TUBAN, Tugujatim.id – Suasana peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2025 di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tampil jauh dari anggapan umum. Pekerja di Tuban tidak membawa poster tuntutan atau membuat barisan demonstran yang menggelora.
Sebaliknya, kawasan GOR Ranggajaya Anoraga justru disulap menjadi panggung hiburan rakyat dengan iringan musik dangdut yang menggoda langkah puluhan pekerja di Tuban untuk berjoget massal bersama pada Kamis (01/05/2025).
Alih-alih memanaskan jalan dengan orasi, para buruh dari berbagai serikat di Tuban memilih berdendang dan bersorak. Iringan lagu dangdut menggantikan megafon, sementara semangat perjuangan diterjemahkan dalam langkah kaki yang meliuk mengikuti irama.
Baca Juga: Jalan Sehat Peringati Hari Buruh, Wujud Cinta Pemerintah, Pekerja, dan Pengusaha Jember
Plt Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Perindustrian (Disnakerin) Tuban Rohman Ubaid menyebut, kegiatan ini sebagai bentuk pendekatan baru dalam merawat hubungan industrial.
“Total ada sekitar 650 buruh dari 49 serikat pekerja dan perusahaan yang hadir. Mulai dari FSPMI, SPN, hingga PUK perusahaan besar seperti PLN Nusantara Power dan TPPI,” ujarnya.
Menurut dia, pemerintah daerah bersama forkopimda tengah mendorong kolaborasi lintas sektor demi menciptakan iklim investasi yang ramah dan stabil. Dengan suasana yang kondusif, produktivitas bisa meningkat.
“Harapannya ini berimbas pada kesejahteraan pekerja dan kelangsungan industri di Tuban,” tambah Ubaid yang juga menjabat kepala Dispendukcapil Tuban.
Ubaid mengklaim, antusiasme buruh atas pendekatan persuasif ini tinggi. Acara ini bukan sekadar selebrasi, tapi bagian dari komunikasi sosial.
“Komitmen pekerja untuk meningkatkan kualitas kerja juga menjadi poin penting dalam kegiatan ini,” ungkapnya.
Bupati Respons Usulan Buruh
Sementara itu, Ketua Konsulat Cabang FSPMI Tuban Duraji memandang peringatan May Day tahun ini sebagai bentuk baru dari dialog sosial antara buruh dan pemerintah. Menurut dia, komunikasi tidak hanya dilakukan saat perayaan, namun juga dalam ruang-ruang diskusi bersama.
“Beberapa waktu lalu kami diundang langsung oleh Pak Bupati. Kami sampaikan aspirasi. Mulai dari desakan revisi UU Ketenagakerjaan yang terdampak UU Cipta Kerja, penambahan kuota PBID untuk BPJS KIS, hingga wacana pendirian rumah singgah bagi warga Tuban yang berobat ke Surabaya,” bebernya.
Menurut Duraji, seluruh usulan tersebut telah dicatat dan beberapa bahkan langsung mendapatkan tanggapan dari bupati.
“Kami tidak ingin hanya menuntut lewat demo. Kini kami mencoba pendekatan yang lebih komunikatif, dan pemerintah pun menyambutnya,” tegasnya.
Salah satu usulan yang cukup mencuri perhatian adalah rencana pembangunan rumah singgah di Surabaya, sebagaimana yang sudah dilakukan Kabupaten Bojonegoro.
“Ini penting. Banyak warga Tuban yang berobat ke Surabaya tapi kesulitan tempat tinggal. Rumah singgah bisa jadi solusi kemanusiaan,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati







