Viral, Kasus Fetish Mukena Berkedok OL Shop di Malang Terkuak - Tugujatim.id

Viral, Kasus Fetish Mukena Berkedok OL Shop di Malang Terkuak

  • Bagikan
Salah satu korban fetish atau kejahatan seksual berkedok OL Shop Mukenah di Kota Malang. (Foto: Rizal Adhi Pratama/Tugu Jatim)
Salah satu korban fetish atau kejahatan seksual berkedok OL Shop Mukenah di Kota Malang. (Foto: Rizal Adhi Pratama/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Dunia jagat Twitter kembali digemparkan oleh kejahatan seksual yang diungkapkan oleh pemilik akun @jeehantz yang mengaku sebagai korban fetish mukena di Kota Malang oleh oknum fotografer. Dia bercerita jika kejadian tersebut terjadi saat dirinya ditawari menjadi model salah satu toko online GM.

Perempuan yang juga model dari salah satu kontes pageant ini menceritakan, toko online tersebut juga merupakan salah satu sponsor kontes pageant yang dia ikuti. Jadi, dia harus menjadi model produk toko online tersebut.

Namun, ada beberapa kejanggalan dalam foto produk yang diikuti para kontestan pageant tersebut.

“Salah satu pemenang lain juga menemukan hal janggal, yaitu peniti yang masih tersangkut di mukena pada bagian wajah. I mean, ini kan gift pemenang ya tapi kenapa diberi yang kurang proper (layak, red)? Ternyata mukena tersebut ditemukan di Shopee dengan keterangan preloved atau bekas,” tuturnya.

Singkat cerita, dia mengatakan, mulai mengenal pemilik toko online tersebut, seorang perempuan berinisial R. Dia juga mendapatkan tawaran foto katalog produk-produk milik toko online tersebut. Namun, sang pemilik tidak memberikan keterangan berapa fee yang diperoleh dan langsung menentukan tanggal pengambilan foto.

“Tapi, karena masih awal membangun karir pikir saya cuma ‘berapa pun saya dibayar, niatnya cuma buat pengalaman, personal branding, dan membantu olshop ini berkembang’. Tidak ada sedikit pun mempermasalahkan soal fee,” ungkapnya.

Dia juga menyatakan, pemilik toko online ini pun membuat grup dan menjadwalkan photoshoot.

“Awalnya, beliau membuat grup yang beranggotakan para model dan fotografer yang collab dengan produk GM. Di situ kami dijanjikan untuk foto di studio dan ada MUA-nya. Tapi karena ada kendala, tanggal berubah, photoshoot dilakukan di kafe, dan tanpa adanya MUA,” sambungnya.

Lalu saat di hari pemotretan, dia bertemu dengan 1 laki-laki dan 2 perempuan. Laki-laki tersebut berinisial D dan mengaku sebagai lulusan Psikologi di kampus swasta di Kota Malang. Namun, dia juga bercerita jika owner toko online tersebut tidak datang saat sesi pemotretan.

“Mas D ini lulusan psikologi dan saat ini menyambi bekerja di pabrik milik Juragan99, katanya. Kami sempat saling bercerita sembari menunggu giliran foto. Beliau orang yang sangat ramah dan menyenangkan meski sedikit selalu berdebat bahwa dia mengira saya keturunan Arab,” ucapnya.

Dia menganggap fotografer itu begitu berpengalaman, hal itu terlihat dari caranya berkomunikasi.

“Dari gaya bicaranya, beliau seperti orang yang sangat berpengalaman dalam menggiring percakapan, bahkan dia bisa mengenali saya sebagai mahasiswi HI sebelum memperkenalkan diri. Entah beliau memang sepandai itu atau sudah mencari tahu track record mengenai saya,” imbuhnya.

Dan sesi pemotretan tersebut berjalan lancar dan berakhir pada siang hari karena dia harus mengikuti perkuliahan di kampusnya.

“Sesampainya di rumah, Mbak R (owner toko online, red) ternyata menghubungi saya mengucapkan terima kasih dengan bahasa yang sangat sopan dan terlihat sangat agamis,” tuturnya.

Dari situ, dia melanjutkan, para model lainnya mulai mempertanyakan soal fee pemotretan.

“Setelah photoshoot pertama, model lain sempat menanyakan soal fee. Anehnya, fee telat dibayar sehingga saya sudah nggak heran lagi,” tambahnya.

Meski demikian, hubungan yang dijalin korban dan pemilik toko online tersebut tetap berjalan baik dan sering kali berinteraksi di media sosial.

“Tidak hanya itu, saya menjalankan photoshoot berikutnya dengan produk GM sesuai yang sudah dijanjikan, yaitu di studio dan ada MUA-nya. GM juga sempat mensponsori lagi salah satu proker paguyuban kami,” jelasnya.

Kemudian, tiba-tiba suatu hari korban menemukan fakta bahwa R yang mengaku sebagai perempuan sekaligus owner toko online tersebut ternyata adalah seorang pria yang juga fotografer berinisial D yang sebelumnya memotret korban.

“Ditemukan juga Twitter di mana akun tersebut adalah OA Fetish mukena sehingga foto kami digunakan sebagai bahan (ejakulasi) mereka. Tentu saja, semua postingannya sangat (menjijikkan), perempuan memakai mukena yang me-record hal-hal asusila seperti akun fetish pada umumnya,” ungkapnya.

Dia mengatakan, sejak saat itu kami dari paguyuban sudah tidak pernah bekerja sama lagi dengan GM.

“Di situ ada postingan hasil semua photoshoot kami para model GM beserta tag IG kami. Semenjak itu, paguyuban kami tidak lagi bekerja sama dengan GM. Begitu pula saya, memutuskan untuk tidak lagi collab dengan GM,” sambungnya.

Mengetahui hal tersebut, beberapa model yang sudah kadung bekerja sama dengan toko online tersebut langsung menghubungi nomor atas nama R dan D itu untuk menghapus foto-foto mereka di akun IG toko online dan akun fetish mukena tersebut. Dia melanjutkan, bukannya dihapus, malah kontak para model diblokir.

“Bagaimanapun, kasus tersebut termasuk dalam pelecehan dan penyalahgunaan kerja sama. Sampai saat ini, chat saya nggak dibalas sama Mas D, diblokir pun enggak. Saya masih bisa mengetahui ketika beliau online dan sengaja nggak merespons,” tuturnya.

Dia mengatakan, memang mulai dari awal sudah merasakan kejanggalan yang terjadi.

“Sebenarnya masih ada beberapa kejanggalan yang saya rasakan. Pertama, hasil photoshoot tidak pernah di-post di feeds IG. Bagaimana mungkin beliau repot-repot membayar kami para model dan fotografer, menyiapkan studio dan MUA, tapi foto kami hanya di-post di snap yang lenyap setelah 24 jam? Selain itu, photoshoot menggunakan mukena yang sama di waktu yang berbeda. Dan masih banyak kejanggalan lainnya,” herannya.

Selain masalah foto, ternyata para model belum mendapatkan pembayaran yang sesuai dengan perjanjian di awal. Bahkan, ada model yang sudah 2 tahun bekerja sama dan belum dilunasi.

Saat ini, para korban yang menjadi korban foto fetish mukena ini sudah melaporkan kejadian ini kepada pihak Polresta Malang Kota.

“Buat perempuan di luar sana, hati-hati ya! Jangan mau dijadikan bahan fantasi. Kamu tuh berharga! Kalau ada yang kurang ajar, dilawan. Saya sadar kemarin terlalu ceroboh menerima job sana sini tanpa banyak pertimbangan. Semoga kalian bisa mengambil hikmahnya,” ujarnya.

  • Bagikan