MALANG, Tugujatim.id – Komunitas pelestari budaya di Malang dan Jatim memperingati Hari Ibu di Candi Kidal dan Museum Panji. Pelestari di Jatim ini pun menelusuri jejak kisah Dewi Winata dan Ken Dedes yang terabadikan di situs bersejarah di Malang.
Komunitas pelestari di Jatim ini meneguhkan kembali nilai penghormatan kepada ibu dalam tradisi Jawa dan Nusantara dengan menjadikan peninggalan era Singhasari-Majapahit sebagai media pembelajaran sejarah dan etika kehidupan.
Baca Juga: Hari Ibu di Balik Jeruji Besi, Napi Perempuan di Lapas Kota Malang Rindu sang Anak
Arkelolog Dwi Cahyono mengatakan, jejak Dewi Winata dan Ken Dedes tetap dinilai relevan untuk menjadi kisah keteladanan maupun refleksi saat Peringatan Hari Ibu pada 22 Desember 2025.
Dwi Cahyono saat ditemui di Candi Kidal, mengungkapkan, kisah Garudea dan pengorbanan pada Ibunda Dewi Winata yang syarat akan nilai kebaktian terhadap sosok ibu.
Keteladanan Bakti Seorang Anak kepada Ibu
Garudea berbakti kepada Dewi Winata terabadikan secara visual dalam relief cerita Garudea di kaki Candi Kidal. Salah satu panel relief menggambarkan Garudea menggendong Dewi Winata yang telah terbebas, dan simbol ular sebagai representasi pihak yang sebelumnya menindas.
“Relief ini menjadi bukti bahwa nilai etika, spiritualitas, dan penghormatan terhadap ibu telah lama tertanam dalam narasi budaya Nusantara,” ucapnya.
Dia melanjutkan, kisah kebaktian Garudea ini tercatat dalam kisah Wiracarita Mahabharata. Di mana, Garudea berjuang bebaskan Dewi Winata dari perbudakan.
“Nilai kebaktian ibu tersebut tercermin kuat dalam kisah wiracarita Mahabharata. Khususnya melalui tokoh Garudea yang berjuang membebaskan ibunya, Dewi Winata dari perbudakan,” urainya.
Garudea demi tujuan mulia rela mempertaruhkan nyawa dalam usahanya memperoleh Tirtha Amerta hingga akhirnya mendapatkan restu dari Dewa Wisnu. Kisah ini menjadi teladan universal tentang bakti seorang anak kepada ibu.

Dia memaparkan kajian ikonografis Arca Pratnjaparamita, terutama sosok Ken Dedes sebagai ibunya para raja. Dalam sejarah Jawa, Ken Dedes dikenal sebagai sosok perempuan utama berperan dalam lahirnya raja-raja besar Jawa.
Dari rahim Ken Dedes, dia mengatakan, lahir dan tumbuh garis keturunan penguasa penting yang membentuk fondasi politik dan peradaban Jawa. Mulai dari Dinasti Singhasari hingga Majapahit.
“Ken Dedes tidak hanya dipandang jadi permaisuri. Tapi dia juga sebagai ibu peradaban, simbol kesuburan, legitimasi kekuasaan, dan keberlanjutan sejarah Nusantara,” ungkapnya.
Pemaknaan Ken Dedes sebagai figur Ibu Agung menjadikannya layak diposisikan sebagai ikon Hari Ibu di Malang, kota yang berada dalam lanskap sejarah Singhasari-Majapahit.
Figur Ken Dedes diharapkan mampu menginspirasi perempuan dan ibu masa kini sebagai sumber nilai, kebijaksanaan dan kekuatan generatif bagi keluarga, masyarakat dan masa depan peradaban.
“Penghormatan terhadap ibu tidak hanya dimaknai secara sosial, tetapi juga spiritual, tercermin dalam keyakinan bahwa restu ibu memiliki kekuatan besar dalam kehidupan manusia,” ujarnya.
Sementara itu, Pemerhati Budaya dari Kampung Budaya Polowijen Malang Isa Wahyudi mengajak masyarakat untuk memetik teladan luhur dari masa lalu dan merelevansikannya dengan kehidupan masa kini.
“Spirit kebaktian Garudea diharapkan mampu menginspirasi generasi sekarang untuk menumbuhkan sikap hormat kepada ibu, keluarga, dan bangsa, sekaligus memperkuat kesadaran budaya sebagai fondasi moral dalam menghadapi tantangan zaman,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: M. Sholeh
Editor: Dwi Lindawati








