5 Fakta Soe Hok Gie, Aktivis yang Meninggal di Gunung Semeru

5 Fakta Soe Hok Gie, Aktivis yang Meninggal di Gunung Semeru

  • Bagikan
Soe Hok Gie, aktivis 65 yang meninggal di gunung Semeru.
Soe Hok Gie, aktivis 65 yang meninggal di gunung Semeru. (Foto: Pinterest)

Tugujatim.id – Tahun 1965, nama Soe Hok Gie sering diperbincangkan di kalangan gerakan mahasiswa. Dia adalah aktivis idealis yang sering mengkritik perpolitikan Indonesia menjelang akhir kekuasaan Orde Lama. Lelaki kelahiran 17 Desember 1942 ini adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI) yang ikut andil dalam aksi-aksi mengkritik kepemimpinan Sukarno.

Gie, sapaan akrabnya, juga termasuk mahasiswa pertama yang berani mengkritik rezim Orde Baru. Dia memang sosok individu yang kritis, peduli masalah kemanusiaan dan tidak bisa dirayu untuk menggoyahkan prinsipnya. Gie juga seorang pecinta alam yang mendirikan Mapala UI. Sayang, dia meninggal saat mendaki gunung Semeru pada 16 Desember 1969.

Untuk mengenal Soe Hok Gie, berikut diulas 5 fakta tetangnya.

1. Sosok Idealis

Perkataan Gie yang sangat terkenal adalah lebih baik terasingkan daripada menyerah pada kemunafikan. Dari quotes tersebut kita bisa melihat bahwa dia lebih memilih tidak dianggap dan berjalan sendirian daripada prinsipnya harus terenggut dan menyerah pada kemunafikan. Ia tetap Gie yang mempunyai value dalam kehidupan yang tidak bisa digadaikan oleh sesuatu apapun.

2. Oposisi Sejati

Gie adalah oposisi sejati. Dia tidak memihak siapapun, hanya memihak pada kebenaran. Dalam memandang sesuatu, Gie sangat objektif. Pada zaman Sukarno dia memberikan kritik, di zaman Suharto juga sama. Selain mengkritik kepemimpinan Orde Lama dan Orde Baru, dia juga mengkritik PKI. Tetapi, Gie juga bersimpati dengan ratusan ribu orang yang dibantai karena diduga kiri. Maka, bisa dilihat Gie adalah oposisi sejati. Tidak mudah diajak menjilat pada penguasa. Gie melihat pada kebenarannya, bukan siapa yang benar.

3. Mengkritiki Pembunuhan Masal 1965

Meskipun Gie mengkritik PKI, tetapi itu tidak membuatnya buta pada pembunuhan massal 1965. Gie sebagai manusia juga bersimpati dengan orang-orang terduga kiri yang dibantai secara tidak manusiawi pada tahun itu. Dia orang pertama yang berani mengkritik pembantaian dalam artikelnya berjudul Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Pulau Bali.

4. Pendiri Mapala UI

Gie adalah salah satu pendiri organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (MAPALA) Universitas Indonesia. Dia bersama temannya membuat komunitas ini pada 12 Desember 1964 sebagai wadah berkumpulnya berbagai kelompok mahasiswa. Salah satu alasan Gie mengusulkan pembentukan organisasi tersebut adalah untuk mengalihkan pikiran dari kejenuhan terhadap situasi politik yang penuh konflik dan intrik.

5. Meninggal di Semeru

Pada 12 Desember 1969, Gie dan teman-temannya berangkat dari stasiun Gambir menuju gunung Semeru. Gie berencana merayakan ulang tahunnya ke-27 pada 17 Desember 1965 di Semeru. gunung tertinggi di pulau Jawa. Tim pendakian pada saat itu dibagi menjadi dua, dan tim Gie lebih dulu sampai ke puncak. Pada saat tim kedua sampai ke puncak, Herman melihat Gie dalam kondisi duduk, Idhan pun menyusul duduk, sedangkan Herman berdiri. Kemudian Gie dan Idhan meninggal karena diduga menghirup gas beracun.

  • Bagikan