TUBAN, Tugujatim.id – Pemerintah Kabupaten Tuban memastikan tarif baru bagi shuttle wisata dan becak di kawasan Terminal Wisata Kebonsari akan lebih terjangkau alias lebih murah. Skema ini merupakan bagian dari penataan sistem transportasi wisata religi menuju Makam Sunan Bonang yang kini tengah disiapkan Dinas Perhubungan (Dishub) Tuban.
Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Dishub Tuban Yuli Imam Isdarmawan menjelaskan, skema tarif baru ini dibuat agar tidak memberatkan peziarah sekaligus tetap menguntungkan bagi para tukang becak.
“Kalau kondisi sekarang, peziarah yang naik becak untuk pergi dan pulang bisa keluar sekitar Rp22.500 per orang. Dengan sistem baru, biayanya turun jadi Rp17.500 per orang, sudah termasuk naik becak dan shuttle,” terang Imam Senin (03/11/2025).
Baca Juga: Solusi Polemik Terminal Wisata Kebonsari, Pemkab Tuban Sepakat Semua Dapat Ruang
Dalam sistem lama, satu becak biasanya menarik tarif Rp20.000 untuk antar dan Rp25.000 untuk jemput dua orang penumpang. Jika dibagi rata, setiap peziarah mengeluarkan sekitar Rp22.500 untuk perjalanan pulang-pergi.
Namun dalam skema baru, tarif becak akan disesuaikan menjadi Rp15.000 untuk dua orang (atau Rp7.500 per orang) untuk perjalanan ke area makam. Sementara perjalanan pulang menggunakan shuttle wisata dikenai tarif Rp10.000 per orang.
“Totalnya sekitar Rp17.500 per kepala untuk perjalanan pulang-pergi. Jadi lebih murah, tapi pendapatan tukang becak tetap ada karena masih dilibatkan dalam sistem,” ujarnya.
Yuli menambahkan, konsep ini juga akan diterapkan secara transparan dengan sistem tiket terintegrasi. Setiap peziarah nantinya cukup menukarkan kartu tiket di kasir shuttle atau ke pengemudi becak yang sudah terdaftar dalam sistem resmi.
Sistem Rapi Nyamankan Peziarah di Tuban
DLHP Tuban memastikan uji coba sistem baru ini akan dilakukan dalam waktu dekat. Rencananya, pada Rabu mendatang dilakukan screening dan pendataan ulang seluruh tukang becak yang masih aktif di kawasan terminal dan Kambang Putih.
“Kami ingin semua terdata agar pembagian peran dan rute jelas. Nantinya becak dan shuttle tidak saling tumpang tindih, tapi saling melengkapi,” kata Imam.
Pemerintah menargetkan skema baru ini bisa diterapkan penuh pada pertengahan November. Dengan sistem yang lebih rapi, diharapkan peziarah yang datang ke Tuban merasa nyaman, sementara para pelaku ekonomi lokal tetap bisa hidup dari aktivitas wisata.
“Intinya, kami ingin peziarah senang, warga sekitar tetap sejahtera, dan Terminal Wisata Kebonsari makin tertata,” ujarnya.

Kabar penyesuaian tarif ini disambut positif oleh para tukang becak yang tergabung dalam Paguyuban Becak Terminal Wisata Kebonsari. Menurut mereka, sistem baru ini justru memberi kepastian penghasilan dan mengurangi potensi rebutan penumpang di kawasan wisata.
“Kalau tarifnya jelas dan sistemnya resmi, kami tidak keberatan. Terpenting kami tetap bisa narik dan dapat bagian dari arus peziarah,” kata Teguh, perwakilan paguyuban becak.
Teguh menilai, sistem shuttle-becak terintegrasi juga bisa membuat layanan kepada peziarah lebih tertib dan nyaman.
“Dulu sering ada yang berebut penumpang karena tidak ada aturan. Kalau sekarang diatur dan adil, kami siap dukung,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








