JEMBER, Tugujatim.id – Tragedi ambruknya bangunan musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, Jatim, menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar mengenai keamanan konstruksi bangunan pendidikan.
Di tengah perbincangan soal penyebab, pakar struktur dari Universitas Jember (Unej) Dr Ir Erno Widayanto ST MT memberikan pandangan edukatif tentang bagaimana masyarakat bisa lebih peka mengenali tanda-tanda awal sebuah gedung berisiko runtuh.
Baca Juga: Dua Santri Dievakuasi dari Reruntuhan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo, Satu Selamat Bernama Haikal
Menurut Erno, bangunan seharusnya tidak langsung ambruk begitu saja, terutama bila konstruksinya memakai beton bertulang.
“Kalau itu memang bangunan beton bertulang, saya sangat heran terjadinya mendadak seperti itu. Biasanya sudah ada tanda-tanda awal sebelum runtuh, misalnya muncul retakan atau kemiringan,” jelasnya.
Retakan Lokal vs Retakan Struktural
Dalam wawancara bersama Tugujatim.id, Erno menjelaskan pentingnya membedakan retakan lokal dan retakan struktural.
• Retakan lokal: hanya muncul di satu titik tertentu dan tidak langsung mengganggu keseluruhan kekuatan gedung.
• Retakan struktural: menyebar dan berdampak pada kestabilan bangunan secara keseluruhan.
“Kalau retakan itu sifatnya menyeluruh, itu sudah sinyal bahaya. Retak saja sudah tidak boleh ditempati, apalagi kalau sampai miring,” tegas Erno.
Kesadaran masyarakat untuk memahami perbedaan dua jenis retakan ini, menurut dia, sangat penting. Sayangnya, banyak yang tidak peduli hingga akhirnya bencana tidak bisa dihindari.
Kemiringan dan Sambungan Besi
Selain retakan, tanda lain yang harus diperhatikan adalah kemiringan bangunan. Jika ada pergeseran dari posisi tegak lurus, itu indikasi bahwa struktur sudah tidak lagi stabil.
Lebih jauh, Erno juga menyoroti soal penempatan dan sambungan besi dalam konstruksi. Menurut dia, kesalahan dalam peletakan tulangan atau sambungan besi yang tidak nyambung bisa menjadi penyebab fatal.

“Gedung normalnya tidak akan langsung runtuh. Kalau ada sambungan besi tidak nyambung, itu sangat berbahaya. Itu yang perlu dicek di lapangan,” katanya.
Peran Inspeksi dan Akademisi
Erno menekankan pentingnya inspeksi rutin. Dia sering diminta sebagai konsultan untuk memeriksa gedung di Jember, Bondowoso, hingga Banyuwangi. Metodenya adalah inspeksi visual, kemudian analisis struktural untuk memastikan bangunan aman atau tidak.
“Semua gedung sebaiknya diinspeksi oleh akademisi atau insinyur. Jangan menunggu sampai retak besar atau miring. Denah bangunan juga jangan sampai hilang, karena itu dokumen penting,” pesannya.
Pentingnya Peran Insinyur dan Standar Bangunan Pendidikan
Menurut Erno, tragedi ambruknya bangunan di ponpes ini juga menjadi alarm bagi dunia pendidikan. Banyak pesantren membangun gedung dengan dana sumbangan tanpa melibatkan insinyur bersertifikat, hanya mengandalkan tukang bangunan.
“Pesantren itu biasanya dibangun tanpa melibatkan tenaga insinyur. Tukang biasanya tidak paham mekanika struktur, apalagi untuk bangunan yang lebih dari 2 lantai. Kalau insinyur, dia berpikir apakah gedung bisa berdiri lama atau tidak. Itu perbedaannya,” tegas Erno.

Dia menambahkan, dalam pembangunan gedung pendidikan harus ada izin mendirikan bangunan (IMB) yang melibatkan akademisi atau tenaga ahli untuk memastikan konstruksi sesuai standar. Menurut dia, jika ada standar khusus untuk bangunan pendidikan nonformal seperti pesantren, maka keselamatan penghuni bisa lebih terjamin.
Pesan untuk Pengelola Pesantren dan Bangunan Tua
Erno juga mengingatkan pentingnya kepedulian pengasuh dan pengelola pondok pesantren terhadap aspek keselamatan. Keselamatan santri, menurut dia, tidak bisa ditawar.
“Melibatkan insinyur itu wajib. Jangan hanya andalkan tukang. Kiai atau pengelola harus pastikan bangunan sesuai prosedur dan aman dihuni,” tegasnya.
Selain itu, dia memberi perhatian khusus pada bangunan tua. Gedung-gedung yang dibangun sejak 1980-an, misalnya, perlu dilakukan inspeksi ulang karena materialnya bisa sudah keropos atau tulangan besinya tidak lagi mampu menahan beban.
“Banyak gedung lama yang sangat rentan. Cepat atau lambat akan terjadi sesuatu kalau tidak diperiksa. Jangan tunggu ada korban baru diperbaiki,” katanya memberi peringatan.
Edukasi Keselamatan untuk Masyarakat
Dari kasus Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo, Erno berharap masyarakat lebih peduli pada aspek keselamatan. Jangan menunggu tragedi terjadi baru menyadari pentingnya standar konstruksi. Apalagi, lembaga pendidikan yang dihuni banyak orang.
“Retakan kecil itu bukan hal sepele. Itu sinyal awal. Begitu ada tanda-tanda, jangan ditempati. Segera panggil pihak ahli,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Feni Yusnia
Editor: Dwi Lindawati








