JAKARTA, Tugujatim.id – Bullying adalah kekerasan secara verbal dan fisik yang terjadi berulang-ulang dan terdapat pihak diuntungkan dan pihak dirugikan. Dalam upaya memberhentikan perilaku bullying, Ruber Innovation Lab dan Ruber Visual membuat film pendek “Lara Bisu”. Film ini bertujuan untuk memperluas gerakan #1MillionYouthsStopBullying yang memiliki misi menyuarakan gerakan anti perundungan di lingkungan sekolah.
Acara yang diselenggarakan pada Sabtu kemarin (05/10/2024) ini berhasil membangkitkan antusiasme sebanyak 842 orang dengan 628 peserta orang yang datang secara luring di Paragon Community Hub dan 214 orang yang datang secara daring melalui Zoom Meeting. Latar belakang mereka juga beragam, mulai dari anak-anak sekolah, guru, dan berbagai komunitas.
Proses produksi film pendek ini terbilang cukup singkat, yaitu hanya 3 minggu dan hanya berlokasi di 2 tempat saja, yaitu SMKN 13 Jakarta dan kantor Ruber Innovation Lab. Film pendek ini menceritakan tentang kasus perundungan yang masih marak terjadi khususnya di lingkungan sekolah.
Film pendek ini berhasil membawa penonton menjadi emosional, merasakan bagaimana menjadi korban dari kasus perundungan.
Pemeran utama dalam film pendek ini adalah Sarah, Mina, dan Ajeng. Sarah, bersama dua temannya, Dani dan Sela, merupakan pelaku bullying. Di sisi lain, Mina dan Ajeng menjadi korban dari perlakuan kasar Sarah dan kawan-kawannya. Ajeng, meski berasal dari keluarga kaya namun memiliki kekurangan fisik, serta Mina yang cerdas namun hidup dalam keterbatasan ekonomi, sama-sama harus menjadi korban bullying.
Film pendek ini secara tidak langsung mengangkat fakta mengkhawatirkan bahwa bullying bisa menimpa siapa saja, terlepas dari latar belakang fisik atau status sosial. Selain itu, film ini menggarisbawahi pentingnya rasa empati, keadilan, dan menghargai perbedaan.
Kesuksesan film pendek “Lara Bisu” ini tidak lepas dari kemampuan akting para pemeran yang berhasil menghidupkan karakter-karakter mereka dengan penuh emosi. Lara Bisu diperankan oleh enam remaja berbakat dari ekstrakurikuler teater di SMKN 13 Jakarta, yang telah menunjukkan kemampuan akting luar biasa untuk menggambarkan kompleksitas emosi para korban dan pelaku bullying.
Pemeran Dani dimainkan oleh Daffa Arsya, Ajeng diperankan oleh Siti Mutiara, Sarah oleh Renata Fichri Puteri, Mina oleh Dhea Rizky Ananda, Sela oleh Indira Cahya Putri, dan Sita oleh Kayla Andini. Melalui penampilan mereka, pesan film tentang pentingnya empati dan menghentikan bullying menjadi semakin kuat dan mengena di hati penonton.
Siti Mutiara, pemeran utama yang bernama Ajeng, mengungkapkan kesannya berperan dalam film ini.
“Yang paling berkesan adalah saat aku harus menangis di dalam toilet. Kak Irfan sebagai director berhasil membantu membangkitkan emosi itu sampai aku bisa tampil maksimal,” ungkap Siti sambil mengenang adegan tersebut.
Renata Fichri Puteri, yang berperan sebagai Sarah yang menjadi karakter utama pem-bully pada film tersebut, juga membagikan pengalamannya.
“Saya merasa senang bisa memerankan karakter pem-bully, tapi jujur, saya agak khawatir akan reaksi penonton karena karakter seperti ini sering membuat orang kesal. Namun, melalui peran ini, saya jadi lebih sadar akan pentingnya menghargai perasaan orang lain,” jelas Renata.

Dhea Rizky Ananda, berperan sebagai Mina, yaitu pemeran utama yang menjadi korban bully Sarah, berbagi harapannya dari adanya film pendek Lara Bisu ini.
“Semoga dengan peran ini, aku bisa mengingatkan penonton untuk menjaga perasaan orang lain agar tidak ada yang terluka karena perilaku kita,” ungkap Dhea.
Adanya film pendek “Lara Bisu” ini, diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk bergabung dalam gerakan #1MillionYouthsStopBullying, agar tercipta lingkungan sekolah yang lebih aman dan nyaman. Stop bullying, be supportive!
Semangat gerakan #1MillionYouthsStopBulliying didukung oleh PT Paragon Corp dan Indikia Foundation.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Rohimatul Janah
Editor: Darmadi Sasongko








