Wakil Rektor III Ilhamuddin Nukman SPsi MA menyampaikan, kegiatan tersebut merupakan awal yang baik dalam memberikan pendampingan mahasiswa untuk menjadi jurnalis andal sehingga dapat membantu menyiarkan informasi positif kepada masyarakat.

“Sebagai bagian tanggung jawab untuk melatih dan mengembangkan kompetensi mahasiswa, kami menyampaikan apresiasi kepada Tugu Media Group dengan berita-beritanya yang berimbang serta mencerahkan masyarakat dalam memahami fenomena-fenomena yang ada,” tuturnya.

Staf Ahli Wakil Rektor III Ilhamuddin Nukman SPsi MA dalam workshop peningkatan soft skill tentang jurnalistik dan fotografi yang digelar Tugu Media Group X Paragon Goes to Campus melalui virtual pada Sabtu (11/09/2021). (Foto: M. Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Staf Ahli Wakil Rektor III Ilhamuddin Nukman SPsi MA dalam workshop peningkatan soft skill tentang jurnalistik dan fotografi yang digelar Tugu Media Group X Paragon Goes to Campus melalui virtual pada Sabtu (11/09/2021). (Foto: M. Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)

Menurut dia, dari berbagai informasi yang disajikan Tugu Media Group, pihaknya juga mendapatkan sisi-sisi baru untuk bisa dikembangkan di UB sebagai upaya dalam meningkatkan kompetensi mahasiswa.

“Dengan adanya kegiatan ini, kami selaku civitas UB, bersama Tugu Media Group dan Paragon diharapkan dapat melakukan kegiatan-kegiatan kolaboratif lanjutan dalam rangka mengembangkan kompetensi mahasiswa UB,” ucapnya.

Sementara itu, Gigih Mazda, Redaktur sekaligus Korlip Tugujatim.id, menyampaikan, perjuangan para tokoh bangsa tak hanya melalui pertempuran di medan perang. Namun, juga ada cara diplomatis melalui tulisan yang menjadi cikal bakal perkembangan pers di Indonesia.

“Salah satu di antaranya, Ki Hajar Dewantara dengan tulisan terkenalnya ‘Seandainya Aku Seorang Belanda’. Kemudian ada RA. Kartini melalui surat-suratnya yang diterbitkan di majalah-majalah berbahasa Belanda,” ucapnya.

Selain itu, juga ada tokoh Tirto Adhi Surjo yang merupakan Bapak Pers Indonesia kali pertama yang menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu terkait perjuangan propaganda dan orang-orang tertindas.

Dari para tokoh tersebutlah, perjalanan pers di Indonesia mulai berkembang hingga saat ini. Untuk itu generasi muda harus melanjutkan perjuangan mereka dalam menyuarakan kepentingan masyarakat, salah satunya melalui kabar berita.

Gigih menjelaskan, dalam menyusun berita harus melalui beberapa tahapan. Mulai wawancara dalam mengumpulkan data, menguji informasi, hingga menyajikan berita. Seorang jurnalis juga harus memiliki teknik-teknik dasar wawancara yang baik.

“Dalam melalukan wawancara, jurnalis harus menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber,” ucapnya.

Selain itu, direkomendasikan menyiapkan alat tulis untuk mencatat data-data yang akan dihimpun. Kemudian juga harus menyiapkan alat perekam sebagai bukti hasil wawancara. Jurnalis juga harus bisa memilih narasumber yang sesuai dan kompeten dalam bidangnya.

Sebuah berita harus dirangkai dengan baik, di mana informasi yang paling penting ditempatkan di paragraf pertama atau lead. Hal itu dilakukan agar pembaca terus tertarik membaca hingga akhir berita.

“Jadi, sebenarnya lead ini adalah rangkuman berita yang menggambarkan isi dan keseluruhan tubuh berita,” jelasnya.

Sementara itu, Bayu Eka, General Manager Tugujatim.id, menyampaikan materi tentang fotografi jurnalistik. Menurut Bayu, fotografi jurnalistik tidak jauh berbeda dengan karya tulis jurnalistik.

“Foto-foto jurnalistik yang dihasilkan melalui proses dengan maksud menyebarkan informasi, cerita suatu peristiwa melalui media massa. Foto-foto tersebut juga harus mengandung unsur 5W+1H dalam judul fotonya,” ujarnya.

Foto jurnalistik dibagi menjadi dua, yaitu foto single dan foto cerita. Di mana foto single hanya menampilkan 1 gambar, sementara foto cerita menampilkan beberapa gambar.

“Single foto mewakili sebuah peristiwa atau kejadian yang mengandung unsur 5W+1H. Misalnya foto ekspresi juara bulu tangkis yang menggambarkan perjuangannya selama pertandingan,” paparnya.

Bayu Eka, General Manager Tugujatim.id, saat menyampaikan materi fotografi dalam workshop peningkatan soft skill tentang jurnalistik dan fotografi yang digelar Tugu Media Group X Paragon Goes to Campus melalui virtual pada Sabtu (11/09/2021). (Foto: M. Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)
Bayu Eka, General Manager Tugujatim.id, saat menyampaikan materi fotografi dalam workshop peningkatan soft skill tentang jurnalistik dan fotografi yang digelar Tugu Media Group X Paragon Goes to Campus melalui virtual pada Sabtu (11/09/2021). (Foto: M. Sholeh/Tugu Malang/Tugu Jatim)

Sebuah foto jurnalistik juga harus memiliki caption informasi detail yang menggambarkan isi berita. Hal itu bertujuan agar pembaca bisa menangkap informasi dalam karya foto jurnalistik tersebut.

Sementara foto cerita minimal terdiri dari dua foto. Proses pengerjaannya juga memakan waktu lebih lama dari foto single karena bisa berhari-hari.

“Jadi, gak sehari dua hari karena kita juga butuh literasi. Misalnya foto cerita tentang sejarah Panji, maka saya harus mencari litetasi tentang kerajaan Majapahit dan lain-lainnya,” jelasnya.

Setelah mengumpulkan literasi, maka langkah selanjutnya adalah memunculkan ide untuk mengambil angle foto yang disesuaikan dengan fakta di lapangan. Jadi, foto cerita memang memerlukan waktu yang lebih lama sebelum dipublikasikan.

 

  • Bagikan