• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Rosita Istiawan

Sosok Rosita Istiawan. Foto / tangkapan layar

Viral Cerita Rosita Istiawan Bangun Hutan Organik Megamendung di Tengah Krisis Ekologi

Darmadi Sasongko by Darmadi Sasongko
7 months ago
in Featured
0
Share on FacebookShare on Twitter

Tugujatim.id – Di tengah krisis ekologi hingga bencana alam yang menimpa Sumatera Barat-Aceh, cerita seorang perempuan bernama Rosita Istiawan, tokoh inspiratif yang melawan kerusakan hutan kembali ramai diperbincangkan.

Rosita Istiawan adalah tokoh inspiratif di balik Hutan Organik Megamendung, sebuah hutan seluas 30 hektar yang ia bangun dari nol di lahan kritis di Megamendung, Bogor.

You might also like

Teras Semeru.

Mengenal Muhammad Syafi’i, Santri Sukses Berdayakan Warga Kampung berkat Rumah Makan Teras Semeru Lumajang yang Viral

06/07/2026 5:13 PM
Blitar

Kisah Anak Buruh Setrika di Kota Blitar Menjemput Asa Lewat Sekolah Rakyat

26/06/2026 10:54 PM

Ia membangun hutan organik itu, selama lebih dari 20 tahun. Mengubah tanah tandus menjadi laboratorium alam yang hijau, sumber air, dan pusat edukasi lingkungan yang kini menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati dan menginspirasi gerakan pelestarian alam di Indonesia.

Menurut Forest Watch Indonesia (FWI), perjalanan Rosita membawa mimpi menghidupkan hutan, dimulai pada tahun 2001. Rosita bercerita bahwa suaminya, Bambang, memiliki keinginan untuk tinggal di hutan. Jawaban Rosita saat itu sederhana namun sarat tekad:

“Kalau hutan sudah tidak ada, ya ayo bikin hutan,” katanya.

Rosita Istiawan
Sosok Rosita Istiawan di Balik Hutan Organik Megamendung. Suasana pintu masuk Hutan Organik Megamendung. Foto / dok googlephoto/hutanorganik

Keduanya lalu menjual aset keluarga untuk membeli lahan seluas 2.000 meter dari warga Megamendung. Tanah itu bukan tanah subur, justru sebaliknya. Kontur ekstrem, bekas perkebunan singkong, pH tanah sangat masam 2,5–4, tak ada cacing, tak ada sumber air, dan hanya dipenuhi alang-alang setinggi tubuh.

Meski banyak yang tak yakin, namun Rosita tidak mundur. Bahkan upaya pertama tidak berjalan mulus. Ribuan bibit awal yang ditanam mati. Akses air sangat sulit. Tak ada listrik. Tak ada jalan memadai.

BACA JUGA: Mengenang Titiek Puspa Sosok Diva Legendaris Enam Dekade

Tak menyerah, ia terus berupaya menata proses penghijauan. Hingga menemukan penerapan pola tumpang sari (agroforestri). Ia menanam pohon keras, sayuran, hingga beternak tanpa bahan kimia dengan jarak tanam 2,5 x 2,5 meter, sehingga satu hektare bisa berisi sekitar 1.500 pohon.

Tak hanya itu, ia mengembangkan inovasi teknologi sederhana seperti Pompa Hidram, yang mampu mengangkat air ke dataran tinggi sebelum mata air benar-benar pulih. Tiga tahun setelah perjuangan tanpa henti, dua mata air yang sebelumnya mati hidup kembali.

 Rosita istiawan
Sosok Rosita istiawan (kiri) bersama sang suami. Foto / dok instagram @rositaistiawan

Ia juga berhasil membentuk DAS mikro baru yang memperkuat sistem Daerah Aliran Sungai Ciliwung. Kini, Hutan Organik Megamendung menjadi ruang ekologis dengan 125 jenis pohon, 25 jenis burung, 10 jenis herpetofauna, serta hampir 60 jenis serangga.

Perjuangan Rosita tak hanya bersinggungan dengan alam, tetapi juga manusia. Kawasan Puncak dikenal memiliki problem agraria yang rumit: penjarah kayu, calo tanah, pungutan liar, hingga intimidasi pada warga kecil.

Para calo meminta jatah per meter tanahnya. Jika Rosita menyerah, mungkin hutan itu tak akan pernah ada.

BACA JUGA: Mengenal Andrew Kalaweit, Aktivis Blasteran Indonesia-Prancis yang Dijuluki Tarzan Kalimantan

Ia bertekad kuat harus menjaga tanahnya sendiri bahkan tinggal di lokasi agar tidak direbut investor atau calo tanah. Dalam situasi agraria yang timpang, Rosita membuktikan bahwa perempuan pun mampu menjaga ruang hidupnya.

“Menanam itu awal, merawat itu selamanya,” tegasnya.

Setelah lebih dari 20 tahun berjuang, hutan yang ia rintis berkembang menjadi 30 hektare, menjadi ruang hijau yang produktif dan sehat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id

 

Reporter : Feni Yusnia

Editor: Darmadi Sasongko

Tags: Cerita Inspiratifsosok inspiratifTokoh LingkunganViral
Darmadi Sasongko

Darmadi Sasongko

Related Stories

Teras Semeru.

Mengenal Muhammad Syafi’i, Santri Sukses Berdayakan Warga Kampung berkat Rumah Makan Teras Semeru Lumajang yang Viral

by Dwi Linda
06/07/2026 5:13 PM
0

LUMAJANG, Tugujatim.id – Di balik meroketnya angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Kabupaten Lumajang selama libur Lebaran 2026, ada satu...

Blitar

Kisah Anak Buruh Setrika di Kota Blitar Menjemput Asa Lewat Sekolah Rakyat

by Mochamad Abdurrochim
26/06/2026 10:54 PM
0

"Sedih rasanya melihat teman-teman lain berseragam. Tapi saya harus sabar, menepi dulu demi bantu orang tua. Saya jualan es teh....

Sekolah Rakyat.

Menolak Padam, Asa Baru Silvia dan “The Invisible People” dari Bangku Sekolah Rakyat

by Dwi Linda
26/06/2026 5:47 PM
0

"Ada banyak pahlawan dalam kamus hidup Silvia Putri Cahyani, pelajar 14 tahun di Kota Batu, Jawa Timur. Paman dan bibinya,...

Bupati Sidoarjo.

Terharu! Bocah Usia 7 Tahun Luka Bakar 46 Persen, Bupati Sidoarjo Subandi Siapkan Pengobatan hingga Pekerjaan untuk sang Ayah

by Dwi Linda
16/06/2026 9:24 PM
0

SIDOARJO, Tugujatim.id – Bupati Sidoarjo H. Subandi menjenguk Izzan, 7, bocah yang mengalami luka bakar hingga 46 persen dan kini...

Next Post
DPRD Kota Malang

Saat Sekda Tak Hadiri Evaluasi Penanganan Banjir di Rakor DPRD Kota Malang

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID