TUBAN, Tugujatim.id – Tradisi malem songo kembali digelar di Kabupaten Tuban menjelang akhir Ramadhan. Tahun ini, sebanyak 358 pasangan calon pengantin Tuban dijadwalkan melangsungkan akad nikah pada malam ke-29 bulan puasa.
Untuk mengakomodasi banyaknya pernikahan tersebut, Kementerian Agama Kabupaten Tuban menyiapkan puluhan penghulu yang akan bertugas di berbagai kecamatan.
Baca Juga: Jumlah Pernikahan di Tuban Menurun, Angka Pernikahan Dini Belum Ditekan
Kepala Kantor Kemenag Tuban Umi Kulsum mengatakan, total ada 34 penghulu yang diterjunkan untuk menikahkan ratusan pasangan pada tradisi tahunan tersebut.
Kemenag Siapkan 34 Penghulu Nikahkan Ratusan Pasangan
“Kami sudah menyiapkan 34 penghulu untuk melayani 358 pasangan pengantin yang akan menikah pada malem songo tahun ini,” ujarnya, Senin (16/03/2026).
Menurut Umi, malem songo merupakan tradisi lama yang cukup populer di masyarakat Tuban. Tradisi ini merujuk pada pelaksanaan akad nikah pada malam ke-29 Ramadhan yang diyakini sebagai malam baik dan penuh berkah. Banyak masyarakat memilih waktu tersebut karena dipercaya berdekatan dengan malam Lailatul Qadar.
“Bagi sebagian masyarakat, malam tersebut diyakini membawa keberkahan sehingga banyak pasangan memilih melangsungkan akad nikah pada malam 29 Ramadhan,” jelasnya.

Pada tahun ini, malem songo diperkirakan dimulai pada Rabu sore setelah waktu Asar, tepatnya pada 18 Maret 2026. Biasanya, akad nikah dilakukan mulai selepas waktu tersebut hingga malam hari di masing-masing kantor urusan agama (KUA) maupun di rumah mempelai.
Sementara itu, Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Tuban Mashari menyebutkan, jumlah pernikahan pada malem songo tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada 2026 tercatat 358 pasangan calon pengantin di Tuban yang akan menikah, sedangkan pada 2025 jumlahnya mencapai 425 pasangan. Sementara pada 2024 tercatat 303 pasangan.
“Artinya ada penurunan 67 peristiwa nikah dibanding 2025, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan tahun 2024,” jelasnya.
Menurut Mashari, fluktuasi jumlah pernikahan pada malam songo merupakan hal yang wajar. Dia menilai mulai ada perubahan cara pandang di kalangan generasi muda mengenai waktu pernikahan.
Jika sebelumnya banyak keluarga memilih malam 29 Ramadhan sebagai waktu utama untuk menikah, kini sebagian pasangan mulai memilih hari lain agar lebih leluasa dalam menggelar resepsi atau hajatan.
“Sekarang mulai ada pergeseran paradigma di masyarakat, terutama generasi muda. Menikah tidak harus malam 29 Ramadhan,” katanya.
Dari ratusan pasangan yang tercatat tahun ini, kemenag juga mencatat terdapat dua calon pengantin di bawah umur yang berasal dari wilayah Grabagan. Sementara itu, tidak ada peristiwa pernikahan poligami dalam data tersebut.
Baca Juga: Angka Menurun, 591 Permohonan Pasangan Siri di Surabaya Ajukan Isbat Nikah selama 2025
Di sisi lain, sebagian masyarakat masih mempertahankan tradisi menikah di malam songo. Seperti yang disampaikan Ernik Istiyana, warga Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu.
Ernik berencana menikahkan putra pertamanya pada malam tersebut karena ingin memanfaatkan momen Ramadhan yang dianggap penuh berkah.
“Selain sudah menemukan jodoh, kami berharap pernikahan ini mendapat berkah Ramadhan. Apalagi biasanya keluarga yang mudik juga bisa ikut menyaksikan dan mendoakan,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Mochamad Abdurrochim
Editor: Dwi Lindawati








