MALANG, Tugujatim.id – Sebuah gang kecil di Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, belakangan viral di media sosial karena memiliki nama yang tidak biasa, yakni Jalan Menuju Surga. Nama tersebut sempat membuat banyak orang penasaran, namun di baliknya tersimpan kisah tentang semangat gotong royong dan kepedulian warga.
Di pintu masuk gang itu terpampang papan bertuliskan “Jalan Menuju Surga”. Jalannya hanya cukup dilalui dua sepeda motor yang berpapasan, lengkap dengan rambu larangan bagi mobil untuk melintas. Di sepanjang jalan, pengunjung akan disuguhi pemandangan dinding permukiman warga dan hamparan sawah.
Baca Juga: Pemkot Malang Segera Buka Jalan Baru Griya Shanta-Candi Panggung, Uji Coba Mulai Pekan Depan
Ketua RW 9 Kelurahan Pandanwangi Winar Kolili menjelaskan bahwa nama Jalan Menuju Surga bukan dibuat untuk menarik perhatian. Nama tersebut lahir dari fungsi utama jalan yang dibangun sebagai akses menuju area pemakaman warga.
Sebelum jalan itu ada, iring-iringan jenazah harus melewati Jalan LA Sucipto yang kerap padat kendaraan. Kondisi semakin menyulitkan ketika terdapat kegiatan masyarakat yang menutup sebagian badan jalan.
“Awalnya memang dibuat sebagai jalan menuju makam. Tujuannya agar ketika ada warga meninggal, proses menuju pemakaman lebih cepat dan tidak terjebak kemacetan,” ujar Winar.
Sejarah Nama Jalan Unik
Dia menuturkan, sekitar tahun 2015 hingga 2016 warga RW 1, RW 9, dan RW 10 berinisiatif memanfaatkan bekas saluran air yang sudah tidak digunakan menjadi akses jalan. Karena saat itu belum berstatus sebagai jalan resmi, seluruh proses pembangunan dilakukan secara swadaya.
Pembangunan berlangsung hampir dua tahun. Warga bergotong royong menyumbangkan tenaga, waktu, hingga biaya agar jalan tersebut bisa dimanfaatkan bersama.
Dana pembangunan dikumpulkan melalui berbagai cara, salah satunya tradisi jimpitan. Setiap pekan, warga berkeliling mengumpulkan sumbangan sukarela berupa uang maupun beras untuk membiayai pembangunan.
“Dulu setiap minggu ada warga yang berkeliling mengambil jimpitan. Ada yang menyumbang uang, ada juga yang memberikan beras,” katanya.
Menurut Winar, pembangunan jalan tersebut murni hasil kebersamaan warga tanpa bantuan pihak luar.
“Semua murni gotong royong warga. Saat itu pemerintah juga belum bisa menganggarkan karena status lahannya masih berupa saluran air, bukan jalan,” jelasnya.
Bersama para tokoh masyarakat, warga kemudian sepakat memberi nama Jalan Menuju Surga sebagai simbol semangat beramal melalui gotong royong.
“Nama itu dipilih untuk memotivasi warga. Harapannya, setiap tenaga dan materi yang disumbangkan dalam pembangunan jalan ini menjadi amal ibadah yang mengantarkan kita menuju surga,” ungkapnya.
Kini fungsi Jalan Menuju Surga tidak hanya sebagai akses menuju makam. Gang tersebut juga menjadi jalur alternatif yang kerap dimanfaatkan masyarakat saat ruas jalan utama mengalami kemacetan atau ketika ada perbaikan infrastruktur di sekitar kawasan.
Baca Juga: Polemik Jalan Tembus Griya Shanta Buntu, Komunikasi Warga dan Pemkot Malang Terputus
Meski hanya dapat dilalui sepeda motor dan kendaraan kecil, keberadaan jalan ini memiliki peran penting bagi mobilitas warga. Bahkan, pengendara dari luar daerah tak jarang tersasar ke gang tersebut karena mengikuti petunjuk aplikasi navigasi.
Bagi masyarakat Pandanwangi, Jalan Menuju Surga bukan sekadar nama unik. Jalan itu menjadi simbol nyata bahwa semangat gotong royong mampu menghadirkan manfaat besar bagi lingkungan sekaligus meninggalkan jejak kebaikan yang terus dirasakan hingga sekarang.
“Alhamdulillah sekarang menjadi jalur alternatif. Saat jalan utama macet atau ada perbaikan, jalan ini tetap bisa dimanfaatkan warga,” pungkas Winar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer : M Sholeh
Editor: Dwi Lindawati








