SURABAYA, Tugujatim.id – Serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap instalasi nuklir Iran telah mengguncang tatanan geopolitik global. Pakar Unair pun angkat bicara.
Meski skalanya terbatas, langkah ini dipandang sebagai sinyal kuat keterlibatan Washington dalam konflik panas antara Iran dan Israel. Yang mana, bisa menyulut krisis lebih besar secara global.
Baca Juga: Begini Kata PT Tjiwi Kimia Soal Dampak Perang Tarif China-AS
Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga (Unair) Agastya Wardhana menyampaikan keterlibatan Amerika bukan sekadar aksi militer, melainkan langkah strategis yang sarat kepentingan.
“Amerika Serikat jelas berdiri di sisi Israel. Di bawah kepemimpinan Donald Trump, tekanan terhadap program nuklir Iran menjadi misi utama,” kata akademisi yang akrab disapa Agas itu pada Selasa, (24/06/2025).
Trump dan Strategi “Hit and Run” di Timur Tengah
Menurut Agas, Trump ini sengaja memanfaatkan konflik tersebut untuk mengerem ambisi nuklir Iran tanpa perlu terjebak dalam perang berkepanjangan.
“Trump tidak mau kirim pasukan. Dia hanya ingin target dihantam, lalu mundur. Ini bukan soal perang total, tapi soal simbol kekuatan,” terang Agas.
Dia menilai pendekatan ini sengaja dipilih agar AS tetap berpengaruh secara militer tanpa menanggung risiko politik dan ekonomi jangka panjang.
“Justru dengan strategi ‘hit and run’ itu yang bisa memicu reaksi balasan Iran yang tidak terduga,” imbuhnya.
Selat Hormuz: Urat Nadi Energi Dunia
Salah satu konsekuensi paling mengkhawatirkan dari konflik ini adalah potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Dikarenakan, selat ini salah satu jalur yang menjadi nadi utama distribusi minyak dunia.
Agas pun memperingatkan bahwa sekitar 50–70 persen pasokan minyak global melewati selat tersebut.
“Kalau Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak akan melonjak. Efeknya, dunia bisa kembali ke jurang krisis ekonomi,” paparnya.
Dia menambahkan, lonjakan harga emas dan minyak beberapa waktu terakhir merupakan cerminan ketidakpastian global akibat tensi geopolitik yang terus memanas.
Negara Berkembang Berada di Persimpangan
Lalu, dia menyebut bahwa posisi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, mereka tidak punya kapasitas militer yang cukup untuk bisa ikut campur langsung. Namun, peran diplomatik tetap bisa dimainkan.
Menurut dia, diplomasi multilateral bisa menjadi alat untuk meredam eskalasi dan menawarkan solusi damai.
“Indonesia bisa bergerak lewat forum seperti OKI atau PBB. Setidaknya memberikan tekanan agar konflik tidak makin memburuk,” tuturnya.
Superioritas AS Tak Tertandingi
Agas juga menyebut bahwa hingga saat ini, hanya Amerika Serikat (AS) yang memiliki kapabilitas serangan militer sepresisi ini.
“Sebenarnya untuk Rusia dan China punya kekuatan besar, tapi tidak seefisien dan secepat AS dalam melakukan operasi semacam ini,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Layla Aini
Editor: Dwi Lindawati








