• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Stasiun Malang

Skybridge pintu timur Stasiun Malang Kota Baru yang estetik. (Foto: Dwi Lindawati/Tugu Jatim)

Nikmati Vibes ‘Bandara’ Stasiun Malang, Naik KA Jayabaya Lewati Skybridge Estetik (2)

Darmadi Sasongko by Darmadi Sasongko
11 months ago
in Catatan, Featured
0
Share on FacebookShare on Twitter

MALANG, Tugujatim.id – Suasana Stasiun Malang Kota Baru tampak lengang. Saya tiba dari pintu barat Jalan Trunojoyo, Kiduldalem, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Kamis (28/08/2025) pukul 11.59 WIB.

Kali ini, saya akan menempuh perjalanan jarak jauh, 840 Kilometer dengan waktu tempuh sekitar 12 jam menggunakan KA Jayabaya menuju Jakarta.

You might also like

Surya.

Membaca Eksistensi Estetis dan Spiritual dalam 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976–2026)

20/07/2026 4:35 PM
Muktamar

Siapakah Kuda Hitam Muktamar NU ke-35 di Jombang?

14/07/2026 2:15 PM

Usai petugas mengecek tiket, saya langsung menanyakan jasa porter untuk membawa koper. Bukan karena manja atau tidak mandiri, saya sengaja ingin menjajal langsung fasilitas khusus difabel. Apakah Stasiun Malang sudah ramah terhadap difabel, seperti saya?

Oh ya, saya Dwi Lindawati seorang jurnalis difabel. Catatan perjalanan saya ini atas undangan kegiatan perdana kick-off Journalism Fellowship on CSR (JFC) Batch II 2025 di Rumah Belajar TBIG Karawaci, Tangerang, Banten, Jakarta. Tentu, saya menjadi salah satu yang beruntung mendapatkan undangan ini setelah melalui seleksi bertahap dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

JFC sendiri ialah kegiatan pelatihan jurnalistik Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) berkolaborasi dengan Tower Bersama Infrastucture (TBIG).

Stasiun Malang 1
Dwi Lindawati, jurnalis Tugujatim.id saat berada di Stasiun Malang Kota Baru pintu timur. (Foto: dok)

Petugas stasiun pun bergegas mencarikan porter. Sementara saya dipersilakan masuk ke dalam stasiun dan menunggu di kursi yang berjajar di sana.

Berbeda dari tiga tahun lalu atau tepatnya terakhir kali ke Stasiun Malang pada 31 Agustus 2022. Saat itu, suasana stasiun lumayan penuh penumpang berlalu lalang membawa barang bawakan hingga crowded-nya aktivitas para petugas.

Tapi, suasana berbeda justru saya temui kali ini. Begitu memasuki stasiun, hanya beberapa penumpang yang menunggu di kursi. Bisa dihitung dengan jari, sekira 25 orang. Selebihnya, ada petugas KA hingga penjaga tempat kuliner yang bisa menjadi jujukan penumpang saat merasa lapar atau ingin ngemil.

Kalau bisa dibilang, perwajahan Stasiun Malang Kota Baru saat ini sudah berubah vibes-nya serasa di bandara. Lebih nyaman, kekinian, tenang, dan longgar. Padahal, saya melakukan perjalanan di hari efektif.

Saat menikmati suasana yang nyaman, tidak lupa memberikan kabar kepada ibu saya, Heri Purwati (63) agar beliau tidak khawatir. “Bu, saya sudah sampai di stasiun,” tulis saya lewat pesan singkat WA kepada ibu.

Beberapa menit kemudian, ibu pun memberikan balasan. Meski saat berangkat beliau mendoakan saya, tapi kali ini doa kembali ditujukan.

“Iya, hati-hati, Lin. Semoga dimudahkan dan dilancarkan urusannya. Aamiin. Kalau pas di kereta juga hati-hati menaruh barang, waspada juga ada beberapa kasus copet atau pencuri di dalam kereta,” balas ibu.

Penumpang Bisa Gunakan Fasilitas Travelator

WA saya akhirnya terhenti usai membalas pesan dari ibu. Seorang pria menghampiri dan menawarkan jasa porter.

“Mbak, butuh jasa porter ya tadi? Naik kereta apa dan gerbong berapa,” ujar seorang porter yang saya lupa mengingat namanya, tapi penampilannya rapi dengan berseragam batik kombinasi dominan bernuansa biru muda bertuliskan “Porter Stasiun Malang”.

Saya mengiyakan dan menjawab singkat naik KA Jayabaya eksekutif gerbong 4/seat 1B. Saya juga bertanya berapa jasa yang harus dibayar, dia pun menimpali.

“Biasanya Rp25 ribu. Baik, Mbak tunggu di sini dulu saja karena keretanya juga belum datang. Atau Mbak ingin ke ruang tunggu di pintu timur agar lebih nyaman?” ujarnya menawarkan.

Stasiun Malang
Travelator yang bisa digunakan penumpang di Stasiun Malang Kota Baru. (Foto: Tangkapan layar IG @stasiunmalang)

Lagi-lagi saya berpikir menjaga kondisi agar tidak berjalan jauh. Saya memutuskan untuk tetap menunggu di ruang tunggu pintu barat sambil menikmati suasana tenang di sana.

“Mbak saya pamit dulu sebentar, akan kembali lagi nanti ketika kereta sudah datang ya,” ujarnya dengan ramah.

Saya mengiyakan. Porter itu berlalu dari pandangan. Jarak 45 menit, porter lain datang menghampiri. Dia menyampaikan bahwa porter sebelumnya sedang melayani penumpang lain. Dia yang menggantikannya.

“Mbak, kita ke atas menuju ruang tunggu pintu timur ya, karena kereta akan segera datang,” ujar porter kedua yang mendampingi saya.

Dengan sigap, koper biru dan tote bag abu-abu langsung dibawa. Dia berjalan di depan sambil menunjukkan jalan. Saya harus berjalan sepanjang kurang lebih 240 meteran. Tapi, bagi saya 240 meter sama halnya 480 meter. Sebab, nondifabel berjalan selangkah, tapi dua langkah bagi difabel seperti saya.

Pemandangan berbeda tampak setelah berjalan beberapa meter, ada fasilitas baru di stasiun mirip eskalator namun bergerak datar (horizontal) yang disebut travelator atau moving walkway.

Bentuknya datar dan bergerak dengan kemiringan sangat landai, bukan seperti eskalator biasa yang curam. Fungsinya untuk memudahkan perpindahan orang dalam jarak yang cukup jauh, sering digunakan di bandara, mal besar, atau pusat perbelanjaan. Travelator bekerja menggunakan mekanisme conveyor belt yang bergerak lambat.

Saya pun mudah naik ke skybridge memakai travelator karena tidak membawa barang berat, hanya tas ransel kecil di punggung. Salah satu fasilitas di Stasiun Malang Kota Baru ini memang memudahkan penumpang membawa barangnya.

Tapi, menurut saya, jika ragam difabel lainnya seperti difabel netra, difabel daksa pengguna kursi roda, difabel daksa pengguna kruk, sepertinya agak susah untuk menggunakannya tanpa ada pendamping atau petugas yang berjaga untuk membantu. Sebab, butuh keseimbangan dan pegangan yang kuat agar tidak terjatuh. Apalagi tidak semua penumpang berminat menggunakan jasa porter.

Fasilitas terbaru ini memang memudahkan penumpang umum agar tidak terlalu lama berjalan jauh. Tapi, kalau untuk difabel yang menggunakanannya dirasa masih kurang akses. Semoga Stasiun Malang Kota Baru menyediakan fasilitas lift yang lebih aman untuk difabel tanpa memakai travelator. Itu menurut hemat saya mewakili difabel menggunakan fasilitas di stasiun.

Penumpang Disuguhi View Estetik di Skybridge

Melewati travelator, saya berjalan di skybridge estetik menuju ruang tunggu yang menghubungkan gedung stasiun baru dan lama di bagian barat. Gedung baru stasiun ini berkonsep modern dan artistik sehingga membuat penumpang nyaman.

Area gedung baru di Jl Panglima Sudirman, Kiduldalem, Klojen, ini dikhususkan untuk perjalanan jarak jauh. Kapasitasnya lebih besar dibandingkan gedung lama di sisi barat hingga bisa menampung 2.500 penumpang.

Stasiun Malang
Ruang menyusui, toilet difabel, dan guiding block yang tersedia di Stasiun Malang Kota Baru. (Foto: Dwi Lindawati/Tugu Jatim)

Fasilitasnya juga lebih lengkap. Mulai dari area parkir luas yang tertata rapi, area drop out penumpang yang luas, minimarket, ruang kesehatan, dan toko oleh-oleh.

Area tunggunya juga lebih nyaman dari sebelumnya karena memiliki area luas, bersih, dan dilengkapi dengan banyak kursi. Selain itu, ada fasilitas ruang menyusui, tempat isi ulang air, kursi roda, guiding block, toilet umum, toilet khusus difabel, hingga area bermain anak.

Saya pun sempat menjajal ruang tunggu di pintu timur meski tidak terlalu lama, hanya 30 menit. Ruangannya cukup luas dan nyaman. Selain itu, saya sempat ke toilet khusus difabel yang aksesibel dan nyaman. Difabel pengguna kursi roda pun tidak perlu khawatir, karena pintu toilet lebih lebar dari pintu toilet pengguna umum sehingga nyaman saat digunakan.

Kereta KA Jayabaya pun datang, saya bergegas menuju peron dengan melewati travelator di gedung baru. Porter pun mengantarkan saya hingga ke dalam kereta. Kebetulan memasuki gerbong 4, saya tinggal melangkahkan kaki tanpa harus menaiki tangga. Sejauh ini menurut saya sudah banyak perubahan meski memang harapannya KAI terus berbenah, khususnya menyediakan fasilitas-fasilitas memadai dan akses untuk difabel ke depannya.

Stasiun Malang
Skybridge estetik jadi penghubung gedung baru di timur dan gedung lama di barat Stasiun Malang Kota Baru, Kamis (28/08/2025). (Foto: Dwi Lindawati/Tugu Jatim)

Untuk diketahui, perjalanan dan pengalaman saya ke Jakarta menggunakan KA Jayabaya kali ini berkat program Journalism Fellowship on CSR 2025 atau JFC 2025 Batch 2 bermitra dengan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), perusahaan penyediaan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Perusahaan ini bergerak untuk menyewakan menara telekomunikasi, penyediaan sistem sinyal nirkabel seperti distributed antenna system (DAS), dan lain-lainnya.

Direktur Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) Nurcholis MA Basyari menyampaikan isu CSR bersama TBIG ini menjadi bagian pelatihan karena memiliki kepentingan yang sama yaitu menyebar gerakan kebaikan. Hal ini sesuai tagline yang disampaikan Chief of Business Support Offcer PT Tower Bersama Infrastrucutre Group (TBIG) Lie Sie An maju “Bersama untuk Indonesia”.

Kick off JFC Batch 2 berlangsung di Rumah Belajar Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), Jl Boulevard Kawasan Sudirman, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, Banten, Jakarta, Jumat (29/08/2025). JFC berlangsung selama sebulan mulai 1 September-8 Oktober 2025 dengan melibatkan 13 wartawan se-Indonesia sebagai peserta. (Bersambung)

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

 

Penulis: Dwi Lindawati

Editor: Darmadi Sasongko

Tags: DisabelitasGerakan Wartawan Peduli PendidikanHumas KAI DAOPHumas KAI Daop 8 SurabayaJFC Batch II 2025KAPT KAI
Darmadi Sasongko

Darmadi Sasongko

Related Stories

Surya.

Membaca Eksistensi Estetis dan Spiritual dalam 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976–2026)

by Dwi Linda
20/07/2026 4:35 PM
0

Oleh: Narudin Pituin Tugujatim.id - Saya menguji dan meneliti buku berjudul 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976–2026) melalui...

Muktamar

Siapakah Kuda Hitam Muktamar NU ke-35 di Jombang?

by Mochamad Abdurrochim
14/07/2026 2:15 PM
0

Oleh: Abdur Rahim** Tugujatim.id - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, semakin dekat. Momentum krusial ini...

Muktamar.

Mengapa Tambakberas Menjadi Pilihan untuk Muktamar Ke-35 NU?

by Dwi Linda
08/07/2026 8:34 AM
0

Oleh: Abdur Rahim* Tugujatim.id - Setelah melalui proses seleksi panjang yang melibatkan sembilan pondok pesantren di lima provinsi, Pengurus Besar...

Teras Semeru.

Mengenal Muhammad Syafi’i, Santri Sukses Berdayakan Warga Kampung berkat Rumah Makan Teras Semeru Lumajang yang Viral

by Dwi Linda
06/07/2026 5:13 PM
0

LUMAJANG, Tugujatim.id – Di balik meroketnya angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Kabupaten Lumajang selama libur Lebaran 2026, ada satu...

Next Post
Bapenda Kabupaten Malang

Bapenda Kabupaten Malang Berikan Apresiasi 75 Laptop ke Pemdes untuk Optimalisasi Pajak

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID