MALANG, Tugujatim.id – Dikenal sebagai Kota Pendidikan, ada beberapa kampus tertua di Malang yang sudah berdiri di era kemerdekaan Indonesia. Kampus-kampus tersebut memiliki peran penting dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia, terutama di Malang sendiri.
Kampus tertua di Malang itu adalah Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya, Universitas Merdeka Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Institut Teknologi Nasional Malang, Politeknik Negeri Malang, Universitas Islam Malang, Universitas Widyagama Malang, Politeknik Pembangunan Pertanian Malang, dan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
Daftar 10 Kampus Tertua di Malang, Lengkap dengan Tahun dan Sejarah Berdirinya
Ada kampus tertua di Malang yang wajib kamu ketahui. Tentunya, kampus-kampus ini menyajikan sejarah yang begitu panjang. Yuk, simak ulasan selengkapnya!
1. Universitas Negeri Malang (UM)
Sebelum dikenal sebagai Universitas Negeri Malang, Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Malang adalah nama yang kampus ini gunakan saat pertama berdirinya pada 18 Oktober 1954. Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan saat itu Prof Mr Muhammad Yamin dan Rektor pertama UM Prof Sutan Adam Bachtiar meresmikan lembaga ini sebagai PTPG Malang.
Sebelum bertempat di lokasi UM sekarang, PTPG Malang dulunya menempati gedung SMA di Alun-Alun Bunder untuk aktivitas belajar mereka. Pada masa itu, PTPG Malang hanya memiliki 127 mahasiswa dan 37 dosen dengan hanya ada 5 jurusan, yaitu jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, Sejarah dan Budaya, Ilmu Ekonomi, dan Pasti Alam.
Akhirnya pada 1955, PTPG memiliki gedung perkuliahan sendiri, yaitu di Jl Tumapel 1, Malang, yaitu yang semula “Hotel Splendid.” Lalu, dengan berdirinya Universitas Airlangga pada 1954, PTPG menjadi salah satu fakultas di bawah naungan Universitas Airlangga. Dengan ini, PTPG Malang mengubah status dan namanya menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Airlangga pada 1958.
Baca Juga: 10 Kampus Tertua di Jawa Timur, Ada UM hingga UNAIR!
Di tahun yang sama, dengan bantuan Wali Kota Malang saat itu Sarjono, lembaga ini memperoleh lahan baru di Jl Semarang yang hingga kini ditempati UM. Di tahun ini pula, ada proses penyatuan lembaga pendidikan guru, FKIP dan Institut Pendidikan Guru (IPG), dan akhirnya disahkan pada 1964 menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang.
Pada tahun-tahun berikutnya, IKIP Malang terus memperluas program studi mereka. Puncaknya terjadi pada 4 Agustus 1999 di mana IKIP Malang berubah status menjadi Universitas Negeri Malang (UM). Dengan perubahan ini pula, UM tidak hanya fokus pada program untuk tenaga pendidik, tetapi juga membuka beberapa program studi non-kependidikan lainnya.
Kini UM telah memiliki 8 fakultas dan 119 program studi dengan lebih dari 40.000 mahasiswa. UM terus mengembangkan program pendidikannya yang berpegang teguh pada Tri Dharma: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
2. Universitas Brawijaya (UB)

Universitas Brawijaya merupakan kampus tertua di Malang setelah UM. Universitas Brawijaya resmi berdiri pada 5 Januari 1963. Namun, cikal bakal berdirinya universitas ini telah ada sejak 1957 dimana bermula dari Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi, cabang dari Universitas Swasta Sawerigading Makassar.
Namun, karena adanya stagnasi di kedua fakultas tersebut, maka didirikanlah universitas baru yang digagas oleh sejumlah tokoh dan mahasiswa Malang. Pada 1957, mereka menggagas ide ini di Balai Kota Malang dan mereka juga membentuk Yayasan Perguruan Tinggi Malang.
Pada tahun yang sama pula, yayasan ini membuka Perguruan Tinggi Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (PTHPM). Di saat yang hampir bersamaan, Yayasan Tinggi Ekonomi Malang juga ikut mendirikan Perguruan Tinggi Ekonomi Malang (PTEM) pada 15 Agustus 1957.
PTHPM berkembang pesat yang akhirnya diakuisisi oleh Kotapraja Malang pada 1957. Pada 1 Juli 1960, yaitu pada Dies Natalis III, PTHPM berubah nama menjadi Universitas Kotapraja Malang. Pada 10 November 1960, lembaga ini menambahkan Fakultas Administrasi Niaga (FAN).
Pada Dies Natalisnya yang ke-4, Universitas Kotapraja Malang resmi mengganti namanya menjadi Universitas Brawijaya. Nama ini diberikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia dimana nama ini berasal dari gelar Raja-Raja Majapahit.
Untuk memperkuat struktur kelembagaannya, terdapat penggabungan antara yayasan pengelola PTEM dan Yayasan Universitas Malang. Dari penggabungan ini, Universitas Brawijaya (UB) memiliki empat fakultas, yaitu Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Fakultas Ekonomi, Fakultas Administrasi Niaga, dan Fakultas Pertanian.
Untuk memenuhi syarat penting untuk mengubah statusnya menjadi universitas negeri, UB mendirikan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP) pada 26 Oktober 1961. Proses penegerian ini berhasil secara bertahap dimana Fakultas Pertanian dan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan memperoleh status negeri pertama pada 1962 di bawah Universitas Airlangga.
Puncak perjalanan UB terjadi pada 5 Januari 1963 ketika seluruh fakultasnya resmi berstatus negeri dan dikembalikan seluruhnya dari Unair ke UB. Di tahun ini juga UB meresmikan Fakultas Pertanian, Fakultas Ilmu Pendidikan, dan Fakultas Kedokteran di cabang Jember yang sebelumnya merupakan bagian dari Universitas Tawangalun.
Kini, Universitas Brawijaya dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia dengan lebih dari 60.000 mahasiswa dari 18 fakultas dan 221 program studi. Berbagai akreditasi nasional dan internasional juga telah UB raih, menjadikan UB sebagai universitas yang modern dan terus berkembang dalam menghadapi tantangan global.
3. Universitas Merdeka Malang (Unmer)

Universitas Merdeka Malang (Unmer) merupakan perguruan tinggi di Malang yang berdiri pada 29 Januari 1964. Sejumlah tokoh yang berperan penting dalam pendirian lembaga pendidikan ini adalah R. Edwin Soedardji, Soekiman Dahlan, Fransiscus Soetrisno, Soegondo, Soetikno, dan Dharma, serta dikelola oleh Yayasan Perguruan Tinggi Merdeka Pusat Malang (YPTMPM).
Sebelum Unmer berdiri, Malang terlebih dahulu memiliki Universitas Sawerigading cabang Malang sejak 1957. Namun, karena ada masalah internal dan ketidaksepahaman antara pihak cabang dan pusat, universitas ini berhenti beroperasi pada 28 Januari 1964.
Dengan adanya peristiwa ini, para pendirinya bergerak cepat dengan mendirikan perguruan tinggi baru yang lebih mandiri dan stabil—yang kemudian menjadi Universitas Merdeka Malang. Di tahun ini pula YPTMPM memperoleh pengakuan resmi sebagai badan hukum yang kemudian ditetapkan sebagai tanggal Dies Natalis Unmer Malang.
Pada 1972, YPTMPM berubah nama menjadi Yayasan Perguruan Tinggi Merdeka Malang (YPTM) dan bertanggung jawab mengelola universitas ini hingga kini.
Jika dilihat dari sejarahnya, Unmer Malang tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan Kodam VIII/Brawijaya (kini Kodam V/Brawijaya). Pada peringatan HUT Kodam ke-23, Unmer Malang dinyatakan berada dalam Slagorde Kodam V/Brawijaya sebagai bentuk dukungan pembinaan. Kodam menjadi pembina utama, sementara pembinaan harian dilaksanakan oleh Korem 083/Bhaladhika Jaya.
Mulai dari periode 1976–1983, Unmer Malang mulai melakukan pengembangan besar-besaran dan bertahap melalui serangkaian Rencana Induk Pengembangan (RIP) dan Rencana Strategis (Renstra). Di tahap terbaru 2015–2023, Unmer fokus pada peningkatan kualitas akademik, pembangunan sarana prasarana, serta penguatan ideologi kampus sebagai institusi yang menjunjung Pancasila dan UUD 1945.
Berkat kerja sama seluruh sivitas akademika dan dukungan yayasan, Unmer Malang tumbuh menjadi perguruan tinggi swasta unggulan di Jawa Timur. Kini, Unmer telah memiliki 6 fakultas dan 28 program studi dengan lebih dari 12.000 mahasiswa aktif.
4. Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adalah salah satu perguruan tinggi swasta terbesar dan terkemuka di Jawa Timur. Kampus ini berdiri pada 9 Juni 1964 yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah Malang.
Pada awalnya, UMM merupakan cabang dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang berada di bawah naungan Yayasan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Jakarta. Saat itu, UMM hanya terdiri dari tiga fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum, dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan Agama.
UMM resmi berpisah dari UMJ dan menjadi universitas mandiri pada 1 Juli 1968 yang berada di bawah pengelolaan Yayasan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Malang. Di tahun yang sama, UMM menambah Fakultas Kesejahteraan Sosial dan mengubah FKIP Jurusan Pendidikan Agama menjadi Fakultas Tarbiyah.
Di era 1970–1993, UMM berkembang pesat dengan hadirnya fakultas-fakultas baru, seperti Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Peternakan, dan peningkatan akreditasi hingga pembangunan sarana prasarana kampus. Pada 1993, UMM membuka Program Pascasarjana dengan dua program magister, yaitu Magister Manajemen dan Magister Sosiologi Pedesaan.
Dalam bidang akreditasi, UMM menjadi salah satu dari delapan perguruan tinggi pertama di Indonesia yang terakreditasi A pada 2013. Dalam aspek sarana fisik, UMM telah memiliki tiga kampus, Kampus I di Jalan Bandung, Kampus II di Jalan Bendungan Sutami, serta Kampus III Terpadu di Jalan Raya sering dikenal sebagai “Kampus Putih”.
Kini, UMM memiliki 11 fakultas dan 67 program studi dengan lebih dari 36.000 mahasiswa aktif. UMM juga terus berkembang dengan fasilitas akademik yang lengkap, termasuk 42 laboratorium eksakta dan sosial serta laboratorium sentral.
5. Institut Teknologi Nasional Malang (ITN)

Sebelum menjadi Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, kampus ini awalnya adalah Akademi Teknik Nasional (ATN) Malang. Yayasan Pendidikan Umum dan Teknologi Nasional mendirikan kampus ini pada 4 Januari 1969 yang terdiri dari dua jurusan saja, Teknik Mesin dan Teknik Sipil, menjadikan ITN masuk dalam daftar lima teratas kampus tertua di Malang.
Karena meningkatnya kebutuhan pendidikan teknologi, ATN berkembang dan resmi berubah menjadi Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang pada 1981 dan diakui oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1983. Dalam dekade 1980-an, ITN mengalami perkembangan pesat dengan dibukanya beberapa jurusan baru, termasuk Teknik Elektro, Teknik Industri, Teknik Kimia, Teknik Tekstil, Arsitektur, hingga Teknik Pengairan dan Planologi.
Dengan bertambahnya jumlah mahasiswa, ITN kemudian memperluas fasilitas kampus. Awalnya, ITN menempati lahan seluas 4 hektare di Jl Bendungan Sigura-gura, kemudian ITN membangun kampus baru di lahan seluas 35 hektare di Karanglo pada 1998. Kampus ini kemudian menjadi pusat kegiatan berbagai program studi teknik.
Pada 2000, ITN membuka program pendidikan pascasarjana. Kemudian pada 2015, ITN Malang berhasil meraih akreditasi B dari BAN-PT. Saat ini, ITN Malang berada di bawah pengelolaan Perkumpulan Pengelola Pendidikan Umum dan Teknologi Nasional (P2PUTN) Malang yang telah terdaftar secara resmi di Kementerian Hukum dan HAM.
Hingga kini, ITN telah memiliki kurang lebih 4.000 mahasiswa aktif yang tersebar di 3 fakultas dan 12 program studi.
6. Politeknik Negeri Malang (Polinema)

Politeknik Negeri Malang (Polinema) merupakan perguruan tinggi vokasi negeri yang berkembang dari Program Pendidikan Diploma Bidang Teknik Universitas Brawijaya. Program pertama kali didirikan oleh Pemerintah Indonesia pada 27 Januari 1979 dengan dukungan dana dari Bank Dunia dan tenaga ahli dari Swiss.
Pada 1982, program ini resmi beroperasi sebagai Fakultas Non Gelar Teknologi Universitas Brawijaya. Pada tahun ini pula, mahasiswa angkatan pertama masuk yang tersebar di empat jurusan teknik, yaitu Elektronika, Listrik, Mesin, dan Sipil.
Pada pertengahan 1980-an, Polinema membuka sejumlah jurusan baru, termasuk Teknik Telekomunikasi, Akuntansi, Administrasi Niaga, serta Teknik Kimia. Pada masa itu, Polinema juga memperkuat pengembangan pendidikan melalui kerja sama internasional dengan Swiss Contact dan The Australian Project.
Pada 1991, Kementerian Pendidikan dan Budaya menetapkan politeknik ini sebagai Politeknik Universitas Brawijaya yang terdiri dari tujuh jurusan pendidikan Diploma III.
Politeknik ini memperoleh status kemandirian sebagai perguruan tinggi negeri vokasi dan mengubah namanya dari Politeknik Universitas Brawijaya menjadi Politeknik Negeri Malang pada 2004. Sejak itu, Polinema terus memperluas program studi mereka, termasuk Manajemen Rekayasa Konstruksi, Teknik Otomotif Elektronik, Sistem Kelistrikan, Manajemen Pemasaran, Teknologi Informasi, serta program Magister Terapan Teknik Elektro.
Karena tuntutan industri modern, pada dekade berikutnya, Polinema menambah program studi baru, seperti Teknik Informatika, Teknik Mesin Produksi dan Perawatan, Teknologi Kimia Industri, Keuangan, Bahasa Inggris, dan Teknologi Konstruksi Jalan, Jembatan, dan Bangunan Air.
Saat ini, Polinema memiliki empat kampus yang tersebar di Indonesia, termasuk di Malang, Pamekasan, Lumajang, dan Kediri. Sekarang Polinema sudah memiliki 7 jurusan dan 46 program studi dengan lebih dari 6.000 mahasiswa.
7. Universitas Islam Malang (Unisma)

Universitas Islam Malang (Unisma) berdiri pada 27 Maret 1981 yang berakar kuat dari tradisi intelektual Ahlussunnah Wal Jama’ah. Karena dianggap penting untuk mendirikan perguruan tinggi Islam yang modern di Kota Malang, para ulama, cendekiawan, dan sarjana Muslim di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) memprakarsai pendirian kampus ini.
Tokoh-tokoh tersebut awalnya membentuk Tim Sembilan dan menetapkan KH Masjkur sebagai Ketua Yayasan dan KH Oesman Mansoer sebagai rektor pertama. Di hari ini pula Yayasan Universitas Islam Sunan Giri Malang berdiri yang kini dikenal sebagai Yayasan Universitas Islam Malang.
Seiring berjalannya waktu, yayasan ini mengalami beberapa perubahan legalitas dan kepemimpinan. Akhirnya, pada 2010, yayasan ini secara resmi mengubah nama menjadi Yayasan Universitas Islam Malang dan telah mendapatkan pengesahan Kementerian Hukum dan HAM.
Namun, cikal bakal berdirinya Unisma ini sebenarnya ada pada Fakultas Tarbiyah dari Akademi Pendidikan Ilmu dan Agama Islam (APIA), yang kemudian berkembang menjadi Fakultas Tarbiyah Watta’lim Universitas Nahdlatul Ulama (UNU). Pada 1968, UNU Malang mengubah namanya menjadi UNSURI Jawa Timur yang terdiri dari beberapa fakultas, termasuk Fakultas Pertanian, Fakultas Tarbiyah, Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat.
Ketika Yayasan Universitas Islam Sunan Giri Malang berdiri, Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Pertanian UNSURI bergabung menjadi salah satu fakultas di Universitas Islam Malang. Pada 1983, Unisma memperoleh status terdaftar untuk beberapa prodi, termasuk Fakultas Pertanian, Hukum, Peternakan, Teknik, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, serta Ekonomi.
Kemudian pada 1983, Fakultas Ilmu Administrasi mulai beroperasi dan disusul dengan dibukanya Fakultas Kedokteran dibuka pada 31 Maret 2005. Kini, Yayasan Universitas Islam Malang menaungi berbagai lembaga pendidikan dan unit usaha, termasuk Universitas Islam Malang, Politeknik Unisma Malang, Pesantren Kampus Ainul Yaqin, SMA Islam Nusantara, Rumah Sakit Islam Unisma, serta sejumlah unit bisnis produktif.
Unisma sendiri kini telah memiliki lebih dari 7.000 mahasiswa yang tersebar di 9 fakultas dan 37 program studi.
8. Universitas Widyagama Malang

Universitas Widyagama Malang resmi disahkan oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya pada 1 Januari 1985. Namun, awal berdirinya kampus ini berasal dari inisiatif Yayasan Pembina Pendidikan Indonesia (YPPI) yang mendirikan Akademi Bank Widyagama pada 24 Februari 1971.
Kemudian pada 1974, Akademi Manajemen Widyagama berdiri dan disusul oleh Akademi Akuntansi Widyagama pada 1980. Ketiga akademi tersebut merupakan gagasan dari sejumlah cendekiawan Muslim Malang, antara lain H. M. Ridwan Hasyim, Rustam Effendy, H.A. Mukthie Fadjar, dan Muryati, yang ingin memperluas kesempatan pendidikan tinggi di bidang ekonomi dan manajemen.
Untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan pendidikan sejarah lengkap, pada 19 September 1981, YPPI menggabungkan ketiga akademinya menjadi Institut Ekonomi dan Manajemen Widyagama. Namun, bentuk IEM ini tidak disetujui oleh pemerintah, sehingga institut ini beralih menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Widyagama pada 1984.
Pada 1984, kelembagaan Widyagama ini terus mengalami perkembangan dengan beberapa jurusan memperoleh peningkatan status mereka. Akhirnya, pada 1 Januari 1985, YPPI resmi mengubah STIE Widyagama menjadi Universitas Widyagama Malang.
Setelah beralih nama, Universitas Widyagama membuka empat fakultas, yaitu Fakultas Ekonomi, Hukum, Pertanian, dan Teknik. Saat ini, Universitas Widyagama Malang telah berkembang dan telah memiliki 4 fakultas dengan 15 program studi. Mahasiswa Universitas Widyagama juga tercatat telah mencapai lebih dari 2.500 mahasiswa.
9. Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang merupakan perguruan tinggi kedinasan di bawah Kementerian Pertanian Republik Indonesia yang masuk dalam daftar kampus tertua di Malang. Lembaga ini berfokus pada pendidikan vokasi pertanian dan peternakan yang memiliki tujuan untuk menyiapkan SDM pertanian profesional.
Pada awalnya, pendidikan pertanian ini tersebar di beberapa institusi, yaitu Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Malang, Akademi Penyuluhan Pertanian (APP) Malang, Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) Negeri Malang, Sekolah Peternakan Menengah Atas (SNAKMA) Negeri Malang, dan Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Negeri Sidoarjo.
Perubahan bermula pada 8 Desember 1986 ketika Dirjen Dikti dan Menteri Pertanian mengeluarkan persetujuan untuk mengubah SPMA, SNAKMA, dan SUPM menjadi Diklat Akademi Penyuluhan Pertanian. SPMA menjadi Diklat APP Tanjung di Tanjung, Malang, SNAKMA menjadi Diklat APP Penanggungan di Penanggungan, Malang, dan SUPM menjadi Diklat APP Sedati di Sedati, Sidoarjo.
Pada 1990, ketiga lembaga tersebut diintegrasikan menjadi Diklat APP Malang yang kemudian disusul lagi dengan perubahan status Akademi Penyuluhan Pertanian (APP) Malang pada 1993. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan di sektor pertanian nasional. APP Malang kemudian berubah lagi menjadi Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Malang pada 2000.
Perubahan ini tidak hanya sekadar perubahan nama, tetapi juga adanya perubahan di sistem pendidikannya dimana terdapat peningkatan kualitas pendidikan vokasi pertanian. Di fase ini juga, kampus APP berfokus di Desa Randuagung, Singosari, Kabupaten Malang.
Melalui berbagai persetujuan kementerian, STTP Malang kemudian mengalami peningkatan status menjadi Politeknik Pembangunan Pertanian Malang pada 2018. Kini, dengan statusnya sebagai Politeknik, Polbangtan Malang menawarkan tiga program studi Diploma IV: Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan, Penyuluhan Peternakan dan Kesejahteraan Hewan, serta Agribisnis Peternakan.
Polbangtan memiliki ciri khas pada pembelajarannya yang berbasis Teaching Factory (TEFA) yang bertujuan untuk membentuk lulusan yang siap menjadi entrepreneur dan job creator di sektor pertanian.
Selain fokus pada pendidikan, Polbangtan juga aktif menjalin kerja sama dengan berbagai instansi dan perusahaan agar lulusannya memiliki kompetensi dan daya saing tinggi untuk mendukung pembangunan pertanian di Indonesia.
10. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Kampus tertua di Malang yang terakhir adalah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang atau yang biasa dipanggil Uinma atau UIN Malang. UIN Malang resmi berdiri berdasarkan keputusan Presiden N0.5 pada 21 Juni 2004.
Cikal bakal berdirinya universitas ini berawal dari gagasan para tokoh Jawa Timur yang ingin menghadirkan lembaga pendidikan tinggi Islam di bawah Departemen Agama. Upaya ini diwujudkan lewat terbentuknya Panitia Pendirian IAIN Cabang Surabaya pada 1961.
Setelah terbentuknya panitia ini, Fakultas Syariah di Surabaya dan Fakultas Tarbiyah di Malang sebagai cabang IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta didirikan. Kemudian pada 1964, Fakultas Ushuluddin juga berdiri di Kediri.
Pada 1965, melalui SK Menteri Agama, ketiga fakultas tersebut dilebur dan menjadi bagian dari IAIN Sunan Ampel. Perubahan signifikan terjadi ketika Fakultas Tarbiyah Malang berubah status menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang dan menjadi institusi mandiri pada 1997.
Dengan adanya rencana pengembangan jangka panjang, STAIN Malang akhirnya bertransformasi menjadi universitas dengan status sebagai UIN pada 21 Juni 2004. Nama Universitas Islam Negeri (UIN) Malang resmi disetujui dan diresmikan pada tanggal 8 Oktober 2004 yang memiliki tugas untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi bidang ilmu agama dan ilmu umum.
Sebelum dikenal sebagai UIN, kampus ini sempat menggunakan nama Universitas Islam Indonesia-Sudan (UIIS) sebagai bentuk kerja sama antara Indonesia dan Sudan. Nama ini dulunya diresmikan sendiri oleh Wakil Presiden RI Hamzah Haz pada 2002. Pada 27 Januari 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan nama resmi kampus ini menjadi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
UIN Malang kini memiliki tiga kampus, yaitu Kampus I di Jalan Gajayana, Malang, Kampus II di kawasan Dadaprejo, Kota Batu, dan Kampus III di Junrejo, Kota Batu. Mahasiswa UIN Malang sekarang mencapai lebih dari 69.000 mahasiswa dari 7 fakultas di 32 program studi.
Dengan perannya dalam mencetak generasi muda yang berpendidikan, deretan kampus tertua di Malang ini memperkuat identitas Malang sebagai Kota Pendidikan. Keberadaan perguruan tinggi di atas hingga kini menjadi bukti kuat perkembangan pendidikan tinggi di wilayah Indonesia, terutama di Malang Raya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Azmi Azaria Fidaroini
Editor: Dwi Lindawati








