• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
tenun tugu jatim

Budhi menunjuk kain tenun motif surya majapahit di rumahnya. Foto: Hanif Nanda/Tugu Jatim

Perajin Tenun Tradisional Mojokerto Bikin Motif Surya Majapahit hingga Candi Wringinlawang

Lizya Kristanti by Lizya Kristanti
3 years ago
in Sastra & Budaya
0
Share on FacebookShare on Twitter

MOJOKERTO, Tugujatim.id – Selain makanan onde-onde, satu hal menarik dari Mojokerto adalah kain tenun. Selain mempunyai batik tulis dengan motif-motif unik, Bumi Majapahit juga memiliki perajin kain tenun tradisional. Motif tenun yang dihasilkan mempunyai ciri khas sehingga layak menjadi rujukan para pecinta busana etnik.

Bisnis tenun bernama Tenun Ikat RH Lestari di Kedunguneng, Bangsal, Mojokerto, Jawa Timur, itu dipunyai oleh Budhi Iswanto (38). Bisnis tenun miliknya menjadi satu-satunya industri kecil tenun ikat tradisional di Mojokerto. Bisnis yang saat ini dikelola pria itu menghasilkan banyak motif tenun tradisional.

You might also like

Larung Sesaji

Melihat Tradisi Larung Sesaji Pantai Serang Blitar, Khidmat Suroan Warisan Leluhur Sejak 1830

19/06/2026 10:15 AM
Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

21/05/2026 3:32 PM

Tercatat, Budhi kini memproduksi kain tenun khas Mojokerto. Salah satu kain tenun khas itu bermotif Surya Majapahit dan Candi Wringinlawang. Warna kain yang dihasilkan Budhi banyak bercorak kalem, di antaranya biru toska, hijau, cokelat, dan hitam.

“Tenun kami mempunyai motif khas yang tidak dimiliki perajin lain. Keunggulan lainnya tenun kami dingin ketika dipakai saat cuaca panas dan nyaman dipakai, warnanya tidak gampang pudar,” kata Budhi, di rumahnya, pada Sabtu (11/2/2023).

Sehari-hari, bapak dua anak itu menggunakan ruangan di belakang rumahnya untuk memproduksi kain tenun tradisional. Dari tempat berdimensi 7×5 meter itu, bahan baku benang putih katun melalui proses yang panjang selama dua pekan hingga menjadi selembar kain.

Tahap pertama pembuatan kain tenun berasal dari benang dasar berbahan benang katun impor dari India. Benang dasar itu lebih dulu diwarnai menggunakan pewarna kain. Selanjutnya, benang dasar dibentangkan pada alat tenun tradisional.

tenun tugu jatim
Budhi mengoperasikan alat tenun di rumahnya. Foto: Hanif Nanda/Tugu Jatim

Satu alat tenun diisi dengan 84 ban benang dasar selebar 90 cm. Setiap ban terdiri dari 35 putaran benang. Jarak antar ban dibuat sekitar 1 cm. Benang yang dibutuhkanpun sangat panjang, yaitu 3.200 helai. Panjang masing-masing helai benang mencapai 35 meter.

“Saya pilih benang impor dari India karena kualitasnya lebih kuat dan mudah menyerap warna daripada benang lokal. Begitu juga benang untuk pakan,” terang Budhi.

Selanjutnya, benang pakan menjadi tahap kedua. Budhi menggunakan benang katun putih polos dan digulung ke 55 gulungan yang dipasang di sebuah kerangka kayu. Selanjutnya, 55 benang pakan itu melalui proses ngerek, yakni digulung di sebuah kerangka kayu selebar 94 cm.

Setelah seluruh benang pakan berada di bingkai kayu, Budhi mulai menggambar motif. Proses pembuatan kain tenun dilanjutkan dengan mengikat motif menggunakan tali rafia agar tidak terkena air. Gulungan benang pakan direndam terlebih dulu dengan air deterjen satu hari satu malam agar mudah meresap saat dicelupkan ke pewarna kain.

“Kalau sudah diwarnai, semua ikatan dilepas semua, lalu benang akan dipindah. Benang pakan dipecah per helai, setiap helai digulung. Butuh waktu tiga hari paling cepat untuk memecah benang per helai,” tambah warga asli Kedunguneng itu.

Proaes pembuatan kain tenun kemudian digarap dua karyawati yang mengoperasikan alat tenun tradisional. Benang dasar dan benang pakan ditenun hingga menjadi lembaran kain. Rata-rata satu pekerja mampu menenun satu lembar kain per hari. Masing-masing kain berukuran 2,5 m. Proses pembuatan diakhiri dengan dicelupkannya kain ke pewarna untuk mewarnai motif yang sudah dibuat.

Pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu tidak lantas membuat usaha Budhi lesu. Kain tenunnya masih diminati. Bahkan saat pandemi, pesanan justru banyak berasal dari Timur Tengah.

“Jadi ada orang sini yang mau bawa ke sana (Timur Tengah). Tapi minta dikerjakan secara detil. Ukuran dan bahannya punya spek tertentu untuk dibawa ke Timur Tengah,” ujar Budhi.

Pelan-pelan usaha Budhi membuahkan hasil. Kini, ia menjadi binaan dari Disperindag Mojokerto. Salah satu dari alat tenun miliknya juga berasal dari bantuan Pemerintah Kabupaten Mojokerto. “Sudah jadi binaan. Salah satu alat tenun saya juga bantuan dari pemerintah” terangnya.

Tags: Mojokertotenuntenun tradisional
Lizya Kristanti

Lizya Kristanti

Related Stories

Larung Sesaji

Melihat Tradisi Larung Sesaji Pantai Serang Blitar, Khidmat Suroan Warisan Leluhur Sejak 1830

by Mochamad Abdurrochim
19/06/2026 10:15 AM
0

BLITAR, Tugujatim.id - Memeluk erat sebuah takir, nasi bungkus daun pisang, mata Hartini (47) menatap hamparan ombak selatan Pantai Serang,...

Malang

Gali Sejarah Teater Malang, DKM Kembali Gelar “SERAT” untuk Jembatani Kreatifitas Lintas Generasi

by Mochamad Abdurrochim
21/05/2026 3:32 PM
0

MALANG, Tugujatim.id – Dewan Kesenian Kota Malang (DKM) kembali menghadirkan ruang diskusi santai bagi para pegiat seni teater lewat agenda...

Busana Khas Malang

Kajian Sejarah Busana Khas Malang

by Darmadi Sasongko
11/04/2026 3:25 AM
0

Tugujatim.id - Kajian Sejarah Busana Khas Malang ditulis oleh Dwi Cahyono, Yayasan Inggil. Identitas sebuah daerah tidak hanya tercermin dari...

DPRD Kota Malang Catat PR Krusial di HUT ke-112, Kemiskinan hingga Banjir Belum Tuntas

Klambi Indis dari Sudut Pandang Seni Kontemporer

by Darmadi Sasongko
10/04/2026 11:05 AM
0

Tugujatim.id - Klambi Indis, dari sudut pandang Seni Kontemporer ditulis oleh Dimas Novib S, Pengurus Dewan Kesenian Malang. Tulisan ini...

Next Post
pemkab tuban tugu jatim

Pemkab Tuban Anggarkan Rp15,7 Miliar untuk Fasilitas Pengolahan Sampah

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID