Oleh: Maria Diana Kemba, Mahasiswa Unitri Malang
MALANG, Tugujatim.id – Mahasiswa Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang menggelar aksi demonstrasi di dalam kampus, Selasa, (8/3/20220). Para mahasiswa menuntut beberapa poin penting kepada jajaran rektorat mulai dari menolak pencabutan SPP 20 persen hingga pemenuhan fasilitas yang memadai.
Demonstrasi yang dimulai pukul 08.oo hingga 10:00 WIB tersebut bertempat di depan gedung Rektorat Unitri. Puluhan mahasiswa Unitri mengenakan jas almamater warna ungu turut menyuarakan aspirasinya. Sebagian lain ada yang membawa spanduk bertuliskan “Rektorat Memanggil, #Koalisi Mahasiswa Unitri.”
Aksi yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai jurusan tersebut didampingi oleh pihak keamanan dari Kapolsek Lowokwaru.
Yohanes Bhoka Pega, koordinator lapangan, mengatakan bahwa aksi bertajuk Koalisi Mahasiswa Unitri ini membawa 4 isu yang disampaikan kepada pihak rektorat. Di antaranya, yang pertama menolak pencabutan SPP 20 persen.
“Kami menolak pencabutan SPP 20 persen, melihat kondisi perekonomian orangtua di masa pandemi sekarang ini yang belum stabil,” kata dia.

Kedua, mendesak pihak kampus melakukan pengawalan terhdapa pendaftaran mahasiswa baru melalui pihak ketiga. Karena begitu banyak relasi yang memanfaatkan mahasiswa baru untuk memperkaya diri sendiri.
Ketiga, pemenuhan fasilitas kampus yang memadai seperti sekretariat untuk mahasiswa dan akses Wi-Fi. Keempat, Adanya atribut parkiran resmi bagi tukang parkir di lingkungan Unitri sehingga identitas tukang parkir menjadi jelas.
Menurut Yohanes, poin-poin ini sebenarnya sudah pernah diadvokasikan oleh pihak koalisi sejak Desember 2021 lalu. Pihak kampus menanggapi dan berjanji akan menjawab semuanya di bulan Januari 2022. Namun hingga sekarang advokasi yang disampaikan koalisi belum terealisasi sehingga mahasiswa berani turun aksi.
Terkait model pembelajaran, mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi itu menyampaikan menyampaikan hal ini bukan hanya terkait permasalahan kuliah luring tetapi persoalan ekonomi yang tidak memungkinkan. Ini pokok permasalahan yang ingin disampaikan oleh mahasiswa koalisi kepada pihak kampus.
“Setalah kebijakannya keluar pukul rata, kami menilai bahwasannya kuliahnya masih offline dan online,” ucap mahasiswa semester 8 itu.
Dia berharap aksi kali ini mendapatkan respon positif dari pihak kampus dan mengindahkan segala tuntutan yang telah disampaikan para mahasiswa.
“Kami sangat berharap aksi kali diindahkan oleh pihak kampus. Jika tidak kami akan kembali turun aksi dengan tuntutan yang sama,” tegas mahasiswa asal asal Nagekeo Nusa Tenggara Timur tersebut.
Menanggapi tuntutan mahasiswa Wakil Rektor 3 Unitri, Prof Dr Totok Sasongko MM, memberi jawaban. Menurutnya, kampus akan menindaklanjuti aspirasi mahasiswa tersebut.
“Menindaklanjuti aspirasi mahasiswa pihak kampus bersama DPM, BEM dan 3 perwakilan dari koalisi mahasiswa akan mengadakan rapat menjawab poin-poin yang disampaikan dalam aksi demonstrasi tersebut pada Rabu (9/3/2022) di ruang rapat Rektorat Unitri,” ungkapnya.
Warek 3 juga menerima dengan baik aspirasi koalisi mahasiswa karena menyampaikannya dengan kaidah-kaidah kesopanan.
“Selaku mahasiswa yang menyampaikan aspirasi yang mungkin tidak sama dengan aspirasi mahasiswa yang lain, itu patut diapresiasi karena sudah menyampaikan pendapatnya. Perkara nanti pendapatnya terakomodasi berapa persen pun itu adalah kewenangan pimpinan, yakni rektor. Yang penting masing-masing tidak ada keinginan memaksakan kehendak yang lain,” tutupnya.
—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugujatim , Facebook Tugu Jatim ,
Youtube Tugu Jatim ID , dan Twitter @tugujatim







