JEMBER, Tugujatim.id – Rektor Unmuh Jember Dr Hanafi, anak desa yang awalnya memiliki cita-cita besar menjadi seorang tenaga pengajar. Lahir di tengah keluarga yang bekerja sebagai petani dan penjual kain, tidak menghalangi tekadnya menggapai angan, yaitu menjadi seorang guru.
Bahkan, sedari kecil dia harus membantu kedua orang tua di lahan persawahan dan pasar untuk menjual secarik kain. Hingga di bangku sekolah menengah pertama (SMP), dia harus fokus belajar untuk merealisasikan cita-cita mulianya.
Perjalanannya pun tidak semulus yang dibayangkan. Setelah mengenyam pendidikan di Sekolah Pendidikan Guru (SPG), tidak semata-mata menjadikan Hanafi meraih cita-cita yang didambakan sedari kecil.
“Dulu kan ingin jadi guru, di SPG sekolahnya. Setelah lulus ternyata sulit juga jadi guru,” ujar Hanafi saat ditemui Tugu Media Group di kantornya, Senin (12/08/2024).
Baca Juga: PPP Resmi Dukung Aditya Halindra Faridzky dan Joko Sarwono di Pilkada Tuban 2024
Dari kegagalan atas keinginannya menjadi seorang guru, Hanafi akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Jauh dari kata “Mahasiswa Kupu-Kupu (Kuliah Pulang-Kuliah Pulang)”, Hanafi muda aktif di berbagai organisasi ekstra kampus (Omek) maupun organisasi intra kampus.
Dia juga sempat mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersinggungan langsung dengan alam, seperti mendaki gunung, pernah Hanafi lalui di masa mudanya.
Di tengah kesibukannya berkegiatan, Hanafi tetap berpegang teguh dengan tujuan awal, yaitu belajar. Di samping untuk mewujudkan cita-citanya, ekonomi menjadi alasan Hanafi untuk menyelesaikan pendidikan tepat waktu.
Hingga di semester tiga perkuliahan, Hanafi mendapat beasiswa ikatan dinas. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang berada di depan mata, Hanafi terus berupaya memberikan yang terbaik selama kuliah. Terbukti, beasiswa ikatan dinas itu mampu Hanafi pertahankan hingga selesai jenjang sarjana.
Masih dari lembaga beasiswa yang didapat, Hanafi mendapat kesempatan untuk memilih jenjang karir. Meski tidak sesuai seperti yang diharapkan sejak kecil, dia berkesempatan menjadi dosen dan menjatuhkan pilihan di Universitas Muhammadiyah Jember pada 1992.
Selang setahun, di usia menginjak 24 tahun, Hanafi diangkat sebagai tenaga pegawai negeri sipil (PNS).
“Pada 1993, saya diangkat jadi dosen sini (Universitas Muhammadiyah Jember) masih muda umur 24 tahun waktu itu,” jelasnya.
Baca Juga: Dody Fakhrudi Daftar Cawabup Tuban, Siap Entaskan Kemiskinan dan Permasalahan Pertanian
Berbagai jabatan strategis juga dia duduki, mulai dari ketua program studi, wakil dekan, dekan, wakil rektor dua, dan direktur pascasarjana. Di tengah kesibukan itu pula, Hanafi melanjutkan pendidikan pascasarjana S2 dan S3 di Universitas Negeri Malang.
Pada 2019, Hanafi mampu menjabat sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Jember. Bahkan, setelah usainya periode kepemimpinannya, dia masih dipercaya mengemban amanah menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Jember.
Ini menjadi periode kedua Hanafi menjadi orang nomor satu di Universitas Muhammadiyah Jember. Tidak pernah dibayangkan Hanafi sebelumnya, cita-citanya masa kecil yang gagal dia raih dapat mengantarkan hingga di posisi saat ini.
Anak ketiga dari lima bersaudara itu mengungkapkan bahwa pencapaiannya tidak terlepas dari berbagai dukungan yang dia dapat, khususnya dari orang-orang terdekat.
Setidaknya, di masa kepemimpinan Hanafi, Universitas Muhammadiyah Jember dapat meningkatkan jumlah mahasiswa, membangun rumah sakit, perusahaan bus, hingga membangun SPBU. Capaian tersebut tidak terlepas dari upaya Hanafi dalam merangkul dan memastikan semua pihak di Universitas Muhammadiyah Jember agar bekerja dengan semestinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








