BADUNG, Tugujatim.id – Tak ada yang bisa membantah syahdunya panorama matahari terbenam yang dipadukan dengan uniknya pertunjukan Tari Kecak di Uluwatu, Bali. Bayangkan saja, Anda bisa duduk melingkar dan menikmati cantiknya sunset yang terlihat jelas tanpa halangan di tempat ini sambil menonton pertunjukan budaya tari tradisional istimewa.
Selain wisata alam dan kekayaan kuliner khas Bali, keunikan tari kecak memang telah lama menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dan melengkapi keindahan pulau dewata. Apalagi Pura Uluwatu adalah salah satu tempat suci umat Hindu yang ada di Bali.
Berbeda dengan beberapa tempat wisata pura lainnya, wisatawan yang berkunjung ke pura ini akan menyaksikan cantiknya hamparan Samudra Hindia yang berpadu dengan gemuruh ombak yang menabrak dinding tebing.
Kepopuleran Tari Kecak di Uluwatu, Tersohor Hingga Mancanegara

Kenapa tarian ini sangat populer di mata wisatawan? Pertanyaan ini mungkin muncul dibenak Anda saat melihat berbagai video dokumentasi pertujukan Tari Kecak di Uluwatu atau datang langsung ke Pura Uluwatu di Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali.
Tari tradisional khas Pulau Bali ini memang tak pernah sepi penonton. Warga lokal maupun mancanegara biasa memenuhi bangku penonton di sekitar lapangan pertunjukan dan membuat video pertujukan tersebut. Bahkan beberapa dari wisatawan juga berminat untuk mempelajari tarian ini.
Salah satu keunikan tari kecak adalah seruan “cak, cak, cak” para penari yang menjadi pembeda dari tarian lainnya. Sebuah tarian yang berpadu dengan drama Rama dan Shinta serta diperankan oleh sekitar 50 sampai 150 penari ini begitu mempesona di tengah wisatawan yang menunggu sunset di Uluwatu.
Para penari yang sebagian besar adalah pria ini bersila membentuk sebuah lingkaran dengan pakaian khas Bali yaitu kotak-kotak hitam dan putih. Di balik tarian ini memiliki sejarah dan makna tersendiri. Lalu apakah sejarah, makna, hingga properti yang digunakan pada Tari Kecak?
Asal Tari Kecak
Begitu pertujukan dimulai, para penari Tari Kecak di Uluwatu biasanya kemasukan roh halus yang bisa berinteraksi dengan para leluhur yang telah disucikan. Ketika kerasukan pun mereka melakukan tindakan yang di luar dugaan, misalnya mengeluarkan suara yang tidak mereka keluarkan.
Para penari yang selalu menyerukan “cak, cak, cak” inilah yang akhirnya menjadi terciptanya sebutan Tari Kecak. Tak hanya itu, penari juga diiringi dengan suara kerincingan yang diikatkan di kaki penari dari pemerah tokoh Ramayana.
Di dalam lingkaran itu mereka beraksi dengan memainkan beberapa adegan cerita Ramayana yang berusaha menyelamatkan Shinta dari Rahwana. Salah satu penari yaitu Hanoman juga sering melakukan interaksi dengan pengunjung yang menonton pertunjukan ini.
Sejarah Tari Kecak
Walter yang merupakan seorang pelukis dari Jerman membantu Wayan Limbak menciptakan sebuah tarian ini. Alasannya adalah karena Walter tertarik dengan kesenian tradisional tari kecak dan tertarik dengan hal spiritual.
Nah, dari tradisi sanghyang ini akhirnya diangkatlah sebuah seni tari tradisional yang diambil dari beberapa bagian cerita Ramayana.
Walter dan Wayan akhirnya berdiskusi untuk menciptakan tarian yang begitu cantik dan memikat perhatian banyak orang. Memperkenalkan hingga mancanegara akhirnya menjadi salah satu solusi yang mereka putuskan.
Buah dari usaha mereka akhirnya tidak main-main, banyak sekali masyarakat yang menarikan tarian ini untuk menyambut para tamu hingga akhirnya sampai sekarang terdapat sebuah pertunjukan Tari Kecak di beberapa tempat termasuk Pura Uluwatu ini.
Pesan dan Makna di Balik Tari Kecak
1. Nilai Seni yang Tinggi
Meskipun tidak ada iringan musik seperti gamelan, tarian ini tetap terlihat indah dan menakjubkan. Hal ini lah yang menjadi nilai seni yang tinggi. Meskipun bukan umat Hindu, penonton masih bisa menikmati pertunjukan ini dengan baik.
2. Kekuatan Tuhan
Dalam tarian dengan adegan Rama menyelamatkan Shinta ini, Rama juga memohon kepada Dewata sehingga hal ini dapat menunjukkan kepercayaan Rama kekuatan Tuhan untuk menolong dirinya.
3. Pesan Moral
Saat menonton pertunjukan ini, pengunjung juga bisa mendapatkan banyak pesan moral seperti sebuah kerja keras yang tidak akan pernah mengkhianati hasil, rela berkorban, dan mengajarkan agar manusia tidak serakah serta mengambil hak orang lain.
Properti yang Digunakan pada Tari Kecak
1. Bara api, yang akan diinjak oleh para penari dengan kondisi tanpa alas kaki.
2. Gelang kerincing, sebagai pengiring musik dan digunakan oleh pemeran Ramayana.
3. Topeng, digunakan oleh Hanoman, Sugriwa, dan Rahwana.
4. Bunga Kamboja, diselipkan pada daun telinga para penari yang bermakna sebagai pembawa pencerahan.
5. Tempat sajen, berguna untuk mengusir roh jahat.
6. Selendang hitam putih, sebagai lambang Rwa Bhineda yang berarti perbedaan yang akhirnya menciptakan keharmonisan dan keseimbangan.
Harga Tiket Menonton Tari Kecak di Uluwatu
Anda dapat menyaksikan pertunjukan budaya Tari Kecak di Pura Uluwatu dengan membeli tiket terlebih dahulu. Berikut ini harga tiket untuk menonton tari kecak yang digelar setiap hari, mulai pukul 18.00 WIB dan berakhir pada 19.00 WIB.
Harga tiket pembelian langsung di Pura Uluwatu
– Dewasa: Rp150.000/orang
– Anak-anak (2-9 tahun): Rp75.000/orang
– Bayi (di bawah 2 tahun): Gratis
Harga tiket online
– Dewasa: Rp139.000/orang
– Anak –anak (2-9 tahun): Rp67.000/orang
– Bayi (di bawah 2 tahun): Gratis
Perlu diingat bahwa tiket Tari Kecak di Uluwatu yang dibeli secara online hanya dijual terbatas. Maka dari itu disarankan untuk wisatawan terlebih dahulu memesan melalui online daripada offline. Jadi nantinya Anda tidak perlu risau lagi dan segera mendapatkan kepastian kuota pertunjukan budaya ini.
Itu tadi adalah sejarah, makna, hingga informasi tambahan mengenai budaya di Bali yaitu Tari Kecak di Uluwatu. Sayang banget nih kalau kalian nggak mengunjungi dan menonton pertunjukan budaya yang satu ini. Jika ada rencana ke Bali, segera amankan tiket kalian ya! Selamat menonton!
Penulis: Annisa Listya (magang)
Editor: Imam Hanifah & Lizya Kristanti








