MALANG, Tugujatim.id – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Malang (UM) kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan Khitan Sehat yang digelar pada Jumat (19/06/2026). Kegiatan LPPM UM yang berlangsung di lingkungan Fakultas Kedokteran UM tersebut diikuti 22 anak berusia 5–15 tahun yang berasal dari keluarga civitas akademika maupun masyarakat sekitar kampus.
Program ini merupakan kolaborasi antara Pusat Kesehatan dan Pangan LPPM UM, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Masjid Al Hikmah UM, serta Fakultas Kedokteran UM. Selain memberikan layanan khitan secara gratis, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi kesehatan reproduksi anak sekaligus wadah pembelajaran bagi mahasiswa kedokteran.
Ketua penyelenggara Khitan Sehat Erianto Fanani MKKK menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan implementasi langsung program kerja Pusat Kesehatan dan Pangan LPPM UM di bidang kesehatan masyarakat.
“Penyelenggaraan ini adalah program kerja Pusat Kesehatan dan Pangan LPPM UM. Karena bidang kami di kesehatan, maka ini merupakan bentuk implementasi langsung pengabdian kepada masyarakat terkait kesehatan reproduksi anak-anak,” ujarnya.

Menurut dia, pemilihan waktu pelaksanaan saat masa libur sekolah dilakukan agar peserta dapat mengikuti kegiatan dengan lebih nyaman tanpa mengganggu aktivitas belajar.
Dia menambahkan, khitan juga memiliki manfaat penting dalam upaya menjaga kesehatan reproduksi anak laki-laki. Di tengah meningkatnya berbagai permasalahan kesehatan reproduksi, khitan menjadi salah satu langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini.
“Kegiatan ini juga merupakan pengaplikasian SDGs nomor 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera serta SDGs nomor 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan,” katanya.

Peserta yang mengikuti kegiatan berasal dari berbagai wilayah. Selain anak-anak dari keluarga civitas akademika UM, terdapat pula peserta dari Kelurahan Sumbersari, Gadingkasri, hingga beberapa wilayah Kabupaten Malang seperti Pakis dan Malang Selatan.
Erianto berharap kegiatan tersebut dapat terus berkembang dengan dukungan berbagai pihak sehingga jangkauan manfaatnya semakin luas.

“Harapannya kegiatan ini bisa rutin dilaksanakan setiap tahun sehingga dampaknya dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan. Kalau ada dukungan dari berbagai pihak dan mitra, tentu cakupannya bisa lebih besar lagi,” ujarnya.
Menjadi Laboratorium Belajar Mahasiswa Kedokteran
Selain memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, Khitan Sehat juga menjadi ruang pembelajaran nyata bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran UM. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mengamati proses khitan, tetapi juga terlibat langsung sesuai kompetensi dan kapasitas yang dimiliki.
Erianto menuturkan bahwa keterlibatan mahasiswa merupakan bagian penting dari proses pendidikan yang menghubungkan teori dengan praktik lapangan.
“Mahasiswa dihadirkan sebagai observer. Mereka diberi kapasitas sesuai kemampuan mereka sambil belajar dan memahami bagaimana mengelola sebuah kegiatan. Harapannya di masa depan dokter tidak hanya mampu praktik, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola layanan dan menjadi doctorpreneur,” jelasnya.

Salah satu mahasiswa yang terlibat adalah Rosalie Aurelia Wibowo, mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 2024. Dalam kegiatan tersebut, dia menjalankan dua peran sekaligus, yakni sebagai asisten khitan dan asisten instrumental.
Rosalie menjelaskan bahwa asisten instrumental bertugas menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan selama prosedur berlangsung. Sementara sebagai asisten khitan, ia mendampingi pasien sejak registrasi, pemeriksaan fisik awal, hingga memasuki ruang tindakan.
“Sebagai asisten khitan, kami mendampingi pasien mulai dari registrasi, pemeriksaan fisik terlebih dahulu, sampai mengantar ke bed untuk dilakukan khitan,” katanya.

Baginya, kegiatan tersebut menjadi pengalaman berharga karena ini merupakan pengalaman pertama baginya terlibat dalam kegiatan khitan massal.
“Ini pertama kali saya ikut serta dalam kegiatan khitan sebagai operator. Saya excited banget karena baru pertama kali, meskipun tentu tidak boleh kelihatan grogi. Saya berharap bisa belajar dan menambah ilmu serta pengalaman,” ujarnya.
Melalui keterlibatan langsung tersebut, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk memahami aspek teknis pelayanan kesehatan sekaligus belajar berinteraksi dengan pasien dan keluarga dalam situasi nyata.
Anak-Anak Antusias Ikut Khitan Berkat Dukungan Orang Tua dan Hadiah dari Panitia
Di balik suasana tegang yang biasanya identik dengan khitan, kegiatan Khitan Sehat ini justru dipenuhi wajah-wajah antusias dari para peserta. Selain mendapat dukungan dan motivasi dari orang tua, anak-anak juga tampak bersemangat karena akan memperoleh berbagai hadiah yang telah disiapkan panitia.
Setiap peserta mendapatkan suvenir berupa botol tumbler, sarung, perlengkapan sekolah, serta uang saku sebagai bentuk apresiasi setelah mengikuti khitan.

Selain memberikan layanan kesehatan gratis, kegiatan ini juga melibatkan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Masjid Al Hikmah UM dalam menjaring peserta dari kalangan yatim dan keluarga duafa di sekitar kampus.
Wakil Ketua UPZ Masjid Al Hikmah UM Sultoni menjelaskan bahwa pihaknya turut membantu mencari peserta yang membutuhkan bantuan melalui jejaring pengurus masjid serta lingkungan RT dan RW.
“Selain panitia dari LPPM yang mencari peserta, kami juga ikut mencari sebagian anak-anak yatim dan duafa yang secara ekonomi membutuhkan bantuan untuk diikutkan terutama yang ada di sekitar wilayah kampus UM,” katanya.
Salah satu peserta, Hanif, mengaku sempat merasa takut menghadapi proses khitan. Namun, dia memberanikan diri karena sudah mendapatkan motivasi dari keluarga dan dijanjikan hadiah.
“Awalnya takut, tapi sekarang sudah berani karena dijanjiin mainan. Soalnya teman-teman sudah khitan semua, jadi saya mau juga,” ujarnya.
Hal serupa dirasakan Muhammad Arsya Haidar. Meski mengaku gugup, dia tetap mengikuti proses khitan karena mendapat dukungan dari keluarga.
“Deg-degan dan takut sedikit. Soalnya disuruh terus juga dijanjiin dibeliin HP,” katanya sambil tersenyum.
Ayah Arsya, Nuruddin, mengatakan bahwa momentum libur sekolah menjadi waktu yang tepat untuk melaksanakan khitan. Selain itu, dukungan dari kakak dan teman-teman sebaya turut membantu membangun keberanian sang anak.
Sementara itu, peserta lain bernama Favio Yervant Fisabilillah As-Sahrim mengaku sempat membayangkan proses khitan berlangsung lebih menakutkan. Namun setelah menjalaninya, dia merasa ternyata tidak sesulit yang dibayangkan.

“Awalnya deg-degan. Kirain cuma disuntik terus digunting lalu selesai. Ternyata awal-awal agak sakit, tapi setelah selesai sudah tidak sakit. Cepat juga, cuma sekitar beberapa menit terus langsung bisa jalan,” katanya.
Favio mengaku paling senang karena mendapatkan berbagai hadiah dari panitia setelah menjalani khitan.
“Saya senang dapat hadiah-hadiah ini,” ujarnya.
Kegiatan Khitan Sehat tidak hanya memberikan manfaat kesehatan bagi peserta, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak, sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mewujudkan layanan kesehatan yang lebih inklusif dan berdampak langsung. (adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Niken Sari
Editor: Dwi Lindawati








