MOJOKERTO, Tugujatim.id – Pondok pesantren (ponpes) dengan segala keunikannya mempunyai potensi yang menarik untuk ditelusuri. Potensi yang dimaksud bisa berupa segi kemandirian ekonomi atau tata kelola kelembagaan.
Dari sisi kemandirian ekonomi, Ponpes Riyadlul Jannah (Rijan) Pacet di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dapat dibilang sebagai salah satu pesantren mandiri.
Ponpes yang berlokasi di Jalan Hayam Wuruk 22 Pacet, Kabupaten Mojokerto, itu mempunyai kolam ikan air tawar yang digunakan untuk konsumsi sehari-hari bagi santri. Bahkan, tak jarang bila ada tamu yang berkunjung, ikan hasil budi daya itu turut disuguhkan sebagai jamuan.

“Karena pondok mendapat aliran air sungai yang hampir tak pernah surut tiap tahunnya. Pendiri pesantren, yaitu Abuya KH Mahfudz Syaubari tidak ingin membiarkan air lewat begitu saja tanpa adanya dampak positif. Kemudian tercetus ide budi daya ikan air tawar,” kata Kepala Bagian Kesantrian Ponpes Rijan Pacet Mojokerto, Agus Zain Mahfudz, beberapa waktu lalu.
Hingga kini, kolam air tawar itu masih difungsikan meski Abuya KH Mahfudz Syaubari telah tiada. Dari kolam tersebut terdapat ikan gurame, ikan mujair, serta ikan nila.
Setiap hari beberapa santri ditugaskan secara bergantian untuk memberi makan ikan dan memanen ikan bila sudah tiba masanya. “Secara bergantian kami gilir para santri untuk bertugas merawat ikan-ikan di kolam tersebut. Ada yang bagian memberi makan, ada yang memanen kalau sudah waktunya panen,” terang Agus Zain.
Selain digunakan untuk konsumsi, masih kata Agus Zain, ada pelajaran yang ingin ditanamkan oleh Abuya KH Mahfudz kepada santrinya. Pelajaran tersebut adalah kemandirian ekonomi bagi santri bila kelak sudah hidup di tengah-tengah masyarakat.
Tak hanya itu, nilai edukasi lainnya adalah adanya kolam ikan air tawar itu diharapkan menjadi alternatif untuk menghadapi masalah ketahanan pangan di Indonesia.
“Abuya ingin nanti ketika santri lulus dari pondok mampu hidup mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Selain itu, Abuya juga ingin budi daya itu menjadi pilihan untuk masalah ketahanan pangan,” imbuh alumni Universitas Al Ahgaff Yaman itu.
Selain budi daya, para santri juga diajari cara mengolah ikan air tawar. Beberapa santri yang tertarik mendapat pelajaran tata boga berupa resep-resep masakan dengan bahan baku ikan air tawar.
Agus Zain mengatakan, adanya pelajaran memasak itu untuk menambah pengetahuan santri tentang cara mengolah ikan air tawar. “Tidak hanya merawat dan memanen ikan, kami juga memberi fasilitas kepada santri berupa pelajaran memasak. Dengan demikian, nantinya pengetahuan santri bisa beragam,” tambah Agus Zain.
Dari hasil panen budi daya ikan air tawar itu, beberapa hasilnya dijual pula secara umum. Dari hasil penjualan itu nantinya digunakan untuk operasional ponpes.








