TUBAN, Tugujatim.id – Kenaikan harga Pertamax mulai memicu kekhawatiran di kalangan nelayan Kabupaten Tuban. Mereka cemas perpindahan pengguna Pertamax ke Pertalite bisa memicu kelangkaan BBM subsidi yang selama ini menjadi kebutuhan utama untuk melaut.
Diketahui, pemerintah resmi menaikkan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara harga Pertalite masih bertahan di angka Rp10 ribu per liter.
Selisih harga yang mencapai Rp6.250 membuat sebagian masyarakat mulai mempertimbangkan beralih ke Pertalite demi menekan pengeluaran harian.
Masyarakat Mulai Pindah ke Pertalite
Salah satunya diungkapkan Nafia, warga Desa Beji, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Selama ini ia menggunakan Pertamax untuk sepeda motor Honda Vario miliknya karena dianggap lebih sesuai dengan spesifikasi kendaraan.
Namun setelah harga Pertamax naik cukup tinggi, ia mulai berpikir untuk mengganti penggunaan BBM ke Pertalite.
“Selama ini memang cocok pakai Pertamax, tapi sekarang jadi mikir lagi karena harganya naik cukup jauh,” ujarnya.
Nafia mengaku pengeluaran bahan bakar menjadi salah satu beban terbesar karena aktivitasnya cukup padat. Setiap hari ia harus menempuh perjalanan dari Kecamatan Jenu menuju Kota Tuban untuk bekerja.
“Mobilitas saya tiap hari tinggi, dari Jenu ke Tuban. Kalau harga BBM naik tentu terasa,” imbuhnya.
Kondisi tersebut dinilai bukan hanya dialami masyarakat umum. Nelayan di Tuban juga mulai waswas apabila perpindahan pengguna BBM non subsidi ke Pertalite terus meningkat.
Baca Juga : BBM Naik, Driver Ojol di Tuban Mulai Hitung Ulang Pengeluaran Harian
Nelayan Takut Pertalite Sulit Didapat
Koordinatir Komunitas Peduli Nelayan Nusantara (Koppen), Ahmad Khusunul Abidin mengatakan, sampai saat ini distribusi Pertalite untuk nelayan masih tergolong aman meski antrean pembelian cukup panjang.
Nelayan membeli Pertalite menggunakan barcode rekomendasi yang telah ditentukan. Namun pelayanan pembelian BBM bagi nelayan di Kecamatan Tuban hanya tersedia di dua SPBU, yakni SPBU Manunggal dan Sugihwaras.
“Alhamdulillah sampai sekarang Pertalite untuk nelayan masih aman, meski antreannya memang cukup lama,” katanya.
Marwi mengkhawatirkan lonjakan pengguna Pertalite setelah kenaikan harga Pertamax dapat memicu kelangkaan BBM subsidi di lapangan.
Menurutnya, jika stok Pertalite terganggu, maka aktivitas melaut nelayan juga akan terdampak langsung.
“Kalau nanti sampai langka, nelayan hanya bisa pasrah karena saat membeli barangnya tidak ada,” ujarnya.
Ia menjelaskan, di wilayah Kecamatan Tuban terdapat sekitar 80 perahu nelayan yang bergantung pada pasokan Pertalite. Rinciannya sekitar 60 perahu berada di Kelurahan Karangsari dan 20 perahu lainnya di Kelurahan Sidomulyo.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Ketua Rukun Nelayan Desa Beji, Muzamil. Ia menyebut sebagian besar perahu nelayan kecil menggunakan Pertalite untuk operasional melaut.
Menurutnya, kenaikan harga BBM sebenarnya masih bisa diterima selama harga jual ikan ikut meningkat. Namun ia berharap pasokan Pertalite tetap aman dan mudah diperoleh nelayan.
“Nelayan kecil sebenarnya tidak masalah kalau BBM naik, asalkan harga ikan juga ikut naik. Jangan sampai BBM mahal tapi harga ikan tetap murah,” katanya.
Muzamil berharap pemerintah memperhatikan kondisi nelayan agar tidak semakin terbebani akibat kenaikan harga BBM dan potensi kelangkaan Pertalite di lapangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Mochamad Abdurrochim







