PEKALONGAN, Tugujatim.id – Rumah Batik TBIG Pekalongan (PT Tower Bersama Infrastructure Tbk Pekalongan) menggelar wisuda keenam angkatan ke-9 Rumah Batik dan Culinary ke-1 di Jl Kampung Singgah, RT 12, RW 04, Kelurahan Gumawang, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, Jatim, Kamis pagi (09/10/2025). Sebanyak 45 lulusan anak muda di Rumah Batik TBIG ini tampak semringah dan bahagia.
Untuk diketahui, Rumah Batik TBIG mewisuda 45 lulusan. Rinciannya, sebanyak 30 peserta di Kelas Reguler A membatik mengikuti pembelajaran semester 1 (Oktober 2024-Maret 2025) dan semester 2 (April-September 2025). Dari 30 peserta, 27 orang di antaranya lulus mengikuti program pembelajaran membatik di TBIG selama 6 bulan. Mereka diajari kompetensi meliputi desain batik, pelekatan lilin, pewarnaan, hingga penyempurnaan produk.
Untuk periode dan kompetensi yang sama di Kelas Reguler B, sebanyak 10 peserta difabel mengikuti pembelajaran selama 6 bulan. Delapan peserta difabel di antaranya dinyatakan lulus.
Sedangkan Kelas Culinary, ada 11 peserta dengan masa pembelajaran (Juli-September 2025). Mereka diajari kompetensi meliputi desain pemahaman resep, pengenalan bahan, pengolahan, pengemasan, dan penentuan harga jual. Sebanyak 10 orang dinyatakan lulus.

Bukti Komitmen Kuat CSR TBIG untuk Masyarakat
Chief of Business Support Officer TBIG Lie Si An mengatakan, pihaknya rutin menggelar wisuda di Rumah Batik setiap tahun. Selain wisudawan angkatan ke-9 di Rumah Batik, dia mengatakan, ada siswa yang lulus kali pertama di bidang culinary.
“Senang sekali bisa hadir di acara wisuda yang digelar setiap tahun di Rumah Batik TBIG Pekalongan. Saat ini wisuda angkatan ke-9. Untuk tahun ini ada tambahan lagi, wisuda yang pertama di bidang culinary,” ujarnya.
Wisuda ini, dia mengatakan, membuktikan komitmen dan kesuksesan TBIG melalui program corporate social responsibility (CSR)-nya secara berkelanjutan untuk masyarakat. Dia melanjutkan, konsistensi TBIG ini ditunjukkan sejak peresmian Rumah Batik Pekalongan pada 2014.

“Konsistensi keberlangsungan CSR ini ditunjukkan sejak peresmian Rumah Batik sekitar 10 tahun yang lalu atau pada 2014. Ini bukti komitmen CSR TBIG untuk masyarakat,” kata Si An, sapaan akrabnya.
Si An juga juga berpesan kepada para lulusan Rumah Batik TBIG bahwa mereka harus memanfaatkan ilmu yang sudah didapatkan. Dia juga mengatakan, TBIG akan terus membina para lulusan melalui Koperasi Bangun Bersama (KBB) yang sudah didirikan perusahaan.
“Saya berpesan kepada para lulusan harus memanfaatkan ilmu yang diperoleh di Rumah Batik dengan sebaik-baiknya. Ilmu yang sudah didapat ini jadi bekal untuk masa depan kalian. Para lulusan juga akan terus dibina melalui Koperasi Bangun Bersama (KBB),” katanya.
Bahkan, dia juga mengaku khusus meminta dibuatkan baju batik spesial untuk menghadiri wisuda.

“Baju batik saya hari ini adalah hasil dari wisudawan (Rumah Batik, Red). Saya pesan baju batik khusus edisi saya,” ujar Si An dengan bangga disambut tepuk tangan para hadirin.
Sementara itu, Ketua Koperasi Jasa Bangun Bersama (KBB) Nanang Tri Purwanto mengatakan, Rumah Batik TBIG bagian dari program Bangun Budaya. Bentuknya, dia mengatakan, dengan menyelenggarakan pelatihan yang fokusnya pada pelestarian batik sejak 2014.
“Rumah Batik ini merupakan bagian dari program Bangun Budaya dari TBIG. Fokusnya pada pelestarian batik yang diselenggarakan sejak 2014,” ujarnya.
Visi ke depannya, Nanang, sapaan akrabnya, melanjutkan, menjadi center of exellence pendidikan batik di Indonesia.
“Kami ingin ke depannya menjadi pusat pendidikan membatik di Indonesia,” katanya.

Sedangkan misinya, dia mengatakan, menjadi pusat pendidikan batik yang inklusif dan ramah lingkungan di Indonesia yang terstruktur dan terprogram. Selain itu, menyediakan fasilitas dan sumber daya pembelajaran memadai, menyediakan jalur inkubasi dan pendampingan usaha, dan membangun kemitraan strategis dengan pihak eksternal yang berdampak positif pada program pelatihan.
“Kami mengusung pelatihan yang terstruktur dan terprogram dengan mengangkat isu inklusif dan ramah lingkungan,” ungkap Nanang.
Testimoni dari Difabel hingga Wali Murid
Salah satu difabel Tuli yang diwisuda bernama Nazatul Desvia M, 16, mengaku bahagia sudah lulus di Rumah Batik ini. Dia mengaku meski sudah lulus terus ingin belajar membatik di Rumah Batik TBIG.
“Saya merasa senang dan bahagia sudah lulus,” ujar siswi SMA LB di Pekalongan ini memakai bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh trainer kelas disabilitas Rumah Batik TBIG Joko Padmanto.

Misrokha, 49, salah satu wali murid dari difabel SMA LB Negeri Wiradesa Pekalongan bernama Aris Alfaisal, mengatakan, merasa senang dan bahagia karena anaknya diwisuda. Dia mengaku, anaknya yang mengalami hambatan berpikir itu kini memiliki keterampilan dalam membatik.
“Saya pokoknya bahagia dan senang, anak saya yang mengalami keterlambatan berpikir kini memiliki keterampilan lewat Rumah Batik TBIG ini. Saya berharap program ini terus dilanjutkan agar para difabel bisa memiliki skill, khususnya dalam membatik,” ujarnya.

Rasa senang dan bangga juga ditunjukkan Aura Rezila Putri, wali siswa kelompok 3 reguler A Indah Handayani. Tidak hanya sekadar wisuda, Aura mengaku, acara ini menjadi bukti generasi muda bisa melestarikan budaya batik.
“Kegiatan ini membuktikan wujud nyata bahwa generasi muda sebagai penerus bisa melestarikan budaya membatik,” ujarnya.
Dia berharap, TBIG dapat terus meningkatkan program inklusinya secara berkelanjutan. Apalagi, dia mengatakan, pelatihan ini melibatkan difabel yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menuntut ilmu, apalagi dalam melestarikan budaya membatik.
“Acara ini sangat bermanfaat sekali karena TBIG totalitas dalam program CSR-nya, tanpa membedakan golongan, termasuk dengan kelompok difabel. Dia juga mendoakan agar TBIG makin sukses dan terus bermanfaat untuk masyarakat ke depannya,” tutupnya.

Selain Chief of Business Support Officer TBIG Lie Si An, hadir juga dalam acara ini di antaranya Corporate Social Responsibility Department Head TBIG Fahmi Sutan Alatas, Regional Operation Maintenance Department Head RO Jateng TBIG Safroni Wibawanto, Direktur Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) Nurcholis MA Basyari, Mentor JFCSR Batch 2 Frans Sudiarsis dan Jamalul Insan.
Selain itu, hadir juga Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia Pekalongan Raya Dra Hj Munafah Asip Kholbihi, Direktur KADIN Institute Kabupaten Pekalongan Naila Farha, Kepala Administratur Perhutani Pekalongan Timur Sugeng Bowo Leksono, Ketua Koperasi Jasa Bangun Bersama Nanang Tri Purwanto, Dewan Pengurus Koperasi jasa Bangun Bersama Eko Agus Supono, Dewan Pengurus Jasa Bangun Bersama Novita Dwi Handayani. Juga hadir Kepala SLB Juhariyah SPd, kades dan jajarannya, para wali murid, dan undangan lainnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Penulis: Dwi Lindawati
Editor: Darmadi Sasongko








