JAKARTA, Tugujatim.id – Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengungkapkan kondisi daya beli masyarakat Indonesia yang masih lemah dan diperkirakan belum pulih hingga tahun 2026.
Pernyataan ini disampaikan saat acara Jurnalisme Inspiratif sesi pertama bertajuk F30 Strategy & Outlook CIMB Niaga yang berlangsung di Lantai M Graha CIMB Niaga Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Dalam paparannya, Wakil Ketua Umum Perbanas Lani ini juga menyebutkan bahwa gejala melemahnya daya beli terlihat jelas dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Data tersebut dia dapat dari hasil diskusi dengan berbagai asosiasi industri dan analisis perbankan.
“Pembelanjaan masyarakat Indonesia yang tadinya beli sampo 125 mili, sekarang beralih ke sachet karena mau berhemat,” ungkap Lani.
Fenomena serupa juga terjadi pada produk-produk konsumsi lainnya seperti minuman kemasan dan deterjen. Masyarakat kini lebih memilih membeli produk dalam kemasan lebih kecil untuk menghemat pengeluaran. Bahkan produsen dan retailer seperti Indomaret harus merespons dengan memproduksi kemasan-kemasan kecil agar tetap bertahan.
“Kalau enggak, mereka enggak survive. Karena masyarakat ingin membelinya sekarang eman-eman uangnya,” tambah Lani.
Belanja Negara Jadi Kunci
Meski mengapresiasi sikap pro-growth Menteri Keuangan dan perbaikan likuiditas perbankan dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) pasar yang turun dari 97-98 persen menjadi 95 persen, Lani menekankan pentingnya belanja negara untuk menggerakkan ekonomi.
“Kalau government spending belanja negara itu tidak ada, maka proyek-proyek tidak ada, yang menyerap tenaga kerja juga tidak ada. Uang beredar yang bisa dikantongi masyarakat juga sedikit, sehingga daya beli menjadi kecil,” jelasnya.
Dunia Usaha Tunda Investasi
Tantangan lain yang dihadapi adalah sikap wait and see dari pelaku usaha. Dalam dua tahun terakhir, tim CIMB Niaga aktif bertemu dengan nasabah dari berbagai segmen, mulai korporasi besar hingga Usaha Kecil Menengah (UKM). Hasilnya, mayoritas pelaku usaha memilih menunda rencana ekspansi.
“Mereka menunda investasi. Misalkan untuk memperluas pabrik atau menambah produksi itu mereka tahan dulu. Apakah karena mereka enggak ada uang? Enggak juga, uangnya ada,” ungkap Lani.
Pandangan 2026: Realistis tapi Menunggu
Untuk 2026, Lani mengambil sikap realistis. Dia memperkirakan semester pertama 2026 akan sama seperti kondisi saat ini. Namun, pihaknya akan terus memantau perkembangan, terutama realisasi belanja negara dan pemulihan sektor-sektor ekonomi.
“Kita lihatlah nanti. Kita tanya lagi setelah masuk semester kedua. Saya pikir di semester pertama akan sama seperti sekarang, namun tentu saja kita lihat apakah belanja negara akan betul-betul digelontorkan,” tutup Lani.
Pernyataan CEO CIMB Niaga ini selaras dengan kekhawatiran sejumlah ekonom dan pelaku industri terkait perlunya stimulus fiskal yang lebih masif untuk mendorong pemulihan ekonomi domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








