MALANG, Tugujatim.id – Siapa sangka di antara ribuan santri yang mondok di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoirot Malang, ada satu wajah asing yang menarik perhatian. Namanya Ivandino Fadila Zulkarnain, 26, pemuda asal Amerika Serikat, yang kini memilih hidup sederhana di Ponpes Al-Khoirot Malang.
Melansir dari wawancara di Channel YouTube Ponpes Al-Khoirot Malang, jadi lebih tahu mengapa Ivan lebih memilih nyantri di Indonesia. Yuk, simak kisah inspiratifnya!
Alasan Memilih Ponpes Al-Khoirot Malang
Ivan, sapaan akrabnya, mengaku ingin mempelajari ilmu agama lebih dalam lagi setidaknya sekali seumur hidupnya. Karena itu, pemuda dari Negeri Paman Sam bersama keluarganya ini memilih pesantren sebagai fondasi yang tepat untuknya menimba ilmu agama.
Setelah melalui beberapa pertimbangan untuk mencari alternatif pesantren yang tepat, Ponpes Al-Khoirot Malang di Jl KH Syuhud Zayyadi No 01, Dusun Adi Luwih, Karangsuko, Pagelaran, ini berada di urutan pertama dalam benaknya melalui saran dari teman-teman orang tuanya.
Tidak heran, dia memilih Ponpes Al-Khoirot sebagai tempat singgahnya. Sebab, fasilitas pendidikan dan kebutuhan sehari-hari sudah sangat memadai.
Kesan Unik Bisa Makan Bakso Setiap Asar
Pemuda berusia 26 tahun itu terkesan akan bangunan Ponpes Al-Khoirot Malang yang besar dan kokoh. Apalagi bangunannya memiliki ruang kelas dan asrama yang banyak. Tidak hanya itu, dia juga mengatakan, kebutuhan sehari-harinya sudah sangat lengkap.
Uniknya, dia mengatakan, bisa membeli bakso setiap hari setelah Asar.
“Anda tahu, di sini bisa membeli bakso setelah Asar setiap hari,” ujarnya.
Rutinitas Santri Internasional di Ponpes
Layaknya santri pada umumnya, Ivan bangun pukul 04.30 setiap harinya untuk salat Subuh berjemaah bersama dan dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an 1 setengah jam setiap hari.
Ustad Faishol, pembimbing santri dewasa, menjelaskan, setiap pukul 08.00 para santri dewasa melaksanakan kelas belajar Al-Qur’an sampai pukul 09.00. Setelah itu, dia mengatakan, kegiatan Ivan sama seperti santri reguler lainnya, yaitu Sekolah Madrasah Diniyah dan ngaji sorogan bersama pengasuh.
Dia juga mengatakan, Ponpes Al-Khoirot Malang sangat berkomitmen untuk mengajarkan generasi muda hingga lanjut usia untuk mempelajari Islam secara mendalam.
Melansir dari website Pondok Pesantren Al-Khoirot Malang, ponpes ini memiliki aspirasi untuk “Mencetak Ulama-Ilmuan dan Ilmuan-Ulama”. Tidak heran jika Ponpes Al-Khoirot memiliki fokus terhadap pembelajaran formal maupun non-formal.
Ivan juga mengatakan, Ponpes Al-Khoirot memiliki pemikiran sangat terbuka dalam belajar mengajar.
Dia juga mengapresiasi orang-orangnya (santri dan pengajar) ramah antara satu sama lain.
“Bagi saya, menghabiskan waktu bersama teman-teman itu sangat menyenangkan, baik itu di kelas maupun di luar kelas,” ujarnya.
Dia menekankan bahwa belajar agama Islam di Ponpes Al-Khoirot, baik generasi muda maupun sudah dewasa itu sangat memungkinkan.
Daya Tarik Ponpes Al-Khoirot Malang

1. Infrastruktur
Al-Khoirot adalah salah satu pesantren di Malang yang memiliki infrastruktur yang memadai, seperti:
- Asrama bagi santri.
- Ruang kelas yang memadai.
- Kamar mandi.
- Koperasi yang menyediakan jajanan,baju,alat mandi hingga perlengkapan kosmetik.
- Kantin yang menyediakan makanan lengkap.
2. Jenjang Pendidikan Lengkap
Pesantren yang terletak di Kecamatan Pagelaran itu memiliki jenjang pendidikan lengkap, mulai TK hingga kerja sama dengan perguruan tinggi.
3. Biaya Murah dan Terjangkau
Hanya dengan biaya mulai dari Rp160.000 (seratus enam puluh ribu rupiah) untuk santri kilat; dan Rp2 jutaan untuk santri reguler, sudah bisa belajar agama di pesantren. Sedangkan untuk biaya per bulan adalah Rp150 ribu untuk MTS (siswa formal SLTP) dan Rp155 ribu untuk MA (siswa formal SLTA). Ini di luar makan dan laundry.
Apakah Lanisa Masih Bisa Mondok?
Terkadang banyak dari kita yang baru sadar pentingnya mengenyam sebuah pendidikan ketika sudah lanjut usia (lansia). Lalu apakah dengan usia yang sudah tidak muda lagi masih bisa menimba ilmu agama di pesantren ini?
Jangan khawatir, Ponpes Al-Khoirot sudah menyediakan program khusus untuk santri dewasa terhitung dari usia 18 tahun hingga tidak terbatas.
Sementara itu, santri dewasa akan mendapat perlakuan khusus dari segi bimbingan keagamaan. Jika santri reguler (non-dewasa) akan ditempatkan di kelas madrasah diniyah berdasarkan hasil tes kemampuan dasar ilmu agamanya, maka santri dewasa akan diberi kebebasan untuk memilih kelas yang dia sukai tanpa melalui tes masuk.
Apakah Santri Bisa Dapat Beasiswa Kuliah?
Jawaban tepatnya adalah bisa! Pondok Pesantren Al-Khoirot memiliki aspirasi untuk mencetak ulama-ilmuwan dan ilmuwan-ulama yang berakhlak mulia. Dalam kriterianya, ulama adalah santri yang minimal lulus madrasah diniyah tingkat Tsanawi Al-Khoirot dan idealnya lulus Ma’had Aly Al-Khoirot.
Sedangkan ilmuwan adalah santri yang secara akademis lulus doktor atau S-3 berbagai jurusan. Baik bidang studi agama maupun sains. Maka untuk mempercepat tercapainya tujuan tersebut, Al-Khoirot Scholarship Foundation meluncurkan program 100 beasiswa doktor untuk santri.
Itulah yang menjadikan Ivan memilih Ponpes Al-Khoirot Malang sebagai tempat menimba ilmu agama Islam di Indonesia.
“Saya ingin mengatakan bahwa tempat ini sangat berkomitmen untuk mengajar siswa generasi muda sampai dewasa untuk mempelajari Islam dan mempelajari Al-Qur’an,” tutupnya saat wawancara di Channel YouTube Pesantren Al-Khoirot.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Fahmi Irmanto/Magang
Editor: Dwi Lindawati








