JEMBER, Tugujatim.id – Maraknya Fenomena Jurnal Predator yang bermunculan, menuai respons serius Ketua Pusat Studi Publikasi Ilmiah di Universitas Muhammadiyah Jember, Abdul Jalil.
Ia menyoroti betapa krusialnya kemampuan mengidentifikasi publikasi ilmiah yang bermasalah guna menghindarkan diri dari praktik penerbitan yang merugikan.
Jalil menjelaskan bahwa Indonesia masih belum memiliki regulasi yang eksplisit mengenai definisi publikasi bermasalah. Meski demikian, rujukan global seperti katalog yang dikurasi Jeffrey Beall, seorang pustakawan AS, dapat dimanfaatkan sebagai panduan.
“Apabila suatu terbitan atau pengelola publikasi tercantum dalam katalog Beall, hal tersebut merupakan sinyal bahaya yang wajib diwaspadai,” jelasnya pada Jumat (25/7/2025).
Ia juga merekomendasikan penggunaan instrumen evaluasi yang dikembangkan Loyola Marymount University sebagai mekanisme penilaian alternatif selain rujukan Beall.
Instrumen tersebut mengukur berbagai parameter, termasuk frekuensi penerbitan yang mencurigakan, absennya mekanisme evaluasi sejawat, serta ketidakjelasan identitas pengelola publikasi.
“Indikator seperti volume penerbitan yang irasional atau tarif publikasi yang fantastis tanpa proses evaluasi yang memadai sudah seharusnya menjadi peringatan,” imbuhnya.
Menurutnya, fenomena publikasi bermasalah umumnya menyasar terbitan internasional bergengsi, mengingat banyaknya akademisi yang mengincar publikasi prestisius untuk memenuhi persyaratan promosi akademik hingga mencapai profesor.
Kompleksitas sistem pendidikan tinggi dan tuntutan administratif yang berat kerap mendorong munculnya perilaku tidak etis di kalangan dosen.
“Sebagian menggunakan layanan ‘jalan pintas’ atau bahkan terjebak ke dalam publikasi bermasalah demi memenuhi target kinerja akademik. Praktik semacam ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai akademik,” kritiknya.
Untuk memastikan kredibilitas publikasi, Jalil menekankan pentingnya verifikasi melalui sumber terpercaya. Publikasi internasional dapat dicek melalui basis data Scopus dan platform SJR, sementara publikasi domestik dapat diverifikasi lewat portal SINTA Kemendikbudristek.
“Jangan mudah tertipu dengan klaim di situs web. Periksa masa berlaku akreditasi di SINTA, validasi legalitas penerbit, dan pastikan keaslian nomor seri publikasi,” sarannya.
Jalil juga mengangkat isu pembajakan jurnal, yakni praktik pembuatan situs tiruan yang meniru publikasi asli untuk memperdaya penulis.
“Tampilan situsnya bisa sangat meyakinkan, padahal bukan milik penerbit yang sesungguhnya. Banyak korban, khususnya mahasiswa yang masih awam,” ungkapnya.
Sebagai rekomendasi, Jalil mendorong komunitas akademik untuk senantiasa bersikap waspada. Ketika meragukan kredibilitas suatu publikasi, formulir evaluasi Loyola Marymount dapat dijadikan acuan mandiri.
“Sayang sekali jika karya ilmiah yang telah disusun dengan susah payah dan menghabiskan dana besar justru tidak dapat digunakan untuk kepentingan karir akademik,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Diki Febrianto
Editor: Darmadi Sasongko








