Anggota DPRD Komisi A Surabaya: Mal Sudah Sepi, Apalagi jika Ada RS Rujukan Pasien Covid-19

  • Bagikan
Anggota DPRD Kota Surabaya Komisi A Imam Syafii meninjau kegiatan penyampaian aspirasi dari Paguyuban P4 mengenai penolakan pengoperasian, pembangunan, dan pengaktifan RS Siloam sebagai RS rujukan Covid-19. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)
Anggota DPRD Kota Surabaya Komisi A Imam Syafii meninjau kegiatan penyampaian aspirasi dari Paguyuban P4 mengenai penolakan pengoperasian, pembangunan, dan pengaktifan RS Siloam sebagai RS rujukan Covid-19. (Foto: Rangga Aji/Tugu Jatim)

SURABAYA, Tugujatim.id – Masih soal aspirasi dari Paguyuban Penghuni, Pemilik, dan Pengelola (P4) City of Tomorrow (Cito) Mall Surabaya mengenai penolakan pengoperasian, pembangunan, atau pengaktifan Rumah Sakit (RS) Siloam sebagai rujukan Covid-19, anggota DPRD Kota Surabaya Komisi A Imam Syafii pun angkat bicara.

Dia menyampaikan bahwa pusat perbelanjaan sudah sepi sejak ada Covid-19, perekonomian pedagang juga merosot, apalagi bila ada RS Siloam sebagai rujukan Covid-19 di mal.

“Kami bisa memahami ketakutan pedagang di sini. Karena kalau bicara soal virus Covid-19, semua takut. Pusat perbelanjaan saja sepi, apalagi jika ada rumah sakit khusus Covid-19 di dekatnya,” terang Imam Syafii sebagai perwakilan rakyat yang ikut meninjau penyampaian aspirasi dari Paguyuban P4 Rabu (03/02/2021), pukul 13.00 WIB.

Selain itu, Imam juga merasa kaget karena jika RS Siloam sebagai RS rujukan Covid-19 jadi dibangun, dioperasikan, dan diaktifkan di dekat Cito Mall Surabaya, Imam bakal mempertanyakan mengenai izin pendirian, pengoperasian, dan pengaktifan bangunan yang dipakai sebagai tambahan bed pasien Covid-19 tersebut.

“Mendirikan rumah sakit izinnya ketat apalagi rumah sakit khusus Covid-19 yang notabene menangani penyakit menular. Tentu saja infrastrukturnya harus diperhatikan, amdalnya seperti apa,” lanjut Imam pada pewarta Tugu Jatim di depan Kedai Kopi 27 Lantai 1 Cito Mall Surabaya.

Imam Syafii selaku anggota DPRD Kota Surabaya Komisi A bakal memanggil pihak terkait untuk mengecek proses perizinan yang sudah disiapkan. Kendati sudah selesai perizinannya, DPRD Kota Surabaya Komisi A bakal tetap mengecek apakah perizinan tersebut sudah sesuai prosedur atau belum.

“Karena kami curiga pernah ada kejadian satu grup dengan Siloam, jalannya ambles. Persoalannya karena perizinan. Kami tidak ingin hanya karena membutuhkan rumah sakit Covid-19, tapi merugikan masyarakat yang terdampak,” lanjut anggota DPRD Kota Surabaya Komisi A tersebut.

Imam juga berharap agar Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dapat memahami rakyat, kendati sedang mengalami keterbatasan bed pasien Covid-19 yang tersedia sekarang. Dia melanjutkan, jangan sampai mengambil pilihan yang justru dapat merugikan masyarakat.

“Karena itu sebelum diizinkan operasionalnya, duduk dengan warga supaya tidak ada persoalan. Jangan sampai ketika ada penolakan terus diterabas. Jangan sampai meninggalkan kesan yang tidak baik. Jangan dipaksakan tetap beroperasi,” ujar Imam pada pewarta Tugu Jatim. (Rangga Aji/ln)

  • Bagikan