Akademisi Unair Kaji Dampak COVID-19 pada Sistem Reproduksi Pria - Tugujatim.id

Akademisi Unair Kaji Dampak COVID-19 pada Sistem Reproduksi Pria

  • Bagikan
Rumah Sakit Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. (Foto: Dokumen/RSUA Surabaya) tugu jatim
Rumah Sakit Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. (Foto: Dokumen/RSUA Surabaya)

SURABAYA, Tugujatim.id – Akademisi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, dr Agustinus SpAnd, mengkaji dampak COVID-19 pada kualitas sperma, sistem reproduksi laki-laki dan proses pembentukan bayi tabung. Kajian itu ditulis menjadi artikel yang dikemas pada laman resmi Unair Surabaya pada Kamis (21/01/2021). Dr. Agustinus menjelaskan bahwa testis memiliki kerentanan yang rendah terhadap virus COVID-19.

“Virus SARS-CoV-2 dapat menginfeksi organ reproduksi jika sel-sel sistem reproduksi memiliki ACE2 dan TMPRSS2 secara bersamaan. Spermatogonia (benih belum matang, red), satu-satunya sel memiliki gen ACE2 dan TMPRSS2 bersamaan di testis, namun sel yang memiliki kedua gen ini secara bersamaan sangat jarang (0,05% sel). Berdasarkan temuan ini, testis memiliki kerentan yang rendah terhadap infeksi virus SARS-CoV-2,” terang dr. Agustinus melalui artikelnya di laman resmi Unair Surabaya, Kamis (21/01/2021).

Kendati testis kurang rentan pada infeksi COVID-19, dr. Agustinus mendapat data bahwa nyeri testis menjadi salah satu gejala tidak khas COVID-19 dari sebagian pasien yang melapor bahwa merasa sedikit tidak nyaman pada bagian kantung buah zakan (skrotum).

“Dari pemeriksaan testis 12 jenazah pasien COVID-19 menunjukkan bawha testis mereka mengalami cedera. Namun kehadiran virus SARS-CoV-2 di dalam testis hanya terkonfirmasi pada satu kasus. Hal itu menunjukkan bahwa COVID-19 dapat menyebabkan cedera pada testis baik secara langsung atau tidak langsung,” lanjut akademisi Unair Surabaya tersebut.

Sementara itu, hubungan antara SARS-CoV-2 dan hasil bayi tabung belum dapat dipastikan. Ada beberapa ahli yang sudah mulai mencoba untuk memberi rekomendasi agar penularan virus COVID-19 tidak sampai menjalar ke pasien, staf, sel benih dan embrio. Kemudian, pasien COVID-19 juga perlu menunda program bayi tabung.

“Meskipun virus SARS-CoV-2 tidak terdapat dalam air mani, siklus bayi tabung perlu ditunda apabila pasien mengalami infeksi virus SARS-CoV-2. Kehadiran pasien ini di rumah sakit dapat meningkatkan risiko penyebaran virus ke staf rumah sakit dan pengunjung lainnya. COVID-19 mengganggu fungsi reproduksi laki-laki melalui cedera testis baik secara langsung maupun tidak langsung,” tutur dr. Agustinus, Kamis (21/01/2021).

Kendati dampak virus SARS-CoV-2 terhadap hasil bayi tabung belum jelas, proses bayi tabung tetap dapat dijalankan, dengan menjalankan syarat pihak yang terlibat dalam proses bayi tabung perlu mematuhi protokol kesehatan dan rekomendasi yang telah dibuat untuk mencegah penularan COVID-19. (Rangga Aji/gg)

  • Bagikan