PROBOLINGGO, Tugujatim.id – Bupati Probolinggo, Mohammad Haris Damanhuri Romly bertemu Kapolres Probolinggo, AKBP M. Wahyudin Latif, pada 10 April 2026 membahas keresahan masyarakat terkait maraknya aksi begal yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Kunjungan Bupati sebagai bentuk upaya memperkuat sinergi kelembagaan antara Pemerintah Daerah dan Kepolisian. Dalam pertemuan itu, dibahas pula kolaborasi strategis dalam menjaga kondusivitas wilayah serta mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Selain itu, Bupati juga menyoroti aktivitas debt collector di wilayah Kraksaan yang dinilai kerap menimbulkan ketidaknyamanan di tengah masyarakat.
Maraknya Begal Jadi Sorotan
Fenomena begal di Probolinggo belakangan ini menjadi perhatian serius. Sejumlah kejadian yang terjadi dalam waktu berdekatan memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama bagi mereka yang beraktivitas pada malam hingga dini hari. Karena mayoritas kejadian juga dilaporkan terjadi pada kisaran pukul 01.00 WIB, saat kondisi jalan cenderung lengang dan minim aktivitas warga.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian pertama terjadi pada 5 April 2026 sekitar pukul 01.00 WIB di Desa Sentong, Kecamatan Krejengan. Seorang warga bernama Sholehuddin menjadi korban setelah diancam menggunakan senjata tajam jenis celurit. Dalam kejadian tersebut, pelaku berhasil membawa sepeda motor milik korban jenis Honda Scoopy.
Selanjutnya, pada 6 April 2026, aksi serupa kembali terjadi di kawasan Jalan Pantai Bentar, Desa Curahsawo, Kecamatan Gending. Seorang pengendara perempuan menjadi korban setelah mengalami luka di bagian kepala akibat serangan senjata tajam. Pelaku dilaporkan berhasil membawa kabur sepeda motor jenis Honda PCX berwarna hitam.
Tidak berselang lama, kejadian lain kembali dilaporkan terjadi pada 8 April 2026 sekitar pukul 01.00 WIB di kawasan bawah jembatan tol Sologudik. Seorang warga bernama Dimas Eka Saputra asal Brani Kulon disebut menjadi korban, dengan sepeda motor jenis Honda Scoopy yang turut dibawa pelaku.
Sejumlah warga bahkan mulai mengidentifikasi setidaknya tiga titik yang kerap dikaitkan dengan aksi pembegalan di Probolinggo. Ketiga lokasi tersebut di antaranya kawasan Jalan Pantai Bentar di Desa Curahsawo, wilayah Desa Sentong di Kecamatan Krejengan, serta area bawah jembatan tol Sologudik. Ketiganya dinilai memiliki kesamaan, yakni kondisi jalan yang relatif sepi, minim penerangan, serta jauh dari pemukiman padat pada malam hingga dini hari.
Kondisi ini membuat warga mulai merasa khawatir. Minimnya aktivitas di sekitar lokasi serta terbatasnya pencahayaan jalan dinilai menjadi celah yang dapat dimanfaatkan pelaku kejahatan.
Kapolres Probolinggo, AKBP M. Wahyudin Latif, menanggapi hal tersebut menyampaikan, telah merespons serius berbagai laporan yang berkembang di masyarakat. Ia juga menyebut bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di satu wilayah.
“Fenomena ini juga terjadi di beberapa daerah lain, salah satunya dipengaruhi kondisi ekonomi yang saat ini menurun,” ujarnya.
Pihak kepolisian juga memastikan bahwa sejumlah pelaku telah diamankan dan proses pengembangan masih terus dilakukan untuk mengungkap jaringan lainnya.
Langkah Pemerintah
Sementara itu, Bupati Probolinggo menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus berupaya meningkatkan keamanan, salah satunya melalui penambahan penerangan jalan umum di titik-titik yang dinilai rawan.
“Kami akan terus meningkatkan penerangan jalan umum sebagai bagian dari upaya menciptakan rasa aman bagi masyarakat,” ungkap Bupati Haris.
Ia juga mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menjaga keamanan lingkungan dengan menghidupkan kembali ronda malam.
“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk ikut berperan menjaga lingkungan bersama,” tambahnya.
Meski demikian, masyarakat berharap langkah konkret di lapangan dapat segera dirasakan, terutama di lokasi yang selama ini kerap terjadi aksi kejahatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Reporter: Umi Kulsum/ Kontributor
Editor: Darmadi Sasongko








