Tut Wuri Handayani dan Kemandirian Belajar - Tugujatim.id

Tut Wuri Handayani dan Kemandirian Belajar

  • Bagikan
Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan nasional yang hari lahirnya sekaligus diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, yaitu 2 Mei. (Foto: Wikimedia Commons)
Ki Hajar Dewantara, tokoh pendidikan nasional yang hari lahirnya sekaligus diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, yaitu 2 Mei. (Foto: Wikimedia Commons)

Oleh: Endah Tri Priyatni, Pusat Pendidikan, LP2M UM

 

Ing ngarsa sung tuladha

Ing madya mangun karsa

Tut wuri handayani

(Ki Hajar Dewantara)

Tugujatim.id – Setiap 2 Mei bangsa Indonesia memperingati hari Pendidikan Nasional. Tanggal tersebut bertepatan dengan hari kelahiran Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, yaitu 2 Mei 1889.

Peringatan ini sebagai salah satu bentuk apresiasi bangsa Indonesia kepada guru bangsa, Ki Hajar Dewantara, yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan rakyat Indonesia, menumbuhkan kesadaran kepada rakyat tetang pentingnya pendidikan, dan juga telah berjuang membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan.

Anak laki-laki yang lahir dari keturunan bangsawan, putra dari GPH Soerjaningrat, dan cucu dari Pakualam III, dengan sengaja membuang gelar kebangsawanannya dan mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara (Ejaan Bahasa Indonesia) sejak tahun 1922, agar beliau bisa dekat dengan rakyat.

Kiprahnya di bidang sosial politik, membuatnya ditangkap dan diasingkan ke negeri Belanda. Ketika dalam pengasingan itulah beliau mendalami ilmu pendidikan yang kelak ilmunya digunakan untuk merintis perjuangan memajukan rakyat Indonesia melalui pendidikan dan mengantarkannya mengembangkan sistem pendidikan sendiri yang sangat terkenal, yaitu Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut wuri handayani.

Buah pikirannya yang sangat filosofis tersebut tak lekang oleh zaman, pemikirannya memiliki relevansi dan tetap sejalan dengan budaya, karakter bangsa, serta perkembangan zaman.

Istilah “Merdeka Belajar” yang saat ini menggema di mana-mana, menjadi perbicangan di berbagai ranah publik, dibahas di berbagai seminar, dan menjadi program utama Kemdikbud untuk melakukan transformasi pendidikan guna meningkatkan mutu pendidikan, sebenarnya bukanlah istilah baru. Bapak pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, telah mengumandangkannya dalam bukunya yang berjudul Menuju Manusia Merdeka, yang di dalamnya sudah mengupas tentang pentingnya sikap merdeka dan pendidikan merdeka.

Ki Hadjar Dewantara mengajarkan semangat dan cara mendidik anak Indonesia untuk menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka pikirnya, dan merdeka raga/fisiknya. Filosofi inilah yang menjadi akar Merdeka Belajar yang dicanangkan Kemendikbud saat ini.

Kita tampaknya belum sepenuhnya memahami dan memanfaatkan buah pikiran guru bangsa tersebut.

Salah satu buah pemikirannya terkait dengan cara mendidik anak Indonesia, yaitu Tut wuri handayani, sejalan dengan salah satu tujuan merdeka belajar, yaitu menumbuhkan kemandirian belajar.

Kemandirian belajar adalah sebuah proses

Sebagai sebuah proses, kemandirian belajar adalah sebuah proses pemerolehan pengetahuan, pengalaman belajar, yang memungkinkan pembelajar lebih banyak mengarahkan diri sendiri dalam menentukan apa yang dipelajari dan dengan cara apa ia memelajarinya.

Bagaimana peran guru dalam menumbuhkan kemandirian belajar? Selaras dengan falsafah Tut wuri handayani, buah pikiran Ki Hajar Dewantara, yaitu guru/pendidik di belakang memberikan dorongan.

Guru sebagai fasilitator, mentor, pelatih, dan pembimbing. Peran utamanya adalah memfasilitasi pembelajar dengan beragam sumber belajar dan materi pembelajaran yang dapat diakses oleh siswa atau siswa dapat mengakses dengan caranya sendiri.

Sebagai mentor, guru memberikan motivasi, semangat, arahan-arahan untuk membangun sikap positif, menumbuhkan karakter pantang menyerah, disiplin, dan sikap gotong royong.

Sebagai pelatih, guru tidak hanya mengamati para pembelajar berlatih, menemukan pengalaman baru dengan cara dan kecepatannya masing-masing, namun juga menggali potensi mereka supaya lebih terasah, terampil, dan kompeten untuk mencapai satu tujuan, yaitu sumber daya manusia yang unggul.

Sebagai pelatih, guru berkewajiban mendorong pembelajar menemukan pemikiran kritis, kreatif, dan inovatif dengan caranya sendiri dan sesuai dengan kecepatannya. Ini penting dilakukan agar kemandirian belajar tetap menjadi tujuan utama dan siswa bertanggung jawab dalam mencapai tujuannya.

Sebagai pembimbing, guru bekerja sama dengan pembelajar mengarahkan jika siswa mengalami kesulitan, memfasilitasi untuk memberikan kata-kata kunci agar pembelajar secara mandiri tetap menemukan solusi permasalahan dengan caranya. Prinsip saling asah, asih, dan asuh dikedepankan dalam perannya sebagai pembimbing tanpa melupakan aspek kemandirian siswa sebagai penentu strateginya.

Sebagai pembimbing, guru juga berkewajiban memberikan umpan balik tentang kemajuan mereka dan membantu pembelajar memahami potensi yang mereka miliki.

Apa sebenarnya kehebatan pembelajar mandiri?

Pembelajaran mandiri akan menghasilkan pelajar mandiri. Pelajar mandiri memiliki beragam kompetensi  yang akan membantu mereka berkiprah menyelesaikan permasalahan dirinya sendiri atau permasalahan di masyarakat.

Pelajar mandiri memiliki kemampuan untuk mengakses, memilih, mengevaluasi dan memanfaatkan informasi, pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya untuk memecahkan beragam permasalahan yang dihadapi baik selama dalam pendidikan maupun ketika mereka hidup di masyarakat.

Pelajar mandiri yang telah terbiasa mnemukan materi/sumber belajar yang berguna bagi dirinya dan mampu menentukan sendiri strategi untuk memanfaatkannya, akan dapat menyebarkan dan mengomunikasi informasi, pengetahuan, atau keterampilan yang dimilikinya secara efektif menggunakan beragam variasi media.

Dia dapat mengatur dengan siapa ia bekerja sama, dengan siapa ia mendesiminasikan temuannya, dan dengan cara yang seperti apa ia akan mengomunikasikannya.

Apa bentuk-bentuk  aktivitas untuk menumbuhkan kemandirian belajar?

Menemukan, mengakses, dan mengumpulkan informasi adalah aktivitas penting untuk menumbuhkan kemandirian belajar. Setelah itu, dapat dilanjutkan dengan aktivitas membuat keputusan tentang apa yang akan dipelajari, kapan dilakukan, bagaimana cara pencapaiannya, dengan media apa, serta bagaimana cara mengomunikasikan hasilnya.

Bagaimana mempromosikan pembelajaran mandiri?

Pembelajaran mandiri, seperti yang telah tertuang dalam salah satu sistem pendidikan yang digagas Bapak Pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara, harus terus dikumandangkan dan dipromosikan sebagai salah satu cara untuk mewujudkan tujuan merdeka belajar, yaitu mencetak generasi unggul.

Caranya dengan memberi kesempatan kepada pembelajar untuk menentukan pilihan terkait dengan minat dan passionnya. Memberi kesempatan pembelajar untuk merefleksi semua pilihan dan capaiannya. Mendorong tumbuhnya sikap gotong royong dan berkolaborasi, melibatkan siswa dalam perencanaan pembelajaran, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.

Marilah di hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2021 ini kita terus pahami dan gali ajaran-ajaran luhur Ki Hajar Dewantara, seorang filosof sejati yang buah pikiran beliau menjadi titik awal dicetuskannya Program Merdeka Belajar.

Program yang digadang-gadang dapat menjadi jalan untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) unggul dan berkarakter.

Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2021. Mari mendidik untuk menumbuhkan kemandirian belajar!

Endah Tri Priyatni, Pusat Pendidikan, LP2M UM. (Foto: Dokumen)
Endah Tri Priyatni (Foto: Dokumen)

Endah Tri Priyatni
Pusat Pendidikan, LP2M Universitas Negeri Malang

  • Bagikan