Oleh: Narudin Pituin
Tugujatim.id – Saya menguji dan meneliti buku berjudul 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976–2026) melalui kacamata semiotika dan kritik sastra akademis yang menegaskan bahwa karya ini bukan sekadar dokumen sejarah personal biasa. Buku tersebut menghadirkan sebuah peleburan sublim antara teks sastra dan non-sastra yang membuka ruang perdebatan teoretis mengenai batas fiksi dan non-fiksi.
Seluruh materinya terbagi ke dalam tiga domain utama: puisi, prosa, dan teks autobiografis. Istilah “teks autobiografis” secara khusus didefinisikan sebagai rekaman sejarah nyata yang ditulis dengan gaya bahasa puitis yang kental.
Baca Juga: Serahkan Buku Trilogi kepada Taufiq Ismail, Surya Burhanuddin Dapat Apresiasi Sastrawan Legendaris
Untuk membedah kekayaan estetis ini, digunakan tiga pisau analisis akademis: Semiotika Indeksikalitas untuk mengkaji prosa, Trikotomi Analisis Semiotik untuk mengkaji puisi, serta metode Pembacaan Tecermat (Closest Reading Review) untuk mengulas teks autobiografis.
Ketika membedah bagian prosa, analisis berlandaskan pada kenyataan bahwa setiap karya sastra selalu memancarkan indeksikalitas ideologis pengarang melalui tokoh dan pokok cerita. Pada kisah “Senja di Beranda Kehidupan”, penggunaan sudut pandang orang ketiga menghadirkan jarak estetis yang intim sekaligus objektif. Karakter Surya yang “berani” berpadu harmonis dengan karakter Sjenny yang “lembut”, menjelaskan mengapa kebersamaan mereka mampu bertahan hingga setengah abad.
Dari segi indeksikalitas pokok, Surya bertindak sebagai mentor kehidupan yang menyampaikan nasihat didaktis bertema kedalaman makna hidup. Bahasa yang digunakannya anggun dan memiliki corak mirip prosa liris Kahlil Gibran, tetapi jauh lebih aplikatif dalam kehidupan nyata. Kedalaman spiritual ini dipertegas kembali pada kisah “Menatap Senja dengan Jiwa Tenang”, di mana waktu dimetaforakan sebagai “sungai dengan kesunyian” dan karakter Sjenny dicitrakan sebagai “tiang doa yang diam”. Narasi tersebut bergerak secara teleologis menuju puncak rasa syukur mutlak kepada Sang Pencipta.

Pencapaian literer penting lainnya tecermin dalam teks “Prakata” karya Surya yang mampu meringkas esensi buku setebal 356 halaman ke dalam beberapa halaman puitis yang padat. Teks ini didominasi oleh gaya bahasa antitesis yang mengolah konsep “tersesat yang membawa berkah”. Melalui metafora “kebun durian”, Surya menggambarkan persinggahannya di berbagai universitas di Malaysia yang awalnya terasa asing dan penuh tantangan, tetapi menyimpan daging manis ilmu serta keberkahan. Gaya retorika antitesis ini memiliki resonansi estetis yang setara dengan nasihat-nasihat Ali bin Abi Thalib. Melalui pergerakan hidupnya, langkah yang awalnya dipikir hanya untuk masa depan ketiga anaknya ternyata bertransformasi menjadi jembatan emas bagi lebih dari 700 generasi muda Indonesia untuk menembus panggung global.
Pada domain puisi, analisis dilakukan secara menyeluruh mencakup tatanan sintaksis, semantik, dan pragmatik. Dalam puisi tanpa judul halaman xxv, ketiadaan judul merupakan strategi tekstual untuk membujuk pembaca menerka subjek utamanya. Secara semantik, puisi tersebut digerakkan oleh gaya bahasa paradoksal melalui penafian di awal baris untuk menegaskan bahwa kebahagiaan sejati tercapai ketika seseorang mampu memberi arti bagi kehidupan orang lain. Sementara itu, pada puisi “Kenyataan yang Belum Sempat Termimpikan”, Surya menggunakan pola kiasmus dengan membalikkan frasa umum menjadi “kenyataan yang belum sempat termimpikan”. Puisi ini menjadi elegi syukur atas keberhasilan anak-anak didik terpinggirkan yang mampu menaiki kapal ilmu menjadi sarjana, di mana penggunaan kata “kami” menegaskan bahwa kesuksesan tersebut adalah hasil kerja kolektif yang melibatkan kasih istri dan rida Tuhan.
Baca Juga: Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain, Penuh Kesan dan Menginspirasi
Melalui Pembacaan Tecermat, terbukti bahwa Surya berhasil mentransformasikan catatan privat menjadi teks sastra universal yang menyentuh ketabahan kemanusiaan. Dalam komparasi global bersama Kahlil Gibran dan Imam Al-Ghazali, karakter prosa liris Surya terbukti lebih dekat dengan gaya Imam Al-Ghazali karena bernuansa didaktis-spiritual yang bersandar kuat pada tauhid. Di Indonesia, struktur teks autobiografis puitis dan gaya antitesis yang dibawakannya menawarkan sebuah kebaruan bentuk sastra.
Pada akhirnya, buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976–2026) bukan sekadar catatan ulang tahun pernikahan emas, melainkan sebuah dokumen kebudayaan dan warisan sastra (literary legacy) yang jernih, cerdas, serta sangat layak diangkat menjadi karya film layar lebar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Editor: Dwi Lindawati








