• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Hemat

Helmi,  Penulis Toyota, Islam dan Kehematan. Mahasiswa Doktoral Universitas Nurul Jadid Probolinggo dan dosen Ma’had Aly PP. Annur 2 Al-Murtadlo Malang. 

Toyota, Islam dan Kehematan

Darmadi Sasongko by Darmadi Sasongko
6 months ago
in Opini
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tugujatim.id – Tak bisa disangkal bahwa Islam mengajarkan hidup hemat, yang oleh Ahmad Sahidah dalam bukunya Falsafah Harian disebut dengan ‘kehematan’ (hlm. 171). Menurut Sahidah, kehematan berarti hidup dengan biaya murah; cukup dengan sedikit uang dan sedikit sumber daya (hlm. 172).

Dalam al-Qur’an misalnya, Allah menyinggung sikap kebalikan dari kehematan dengan dua istilah; israf dan tabdzir. Keduanya memiliki kesamaan makna; pemborosan atau tidak hemat. Meskipun, ada titik beda antara keduanya di mana israf adalah penggunaan sesuatu secara berlebihan dan melampaui batas meski pada hal yang mubah dan berguna seperti makan terlalu banyak.

You might also like

Gus Yahya.

Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?

30/05/2026 8:27 PM
Tasyakuran 50 tahun pernikahan

Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain, Penuh Kesan dan Menginspirasi

03/05/2026 7:42 PM

Sedangkan tabdzir adalah menghamburkan harta pada hal yang tidak bermanfaat, sia-sia dan haram meski jumlahnya hanya sedikit seperti mengeluarkan uang untuk maksiat.

Dalam QS. Al-A’raf ayat 31, Allah menegaskan bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang israf. Dan dalam QS. Al-Isra ayat 26-27, Dia melarang umat manusia berperilaku tabdzir dan menyematkan status “ikhwan al-syayathin” (teman setan) bagi pelakunya. Dua ayat ini sudah cukup sebagai dalil betapa tercelanya perilaku boros.

Selain itu, Nabi dalam keseharian juga mengajarkan dan menjadi teladan dalam kehematan. Kehidupan Nabi bersama keluarganya adalah cerminan hidup penuh kehematan, tidak boros dan berlebih, bahkan cenderung kekurangan. Terhadap sahabatnya, Nabi mengajarkan kehematan.

Beliau melihat Sa’ad menggunakan air saat berwudlu secara berlebihan. Nabi menegurnya: Kenapa boros wahai Sa’ad? Sa’ad menyanggah: Masak berwudlu seperti ini dikatakan boros? Nabi menimpalinya: iya, meskipun kamu (sedang berwudlu) di sungai yang mengalir (HR. Ibnu Majah dan al-Baihaqi).

Pesan moralnya jelas bahwa sesuatu yang baik bisa berubah menjadi buruk, jika melampuai batas kebutuhan. Ini yang jarang disadari oleh kebanyakan umat Islam.

Namun, di sisi lain terdapat kenyataan pahit bahwa kebanyakan umat Islam justru menampilkan dan mempraktikkan perilaku boros. Gaya hidup boros dan konsumtif semakin menonjol dalam masyarakat muslim di era digital ini, terutama ketika dipicu oleh dua faktor utama, yaitu budaya gengsi dan pengaruh media sosial.

Gengsi menyeret seseorang untuk membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan karena ingin dianggap modern dan mapan. Ingin validasi, demikian gen-Z menyebutnya. Platform media sosial semakin memperparah gengsi tersebut. Ia menjadi ruang pamer gaya hidup dan berburu validasi; makanan mahal, liburan mewah, gadget terbaru, pakaian mahal, dan sebagainya yang dikira sebagai “simbol kesuksesan”.

Dampaknya, banyak orang memaksakan diri mengkonsumsi dan membeli di luar batas kemampuannya, bahkan sampai mengorbankan kewajiban finansial yang lebih prioritas.

Dalam hal yang lebih mikro, perilaku boros tanpa disadari juga telah melekat dalam setiap sendi kehidupan kita. Dalam kehidupan rumah tangga, makanan terbuang percuma, air dibiarkan mengalir begitu saja saat berwudlu, mandi, mencuci pakaian atau piring dan sebagainya.

Listrik menyala sepanjang hari meski tidak digunakan. Televisi, gawai, dan hiburan digital lebih menyita waktu daripada kegiatan positif seperti ibadah, membaca dan lain sebagainya. Semua ini perilaku boros yang seolah sudah menyatu dengan kehidupan kita.

Guru kami, almarhum Kiai Haji Muhammad Badruddin Anwar, pendiri Pondok Pesantren Annur 2 Al-Murtadlo Malang, setiap pagi jam 05.30 WIB keliling pesantren untuk mengontrol kegiatan roan (kerja bakti untuk kebersihan).

Jika melihat lampu di teras asrama tidak dimatikan, beliau akan menegur pengurus dan santri di asrama tersebut. Pun juga saat melihat lampu menyala di jeding sementara tak ada orang di dalamnya, beliau akan menyuruh kami mematikan lampu tersebut.

Bukankah di rumah kita kerap abai terkait hemat energi ini? Aktifitas makan juga tak luput dari perhatian beliau. Sering kali kami sebagai santri makan dan menyisakan makanan di piring kami. Beliau akan menegur kami dan tak bosan mengingatkan kami agar mengambil nasi secukupnya saja agar tidak terbuang sia-sia, tak menjadi teman setan.

Pertanyaan paling basic adalah apa yang sebenarnya menjadi akar kesenjangan antara prinsip dan praktik tersebut? Setidaknya ada beberapa faktor; pertama materi yang disampaikan para kiai/da’i/khatib terlalu abstrak sehingga umat Islam yang kebanyakan awam tidak bisa menangkap pesan dengan baik dan mempraktikkan dalam kehidupan keseharian. Hanya berisi anjuran menjadi orang shaleh, tanpa dirinci bagaimana caranya dan aplikasinya dalam kehidupan. Hanya berisi anjuran bersikap jujur, tanpa didetailkan praktiknya dalam segala sendi kehidupan.

Suatu saat saya pernah bertanya kepada kedua anak cowok saya, Abdur Rosyid dan Ahmad Hasan usai mendengarkan khutbah Jum’at di suatu masjid Jami’; bagaimana isi khutbahnya, nak? Terlalu abtsrak yah, demikian jawaban dua anak yang masih duduk di kelas 5 dan 4 Madrasah Ibtidaiyah itu.

Dalam hal ini, kita perlu belajar kepada Toyota dengan sistem produksinya. Taiichi Ono yang bekerja untuk Toyota berusaha mendetailkan “kehematan” dalam manufaktur secara teknis. Ada tujuh jenis pemborosan yang terjadi dalam proses manufaktur maupun jasa; transportasi, inventori, gerakan, menunggu, proses berlebihan, produksi berlebih, dan barang rusak. Tujuh hal ini berusahan dihindari dengan petunjuk yang lebih teknis untuk para karyawan Toyota.

Kedua, dakwah hanya bersifat repititif, pengulangan atas suatu tema yang kata anak saya “abstrak” tadi. Saya kerap mengkritik takmir masjid dan panitia Majelis Shalawat karena mereka “malas” untuk menyusun kurikulum yang harus disampaikan oleh khatib atau da’i yang diundangnya. Mengapa? Karena tanpa kurikulum atau daftar tema materi, khatib dan da’i hanya akan mengulangi materi yang sudah disampaikan oleh da’i dan khatib sebelumnya.

Pernah saya diundang ceramah oleh seorang kiai yang memiliki Majlis Shalawat yang se-almamater dengan saya. Awalnya saya menolak karena sudah tiga tahunan saya memilih jalur “mengkader calon ulama”, mengaji bersama santri dan mahasiswa ketimbang berdakwah dari satu panggung ke panggung lainnya sebagaimana yang telah saya lakukan sejak awal 2015-an. Namun, akhirnya saya menyetujui undangan kiai tersebut sebab beliau nyeletuk: saya agak kecewa dengan “da’i dari kalangan tertentu” karena selama setahun materi yang disampaikan hanya tentang keutamaan shalawat saja, hanya pengulangan. Dia berharap, dengan mengundang saya sebagai penceramah ada nuansa baru bagi umatnya.

Jadi, takmir masjid harus menyusun tema selama setahun yang harus disampaikan oleh para khatib agar tak berisi pengulangan saja. Pun, juga panitia Majelis Shalawat yang 40 malam mengadakan shalawatan dan pengajian di bulan Maulid. Mereka harus berani “memaksa” para dai untuk menyampaikan materi pengajian sesuai tema yang sudah ditentukan dan disusun oleh panitia selama 40 malam. Dengan demikian, setidaknya umat semakin luas wawasannya dan semakin memahami agamanya.

Ketiga, para da’i hanya berusaha memenuhi keinginan umat, bukan kebutuhan mereka. Dalam dakwah, mereka hanya berusaha melucu karena itu yang diinginkan oleh umat. Keempat, semakin minim teladan dari para dai dan tokoh agama. Kita bisa menyaksikan betapa seorang dai memiliki 4 sampai 7 mobil, padahal di rumah dia hanya bersama satu isteri dan dua anaknya. Bagaimana mungkin umat bisa melakukan kehematan, jika yang bertausiyah tentang kehematan seperti itu? Wallahu a’lam.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

 

Penulis: Helmi, Mahasiswa Doktoral Universitas Nurul Jadid Probolinggo dan dosen Ma’had Aly PP. Annur 2 Al-Murtadlo Malang. 

 

Editor: Darmadi Sasongko

 

Tags: Artikel OpiniMa’had Aly PP. Annur 2 Al-Murtadlo MalangPenulis OpiniUniversitas Nurul Jadid Probolinggo
Darmadi Sasongko

Darmadi Sasongko

Related Stories

Gus Yahya.

Menakar Dua Periode Gus Yahya: Mungkinkah?

by Dwi Linda
30/05/2026 8:27 PM
0

Oleh: Abdur Rahim** Tugujatim.id - Kepemimpinan di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sedang berada di persimpangan yang tidak mudah. Ketegangan...

Tasyakuran 50 tahun pernikahan

Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain, Penuh Kesan dan Menginspirasi

by Mochamad Abdurrochim
03/05/2026 7:42 PM
0

JAKARTA, Tugujatim.id – Tasyakuran 50 tahun pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain berlangsung penuh kesan, syukur, dan inspirasi di Hotel...

Taiwan

Di Antara Kepentingan dan Persepsi: Tantangan Indonesia dalam Menyikapi Isu Taiwan

by Darmadi Sasongko
30/04/2026 6:35 PM
0

Arief Putra Wijaya, Alumni Universitas Indonesia - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Penulis juga seorang Pengamat Politik dan Hubungan...

AHWA.

Menimbang Pelembagaan AHWA sebagai Otoritas Kepemimpinan NU

by Dwi Linda
14/04/2026 7:52 PM
0

Oleh: Abdur Rahim (Warga NU; tinggal di Desa Simo, Tuban)   TUBAN, Tugujatim.id - Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan...

Next Post
Jaringan Air Sumber Darmi

4.000 KK di Kota Batu Darurat Air Bersih buntut Kerusakan Jaringan Air Sumber Darmi

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID