• Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr dr Gatot Soegiarto SpPD-KAI FINASIM, Rabu (28/07/2021). (Foto: Unair Surabaya/Tugu Jatim)

Akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr dr Gatot Soegiarto SpPD-KAI FINASIM, Rabu (28/07/2021). (Foto: Unair Surabaya)

Fenomena Perebutan Jenazah Covid-19, Begini Tanggapan Akademisi Unair Surabaya…

Dwi Lindawati by Dwi Lindawati
5 years ago
in News
0
Share on FacebookShare on Twitter

SURABAYA, Tugujatim.id – Beberapa waktu lalu masyarakat dikejutkan dengan peristiwa perebutan paksa jenazah Covid-19 di berbagai daerah seperti di Bondowoso, Situbondo, Jember, dan beberapa daerah lain. Hal tersebut terjadi akibat beredarnya kabar di kalangan masyarakat bahwa pasien yang meninggal di rumah sakit akan dianggap sebagai pasien kasus Covid-19.

Akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Dr dr Gatot Soegiarto SpPD-KAI FINASIM menjelaskan, saat pandemi seperti ini mekanisme penerimaan pasien baru di rumah sakit dengan sebelum pandemi memiliki perbedaan.

You might also like

Jatim

BMKG: Waspada Kabut Tebal dan Angin Kencang di Jatim, Jumat 5 Juni 2026

05/06/2026 8:11 AM
Surabaya

Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir Digital

04/06/2026 8:52 PM

“Sebelum pandemi memang tidak ada keharusan bagi pasien di rumah sakit untuk melakukan screening, apakah menderita penyakit menular atau tidak,” ujarnya.

Akibat adanya pandemi, maka mekanisme penerimaan pasien baru di rumah sakit tentu berbeda. Screening awal yang dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan ini merupakan cara yang dilakukan untuk mitigasi dampak pandemi.

“Ketika Covid-19 melanda, banyak fakta bahwa dokter dan tenaga kesehatan ternyata ikut terpapar yang tidak jarang membutuhkan perawatan di ICU dan ada yang sampai meninggal dunia. Karena itu, dalam rangka mitigasi dampak pandemi, perhimpunan profesi menyarankan untuk menggunakan
alat pelindung diri (APD) yang lebih tinggi,” terang Gatot.

Selain penggunaan APD yang lebih tinggi, rumah sakit juga mewajibkan screening bagi semua pasien baru, baik yang datang dengan gejala khas Covid-19 atau penyakit tidak spesifik lainnya.

“Nyatanya ada juga ibu hamil yang datang untuk melahirkan ternyata positif Covid-19, pasien yang datang dengan keluhan pada kulit, mata, gastrointestinal atau trauma akibat kecelakaan, kemudian terbukti positif Covid-19,” tuturnya.

Gatot menjelaskan, tes rapid antigen yang dilakukan hanya membutuhkan waktu 30-45 menit untuk melihat hasilnya.

“Tapi, tes ini bisa juga menghasilkan negatif palsu. Untuk itu, bagi pasien yang gejalanya sangat mengarah pada Covid-19, tapi hasilnya (rapid antigen, red) negatif akan tetap diperlakukan sebagai pasien berisiko tinggi dan harus dilayani dengan prosedur yang berlaku. Hal ini saja sudah banyak menimbulkan kecurigaan masyarakat,” jelasnya.

Pemeriksaan swab RT-PCR yang hasilnya lebih akurat terkendala waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasilnya. Untuk mendapatkan hasil swab RT-PCR dibutuhkan waktu lebih dari 24-48 jam.

“Jadi, jika kondisi pasien gawat dan perlu penanganan segera atau bahkan kemudian meninggal di IGD atau ruang isolasi, tapi hasil RT-PCR belum keluar, hal ini sering menjadi pertentangan antara pihak rumah sakit dan keluarga pasien,” katanya.

Dia melanjutkan, rumah sakit dan tenaga kesehatan berkeinginan untuk menerapkan protokol kesehatan yang ada untuk pemulasaraan dan pemakaman jenazah agar tidak terjadi penularan klaster keluarga dan pelayat.

“Tapi, dari pihak keluarga pasien sudah memiliki kecurigaan bahwa pasien akan di-Covid-kan dan berprasangka bahwa rumah sakit serta dokter akan mendapat keuntungan,” imbuh
Gatot.

Selain itu, stigma yang berkembang di masyarakat bahwa jenazah yang dimakamkan sesuai protokol kesehatan tidak sesuai syariah agama menjadi pemicu perebutan jenazah kerap terjadi.

Perbedaan pendapat yang terjadi hendaknya diselesaikan dengan baik melalui edukasi yang dilakukan oleh rumah sakit dan tenaga kesehatan.

“Emosi yang tinggi pada saat kejadian dan adanya prasangka buruk kepada tenaga kesehatan dan
rumah sakit merupakan penghalang yang sangat sulit diatasi. Jika emosi mengalahkan akal sehat,
maka kekacauanlah yang terjadi,” tutupnya.

Tags: Kota SurabayaPerebutan jenazah Covid-19Stigma jenazah Covid-19Unair Surabaya
Dwi Lindawati

Dwi Lindawati

Related Stories

Jatim

BMKG: Waspada Kabut Tebal dan Angin Kencang di Jatim, Jumat 5 Juni 2026

by Mochamad Abdurrochim
05/06/2026 8:11 AM
0

Tugujatim.id - Cuaca di Jatim Jumat (05/06/2026) didominasi udara kabur dan berawan di banyak wilayah, dengan beberapa daerah dataran tinggi...

Surabaya

Dishub Surabaya Pasang Foto Jukir di Rambu Parkir Digital

by Mochamad Abdurrochim
04/06/2026 8:52 PM
0

SURABAYA, Tugujatim.id- Sebagai upaya meningkatkan transparansi Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, memasang foto juru parkir (jukir) pada rambu parkir digital di...

Bayi Laki-laki

Penemuan Bayi Laki-laki Dalam Tas Gegerkan Warga Rengel Tuban

by Mochamad Abdurrochim
04/06/2026 3:30 PM
0

TUBAN, Tugujatim.id – Warga Desa Rengel, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban digegerkan dengan penemuan bayi laki-laki dalam kondisi meninggal dunia di...

Event tahunan di Banyuwangi.

Alasan Tak Pernah Sepi Wisatawan, 7 Event Tahunan di Banyuwangi Ini Selalu Jadi Magnet Pengunjung

by Dwi Linda
04/06/2026 1:57 PM
0

BANYUWANGI, Tugujatim.id – Event tahunan di Banyuwangi, Jatim, jadi salah satu magnet wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan. Selain memiliki...

Next Post
Abdul Basit, tiktokers dan tutor di Kampung Inggris, semasa hidup. (Foto: Dok IG @abdulism_kampunginggris/Tugu Jatim)

Abdul Basit, Tutor Kampung Inggris Kediri Meninggal karena Covid-19 sebelum Sempat Divaksinasi

Merawat Jawa Timur

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Info Kerjasama
  • Kode Etik
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Hubungi Kami

© 2025 Tugu Jatim ID

No Result
View All Result
  • Home
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Wisata
  • Kriminal
  • Nasional
  • Featured
  • Sastra & Budaya
  • Advertorial

© 2025 Tugu Jatim ID