PASURUAN, Tugujatim.id – Cuaca buruk dan curah hujan yang tinggi mengakibatkan hasil panen petani jagung Pasuruan merosot. Meski begitu, harga jual jagung di Kabupaten Pasuruan masih cenderung stabil.
Sri, salah satu petani di Dusun Balepanjang, Desa Pandean, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, mengeluhkan hasil panennya berkurang cukup drastis dibanding tahun sebelumnya. Sri menanam di lahan jagung seluas 10×15 kilometer persegi.
Tahun lalu dengan 4 kilogram bibit, petani jagung Pasuruan ini bisa mendapat 80 sak atau sekitar 2 ton. Namun tahun ini, dengan jumlah bibit yang sama dia hanya mendapat 50 sak atau 1,25 ton jagung saja.
“Produksinya kurang bagus karena cuaca hujan, biasanya bisa 80 sak. Sekarang cuma 50 sak,” ujar Sri pada Rabu (08/03/2023).
Selain curah hujan tinggi, merosotnya produksi jagung juga dipengaruhi kondisi iklim dan cuaca yang tidak menentu. Menurut dia, ketika masa tanam kondisi cuaca justru panas. Padahal, para petani jagung Pasuruan butuh banyak air. Namun, ketika masa panen, cuaca justru hujan.
“Pas mau mupuk cuaca panas, pas panen cuaca hujan, jadi nggak pas,” ungkapnya.
Baca Berita Lainnya:
Crazy Rich Surabaya Wahyu Kenzo Ditahan terkait Dugaan Penipuan Robot Trading ATG
Wahyu Kenzo Raup Untung Rp9 T, Hasil Menipu 25 Ribu Korban lewat Robot Trading ATG
Kronologi Crazy Rich Surabaya Wahyu Kenzo Ditangkap
Sementara itu, Wahyuni, petani jagung Pasuruan lainnya juga mengeluhkan kesulitan untuk mengeringkan hasil panen saat musim hujan. Dia biasanya bisa mengeringkan jagung selama 3 hari. Namun karena hampir setiap hari turun hujan, butuh waktu hingga seminggu agar jagung bisa kering.
“Saya jualnya jagung kering. Kalau hujan gini, jagungnya jadi basah,” ucapnya.
Meski begitu, penurunan produksi jagung tidak banyak memengaruhi harga jual jagung. Menurut Wahyuni, harga jagung tahun ini justru sedikit naik dibandingkan tahun lalu.
“Saya jualnya ke tengkulak, tahun lalu satu kilonya Rp4.600. Sekarang naik sedikit jadi Rp5.000. Kalau harga di pasar jadi sekitar Rp7.000,” ujarnya.








