Tugujatim.id – Setiap tanggal 4 Januari, dunia memperingati Hari Braille Sedunia. Tanggal ini dipilih untuk menghormati hari kelahiran Louis Braille, sosok jenius di balik sistem tulisan titik timbul yang telah mengubah wajah dunia bagi jutaan penyandang disabilitas netra.
Peringatan ini bukan sekadar seremoni kalender, melainkan momentum penting untuk menegakkan hak asasi manusia dan aksesibilitas informasi bagi semua.
Baca Juga: Kisah Tunanetra Zainul Muttaqin: Lulusan S2 London, Ajarkan Mengaji Al-Qur’an Braille
Sekilas Sosok Louis Braille
Lahir di Prancis pada 1809 silam, Louis Braille kehilangan penglihatannya di usia balita akibat kecelakaan. Di tengah keterbatasan akses pendidikan bagi tunanetra saat itu, dia mengembangkan sistem kode enam titik yang disusun dalam sel-sel kecil. Sistem ini memungkinkan penyandang disabilitas netra untuk membaca melalui sentuhan ujung jari dan menulis menggunakan semacam stylus.
Apa yang diciptakan Louis bukan sekadar abjad, melainkan kunci menuju kebebasan. Braille memberikan kemandirian bagi penggunanya untuk belajar, bekerja, dan berpartisipasi penuh dalam kehidupan sosial tanpa harus selalu bergantung pada bantuan lisan orang lain.
Sementara itu, di tengah gempuran teknologi screen reader (pembaca layar) dan buku audio, muncul pertanyaan apakah Braille masih dibutuhkan? Jawabannya adalah ya.
Baca Juga: Kisah Rika Yuniarsari, Difabel Netra Jember Temukan Cahaya lewat Suara di Dunia tanpa Warna
Aktivitas mendengarkan tidak sama dengan membaca. Braille memungkinkan penggunanya memahami tata bahasa, ejaan, dan struktur kalimat secara mendalam melalui sistem tulisan yang dia kembangkan.
Label Braille yang bisa ditemukan pada berbagai objek, seperti tombol lift, kemasan obat, papan petunjuk, dan uang kertas sangat krusial untuk keselamatan dan mobilitas mandiri. Selain itu, dengan Braille, penyandang disabilitas netra dapat membaca dokumen pribadi atau rahasia tanpa perlu dibacakan oleh orang lain.
Sayangnya, akses terhadap literasi Braille masih menghadapi kendala, terutama mahalnya biaya produksi buku Braille dan kurangnya tenaga pendidik yang mumpuni.
Hari Braille Sedunia menjadi pengingat bagi pemerintah dan sektor swasta untuk terus mendorong inklusivitas, mulai dari penyediaan fasilitas publik yang ramah netra hingga adopsi teknologi Braille digital.
Melalui peringatan ini, kita diajak untuk menyadari bahwa penglihatan boleh terbatas, namun akses terhadap ilmu pengetahuan tidak boleh terputus. Mari jadikan dunia lebih inklusif, di mana setiap titik kecil Braille mampu membuka jendela dunia yang luas bagi siapa saja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








