JEMBER, Tugujatim.id – Dalam keheningan dunianya yang gelap, Rika Yuniarsari menemukan cahaya melalui suara. Perempuan difabel netra di Jember berusia 21 tahun ini memiliki kisah luar biasa tentang bagaimana kegigihan dan semangat pantang menyerah mampu mengalahkan segala bentuk keterbatasan.
Sejak dilahirkan, Rika Yuniarsari tidak pernah mengenal warna-warni kehidupan secara visual. Istilah seperti gelap, terang, hitam, atau putih hanyalah rangkaian kata yang dia pahami dari penjelasan orang lain. Namun, kondisi ini tidak membuatnya kehilangan semangat hidup.
Perjalanan musiknya dimulai ketika dia masih balita. Dalam usia yang sangat belia, yakni lima tahun, dia sudah menemani sang ayah yang berprofesi sebagai gitaris menghibur tamu di berbagai acara resepsi dan perayaan. Dari sanalah benih bakatnya mulai berkembang.
Baca Juga: Rumah Batik TBIG Pekalongan Mewisuda 45 Peserta Pelatihan, 8 Difabel Semringah Jadi Pembatik Muda
“Prosesnya otodidak, mendapat bimbingan dari kedua orang tua. Cukup mendengarkan, menirukan, kemudian berlatih secara konsisten,” tutur Rika menjelaskan proses belajarnya yang tanpa melalui pendidikan formal musik pada Rabu (19/11/2025).
Namun, takdir tidak selalu berpihak dengan mudah. Di usia sepuluh tahun, Rika mengalami kejadian yang nyaris menghancurkan kepercayaan dirinya. Cercaan pedas dari tetangga sekitar membuatnya trauma.
“Untuk apa ikut-ikutan ke acara seperti itu? Cari uang ya? Sudah tidak bisa melihat masih saja mencoba-coba,” begitu kira-kira kata-kata menyakitkan yang masih terngiang di ingatannya.
Pukulan mental itu begitu dalam hingga membuatnya memutuskan mundur dari panggung selama satu tahun penuh. Periode kelam ini menjadi ujian terberat dalam hidupnya. Untungnya, dukungan mulai berdatangan dari berbagai pihak.
Ajakan untuk tampil dari stasiun radio lokal dan kelompok pecinta musik di lingkungannya perlahan mengembalikan semangatnya. Rika pun bangkit dan kembali bernyanyi di usia 11 tahun. Selain musik, ada satu keinginan besar lain dalam hati Rika, yaitu mengenyam pendidikan formal.
Sayangnya, kekhawatiran orang tuanya membuatnya harus menunda impian tersebut cukup lama. Barulah di usia 16 tahun, dia diperbolehkan masuk SLB Branjangan langsung di tingkat kelas tiga sekolah dasar. Di sinilah dia mulai mempelajari sistem huruf braille untuk membaca dan menulis.
“Dari sekolah itulah saya mengenal huruf braille. Kami juga sering mendapat kesempatan tampil, baik di acara internal sekolah maupun undangan dari luar,” kenangnya.
Keahlian Rekam Suara hingga Edit Video
Kini, di usianya yang ke-21, Rika tengah menjalani pendidikan di tingkat tiga sekolah menengah pertama sambil terus mengembangkan karir musiknya. Perkembangan teknologi membuka pintu kesempatan yang lebih luas bagi Rika. Dengan memanfaatkan fitur pembaca layar di ponsel pintarnya, dia mampu melakukan berbagai hal yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya.
Dia mahir merekam suara, mengedit audio, bahkan membuat konten video untuk platform YouTube. Channel pribadinya yang diberi nama Rika Safara Channel telah menarik lebih dari 700 subscriber.
“Kontennya beragam, mulai dari lagu cover hingga video yang dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan,” jelasnya dengan antusias.
Tidak hanya sebagai konten kreator, Rika juga berperan sebagai editor audio dalam proyek drama yang melibatkan teman-temannya sesama penyandang difabel netra dari berbagai kota seperti Lumajang, Surabaya, hingga Kalimantan.
“Tugas saya mengolah rekaman suara, menambahkan efek audio, mengatur tingkat volume, lalu hasilnya diunggah di channel Kwarsa milik kelompok kami,” paparnya.
Hal yang paling mengesankan adalah bagaimana Rika mampu menguasai berbagai perangkat dan aplikasi modern. Dari software sederhana hingga peralatan soundcard profesional, semuanya dia pelajari dengan tekun.
“Saat ini saya menggunakan F999, alat yang memungkinkan saya untuk siaran langsung. Ketika live bernyanyi di TikTok, terkadang mendapat apresiasi dari penonton,” ungkapnya dengan bangga.
Prestasi terbaru Rika adalah sedang menggarap karya musik orisinalnya berjudul “Tresna Soceh” yang mengangkat tema cinta yang tidak berbalas. Ini adalah langkah besar dalam karier musiknya untuk tidak hanya menjadi penyanyi cover, tetapi juga pencipta lagu.
Kisah Rika Yuniarsari adalah bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukanlah akhir dari segalanya. Dengan dukungan, teknologi yang tepat, dan semangat yang tidak pernah padam, setiap orang memiliki kesempatan untuk berkarya dan menginspirasi.
Suaranya yang merdu bukan hanya menghibur, tetapi juga menyuarakan pesan penting: bahwa setiap individu, tanpa memandang kondisi fisik, berhak mendapat kesempatan yang sama untuk mengekspresikan bakat dan meraih impiannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








