JEMBER, Tugujatim.id – Seorang pendidik mata pelajaran sejarah mewujudkan ikrar yang telah lama dia simpan dalam hati. Dengan tekad bulat, guru sejarah di Situbondo ini menempuh perjalanan sejauh 50 kilometer dengan berjalan kaki dari kampung halamannya di Seletreng, Kelurahan Kalianget, hingga mencapai pusat pemerintahan yakni Pendopo Rakyat Situbondo, sebuah perjalanan yang dilakukan sendirian sebagai pemenuhan janji spiritual.
Halil Budiarto, sang guru sejarah di Situbondo, ini telah lama menyimpan keresahan mendalam. Gedung peninggalan masa lalu yang dulunya menjadi jantung administrasi pemerintahan kini tampak terbengkalai, kehilangan kemegahannya sebagai saksi bisu perjalanan sejarah daerah.
Baca Juga: Petani Milenial dan PKK Situbondo Jajaki Kolaborasi Ekonomi Hijau Berbasis Pekarangan
“Profesi saya mengajarkan sejarah kepada generasi muda. Ketika menyaksikan bangunan berbobot historis seperti itu terlantar, hati ini terasa pedih,” ungkap pria asal Kecamatan Banyuglugur, Rabu (14/01/2026).
Dalam kesunyian, dia mengucapkan janji, kelak bila ada pemangku kebijakan yang peduli memulihkan gedung Kawedanan Besuki, guru sejarah di Situbondo ini akan menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki sebagai wujud syukur.
Ekspektasi itu akhirnya menemukan momentum. Di era kepemimpinan Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo, kompleks bersejarah tersebut mendapat sentuhan pemugaran dan diberi identitas baru, Pendapa Pate Alos.
Bagi sang pendidik, inisiatif pemulihan ini melampaui makna pembangunan infrastruktur belaka. Menurut dia, ini adalah penghormatan terhadap jejak peradaban yang hampir terkubur arus modernisasi. Perjalanan panjang yang dia lakukan menjadi simbol apresiasi atas kepedulian terhadap aset budaya bangsa.
Perjalanan dimulai dari ujung paling barat Situbondo saat fajar menyingsing di hari Sabtu. Penghitungan awal menargetkan kedatangan dalam rentang 16 jam, namun hujan memaksa dia mencari perlindungan dan beristirahat di tengah jalan.
Setelah menghabiskan hampir sehari semalam, dengan kombinasi berjalan, rehat, dan tidur seadanya, dia akhirnya menginjakkan kaki di pendapa pada pagi Minggu.
“Esensinya bukan pada kecepatan, tetapi pada pelaksanaan komitmen yang telah saya buat,” katanya dengan nada sederhana.
Baca Juga: Situbondo Berpeluang Besar Jadi Lokasi Muktamar NU Ke-35, Kenangan 1984 Jadi Modal Utama
Meskipun beberapa pihak menawarkan untuk menemani, dia menampik dengan sopan. Menurut dia, janji spiritual adalah tanggung jawab individu yang harus dijalani tanpa bantuan orang lain.
“Ini perjanjian personal saya dengan diri sendiri, maka harus saya jalani secara mandiri,” tegasnya.
Visi yang dia harapkan tampak sederhana namun berdampak jangka panjang: transformasi Kawedanan Besuki menjadi pintu akses layanan publik yang lebih efisien bagi masyarakat zona barat Situbondo.
“Apabila berbagai urusan administrasi dapat diselesaikan di Besuki, warga tidak perlu menempuh jarak yang melelahkan menuju pusat kota. Dua keuntungan sekaligus, melestarikan warisan leluhur sambil menghadirkan kemudahan bagi rakyat,” pungkasnya penuh harapan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








