SURABAYA, Tugujatim.id – Tri Jaka Setiyo, mahasiswa Tuli Universitas Negeri Surabaya (Unesa), ini akhirnya lulus setelah menjalani masa kuliah selama 4,2 tahun lamanya.
Tri Jaka Setiyo lulus dari program pendidikan (Prodi) S-1 Pendidikan Jasmani dan Rekreasi (PJKR) Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) di Unesa, Lidah Wetan Surabaya.
Selama 4,2 tahun memang bukanlah waktu yang cepat. Tapi, dia berhasil membuktikan bahwa disabilitas Tuli juga mampu menyelesaikan pendidikannya di tingkat kuliah dengan baik. Kuncinya, belajar dengan hati.
“Meski tantangan di sana-sini, tetapi saya harus menjalaninya sepenuh hati, dan akhirnya bisa lulus,” kata Tri Jaka pada Senin (21/10/2024).
Mahasiswa angkatan 2020 ini akhirnya lega. Bukan hanya kerja kerasnya, keberhasilan ini tentu saja berkat doa-doa orang yang selalu mendukungnya.
Baca Juga: Lima Langkah Membentuk dan Mempertahankan Kebiasaan Baru versi James Clear
“Terima kasih saya ucapkan kepada orang tua, para pembimbing, dosen, dan teman-teman yang selama ini mendukung,” tuturnya.
Perjuangannya menyelesaikan studi S-1 ini juga mendapat apresiasi dari dosen dan koorprodi. Bagi pendidik, disabilitas Tuli seperti Tri Jaka mampu menunjukkan catatan akademik yang bagus. Bahkan, dia dikenal sebagai mahasiswa yang tekun selama perkuliahan.
“Keterbatasan ini tidak menghalangi Jaka untuk mengikuti perkuliahan secara aktif,” kata Koorprodi S-1 PJKR Mochamad Ridwan.
Ridwan juga memberikan dua jempol untuk Tri Jaka. Dengan keterbatasan yang dia miliki, Tri Jaka tidak menyerah meski di banyak kesempatan dia tidak bisa terlalu mendengarkan atau mencerna materi yang disampaikan dosen.
Agar menerima materi dengan baik, Tri Jaka kerap meminta penjelasan ulang secara perlahan kepada dosennya setiap akhir sesi perkuliahan. Para dosen pun tidak keberatan akan hal itu.
“Kelasnya mereka itu kan isinya 40 mahasiswa. Jaka tidak menghadapi kendala besar. Penyesuaian yang dilakukan hanyalah pada metode penyampaian materi oleh dosen yang diberikan sedikit berbeda dibandingkan dengan mahasiswa pada umumnya,” terang Ridwan.
Begitu pun ketika proses penyelesaian tugas akhir. Tri Jaka kerap mengunjungi ruang koordinator program studi (koorprodi) untuk meminta bimbingan teknis terkait perkuliahan. Karena itu, Ridwan berharap perjuangan Tri Jaka bisa menginspirasi mahasiswa lain terlebih kawan disabilitas agar bersemangat menempuh pendidikan setinggi-tingginya.
“Mahasiswa lain harus bisa mengambil nilai positif dan pelajaran berharga dari Jaka. Bagi mahasiswa normal, kembangkanlah dan memanfaatkan potensi yang ada agar kehidupan lebih bermakna,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Izzatun Najibah
Editor: Dwi Lindawati








