MALANG, Tugujatim.id – Puncak Festival Kampung Budoyo Ketawanggede #3 di sepanjang Jalan Kerto Pamuji, Jalan Kerto Raharjo, dan Jalan Watu Mujur I, Kota Malang, Jatim, pecah pada Senin (22/09/2025). Lebih dari 2.000 orang berkunjung selama empat hari (19-22/09/2025).
Rangkaian kegiatan sukses digelar mulai dari pembukaan hingga penutupan. Antusiasme dari masyarakat baik sebagai pengisi acara maupun pengunjung membantu kesuksesan acara ini. Semua orang berpartisipasi dengan tujuan yang sama, yaitu melestarikan dan mengharmonisasi budaya lokal dengan budaya asing.
Baca Juga: Kali Ketiga Digelar, Festival Kampung Budoyo Ketawanggede 2025 Gandeng Universitas Brawijaya
Pengadaan workshop menjadi penutup yang spektakuler untuk kegiatan ini. Adanya kegiatan workshop dapat menjadi momen bagi masyarakat untuk terus belajar dan melestarikan kebudayaan yang ada di sekitar.
Wayang Jadi Media Penyampai Pesan untuk Generasi Muda
Workshop pembuatan wayang menjadi salah satu kegiatan yang dilaksanakan di Festival Kampung Budoyo Ketawanggede #3. Kegiatan ini bermula dari keresahan Iwan dan Mbah Jo, seniman dolanan anak-anak, yang mengkhawatirkan generasi muda meninggalkan budaya tradisional.
Seniman dolanan anak-anak Iwan mengatakan, dia dan Mbah Jo ingin mengajarkan pembuatan wayang suket. Namun karena prosesnya cukup sulit, akhirnya mengganti bahan dasar dengan kertas agar lebih mudah dibentuk oleh anak-anak.
“Sebenarnya ingin mengajarkan pembuatan wayang dari mendong, tetapi karena lumayan sulit dibentuk, akhirnya menggunakan kertas sebagai bahan dasar lain agar lebih mudah ditiru anak-anak,” ujar Iwan, seniman dolanan anak-anak.
Workshop pembuatan wayang ini bertujuan untuk melestarikan seni wayangan yang saat ini mulai terkikis oleh budaya modern. Tidak banyak generasi muda yang tahu mengenai pertunjukan bahkan pembuatan wayang. Iwan mengatakan, hasil workshop ini boleh dibawa pulang untuk mainan anak-anak di rumah.
“Wayang yang sudah dibuat boleh dibawa pulang untuk mainan pengganti biar nggak main HP terus. HP-nya bisa dibuat lampu saat main wayang,” lanjut Iwan.

Di samping itu, tidak hanya mengajarkan pembuatan wayang saja, Iwan dan Mbah Jo juga mengedukasi kebudayaan perilaku kepada generasi muda, terutama anak-anak. Mbah Jo mengatakan, workshop ini tidak hanya mempelajari pembuatan wayang saja, tetapi juga mempelajari cara menampilkannya dengan beragam cerita.
“Tampilan wayang di sini bukan cuma cerita rakyat saja, bisa cerita tentang sehari-hari yang dapat mengedukasi anak kecil tentang cara berperilaku yang baik,” ujar Mbah Jo.
Dia juga mengungkapkan harapannya, kegiatan ini bukan sekadar dijadikan hiburan dan mainan saja. Melalui kegiatan ini, pesan-pesan moral dan nilai-nilai budaya dapat diajarkan kepada generasi muda.
“Harapannya, kegiatan ini juga dapat menjadi tempat belajar bagi anak-anak. Belajar sopan santun, bertutur kata yang baik, juga menghormati orang tua,” pungkas Mbah Jo.
Dengan adanya workshop ini, banyak anak kecil mulai mengenal budaya lokal berupa wayang. Tidak hanya itu, mereka juga mendapatkan edukasi untuk berperilaku dan bertutur kata yang baik. Di samping itu, mereka tidak hanya terus mengikuti arus budaya modern, tetapi dapat ikut melestarikan budaya lokal.
Selain workshop pembuatan wayang, Mbah Jo dan Iwan juga menawarkan kepada pengunjung untuk diramal masa depannya menggunakan tarot jawa. Penonton sesi ini kebanyakan adalah mahasiswa.
Salah satunya Erli, mahasiswi Universitas Brawijaya, yang tertarik berkunjung ke Festival Kampung Budoyo Ketawanggede #3 karena terdapat stand baca tarot jawa.
“Saya ke sini karena tertarik dengan tarot jawa. Ingin tahu tarot jawa itu bagaimana sih dan ingin tahu ramalan tentang saya juga,” ujar Erli.
Xylography: Budaya dari Cina yang Mendunia
Di samping pengenalan budaya lokal, Festival Kampung Budoyo Ketawanggede #3 juga memberi kesempatan pengunjung untuk belajar budaya asing melalui workshop. Xylography atau seni cetak cukil diperkenalkan melalui sebuah workshop.
Pegiat seni cukil Angga mengatakan, seni cukil merupakan seni cetak tertua di dunia sebelum ada teknik sablon dan mesin-mesin cetak. Seni cukil juga dapat dikenal dengan nama seni cetak tinggi atau xylography.
“Seni cukil ini bentuk dari seni cetak tertua di dunia, pertama kali dilakukan oleh peradaban Mesopotamia. Nama lainnya xylography dari bahasa Yunani, xylon artinya potongan kayu, graphy itu gambar, jadi gambar di atas potongan balok kayu,” kata Angga.
Dia juga menambahkan, teknik seni cukil digambar pada balok kayu untuk mendesain motif kain saat peradaban Mesopotamia. Kemudian, mulai muncul di Cina untuk mencetak gambar dewa-dewi Buddha, membuat buku, hingga membuat kitab-kitab keagamaan yang membuat teknik ini semakin terkenal di seluruh penjuru Asia dan Eropa.

“Saat peradaban Mesopotamia gambarnya di atas balok kayu buat bikin motif baju. Terus berawal di Cina tahun 220M mulai digunakan untuk membuat buku, poster, gambar dewa-dewi Buddha, dan kitab-kitab keagamaan, jadi terkenal di Asia dan Eropa sampai saat ini,” ujar Angga.
Dahulu, seni cetak cukil memang diaplikasikan di sebuah balok kayu. Namun, saat ini terdapat bahan linocut yang terbuat dari karet untuk mempermudah proses menggambar.
Pada workshop ini, Angga tidak hanya menceritakan sejarah xylography saja, tetapi juga mengajarkan cara pembuatannya kepada peserta. Media yang digunakan dalam pembelajaran membuat xylography yaitu linocut. Dia mengatakan, nantinya peserta bisa membawa pulang hasil gambar yang telah dikerjakan.
Kemeriahan Festival Kampung Budoyo Ketawanggede #3
Selain workshop, Festival Kampung Budoyo Ketawanggede #3 juga dimeriahkan oleh tampilan-tampilan dari warga dan mahasiswa Universitas Brawijaya, berupa pameran lukisan, festival kuliner, penampilan banjari, hingga tari-tarian tradisional untuk menutup rangkaian festival.
Ketua Pelaksana Yanto Catur mengatakan, pihaknya sangat senang acara ini berlangsung meriah selama empat hari. Dia berharap tahun depan dapat melaksanakan acara ini lagi untuk yang kali keempat.
“Saya senang melalui acara ini warga dan mahasiswa dapat bekerja sama untuk mengembangkan kreativitas dalam rangka melestarikan kebudayaan. Semoga kami dapat menjalankan event ini lagi di bulan September 2026,” ujar Yanto.

Acara Festival Kampung Budoyo Ketawanggede tentunya berhasil digelar secara meriah karena dukungan dari masyarakat sekitar.
Lurah Ketawanggede Raden Agung Harjaya Buana SE MSE mengatakan, festival ini dapat sukses karena dukungan dari seluruh komponen yang ada di Ketawanggede.
“Suksesnya acara ini berkat dukungan seluruh warga Ketawanggede, PKK, P4GN, Koperasi Merah Putih, Green Ketawanggede, dan program Kampung Lingkar Kampus yang bekerja sama dengan Universitas Brawijaya. Semoga acara ini dapat terus digelar setiap tahunnya, sukses selalu untuk Ketawanggede,” ujar Raden.
Festival ini rupanya juga menarik perhatian Anggota DPRD Kota Malang Anastasia Ida Soesanti. Dia menyampaikan harapannya agar Festival Kampung Budoyo Ketawanggede tetap berjalan untuk mendukung perekonomian warganya.

“Saya lihat banyak UMKM di daerah ini. Karena itu, semoga acara ini dapat digelar setiap tahunnya untuk mendukung UMKM dan memajukan perekonomian warga Ketawanggede,” kata Ida.
Adanya Festival Kampung Budoyo Ketawanggede ini menunjukkan bahwa budaya lokal tetap bisa hidup berdampingan dengan modernitas. Festival ini dapat tumbuh menjadi ruang kreatif yang mampu menjaga identitas bangsa sekaligus meningkatkan ekonomi warga.
Melalui pelestarian budaya, nilai-nilai luhur yang diwariskan tidak hanya menjadi tontonan sesaat, tetapi terus hidup dan memberi manfaat yang nyata bagi masyarakat. Karena itu, setelah festival ini usai, tanggung jawab masyarakat untuk menjaga budaya tidak boleh berhenti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Nur Laila Khoriroh/Magang
Editor: Dwi Lindawati








