TUBAN, Tugujatim.id – Himpitan ekonomi membuat sejumlah pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Wisata Religi Makam Sunan Bonang, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban, Kabupaten Tuban, nekat kembali menggelar lapak. Pedagang Sunan Bonang membuka lapak pada Senin (30/06/2025).
Pedagang Sunan Bonang membuka lapaknya di atas trotoar, tepatnya di depan Gapura Timur makam meski belum mendapat izin resmi dari pihak berwenang.
Baca Juga: Haul Sunan Bonang 2025 Digelar di Alun-Alun Tuban, Tiadakan PKL demi Jaga Kebersihan
Larangan pedagang Sunan Bonang jualan ini sebenarnya sudah diberlakukan sejak pertengahan 2024, menyusul pembangunan trotoar di sepanjang jalur strategis wisata religi. Pembangunan meliputi kawasan Alun-Alun Tuban, area Masjid Agung Tuban, hingga akses utama menuju Makam Sunan Bonang.
Kebijakan itu membuat para pedagang harus angkat kaki dari lokasi yang selama ini menjadi sumber utama penghasilan mereka. Salah satunya Farid Hendra, 47, yang sudah lebih dari tiga dekade berjualan oleh-oleh dan cenderamata di lokasi tersebut.
“Sejak pembangunan trotoar selesai, kami dilarang jualan total. Padahal, saya sudah berdagang di sini hampir 35 tahun. Ini usaha turun-temurun dari orang tua saya,” ujar Farid saat ditemui Tugujatim.id, Seni (30/06/2025).
Awalnya, Farid mengatakan, para pedagang masih diberi kelonggaran untuk berjualan di sore hari. Namun, kelonggaran itu tidak bertahan lama. Sekitar dua bulan berjalan, larangan total kembali diberlakukan.

Sejak itu, Farid dan rekan-rekannya berkali-kali mencari solusi. Mereka bolak-balik menemui pejabat dari dinas koperasi, UKM, dan perdagangan (diskopumdag), bahkan sempat mendatangi DPRD Tuban. Sayangnya, hasilnya nihil.
“Katanya mau dicarikan tempat, tapi sampai sekarang tidak ada kepastian. Kami merasa seperti dipimpong,” keluhnya.
Menurut dia, para pedagang sebenarnya tidak menolak untuk ditata. Bahkan bila dikenakan retribusi resmi, mereka siap. Asal ada kejelasan dan solusi yang tidak memberatkan satu pihak.
“Yang penting kami masih bisa mencari nafkah dengan cara yang layak. Kalau digusur tapi tidak ada tempat pengganti yang layak, ya susah,” ucapnya.
Beban PKL selama Tak Jualan Berat
Selama tidak berjualan, beban ekonomi keluarga makin berat. Kebutuhan rumah tangga, biaya sekolah anak yang memasuki ajaran baru, dan utang modal lama masih menumpuk.
Farid mengaku sempat kehilangan empat unit motor milik rekan-rekannya saat kawasan makam menjadi sepi karena tidak ada aktivitas pedagang yang biasa ikut berjaga.

“Dulu kalau malam masih ada kami yang jualan dan jaga. Sekarang sepi, nggak ada yang ngawasi, malah tambah rawan kehilangan,” jelasnya.
Kini para pedagang berharap adanya kebijakan baru yang lebih berpihak. Bukan sekadar pelarangan, tetapi juga penataan yang manusiawi.
“Kami cuma ingin hidup layak. Kami sadar ini kawasan wisata religi. Justru kami ingin ikut menjaga asal diberi ruang yang layak,” ujar Farid.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








