MOJOKERTO, Tugujatim.id – Isu intoleransi masih saja dijumpai di Kabupaten Mojokerto. Catatan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Mojokerto menyebutkan setidaknya terjadi 2 kali penolakan kedatangan pemuka agama di sini.
“Dari catatan internal kami begitu. Maka isu tersebut harus ditindaklanjuti salah satunya dengan duduk bersama dengan tokoh maupun organisasi lintas agama agar terjadi kesinambungan lintas sektoral,” ungkap Kabid Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Bakesbangpol Kabupaten Mojokerto Roul Amrullah, Jumat (18/07/2025).
Baca Juga: 7 Drama Korea 21 Tahun ke Atas Terbaru: Kisah Cinta dan Balas Dendam dengan Adegan Dewasa
Hasil diskusi yang dimaksud Roul mengerucut pada beberapa hal. Seperti adanya kegiatan keagamaan menjadi salah satu cara paling representatif dalam menciptakan kedamaian dan kesejukan untuk umat. Karena itu, koordinasi dan komunikasi menjadi kunci menjaga keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Harapan kami diskusi seperti ini tidak hanya sekali, namun menjadi wadah terutama bila muncul potensi-potensi penolakan tanpa sebab terhadap pemuka agama atau tokoh-tokoh lainnya,” ujar Roul.
Peran aktif dari masing-masing stakeholder juga dibutuhkan dalam mencegah sikap intolerasi, ekstrem, dan radikal. Sebab kemunculan sikap intoleransi di Mojokerto berpotensi besar memunculkan tindakan-tindakan turunan seperti radikal hingga ekstrem.
“Kami juga meminta agar keharmonisan antar tokoh-tokoh agama hendaknya di-publish secara masif di media sosial maupun media mainstream, dengan demikian hal itu bisa menjadi teladan bagi umat,” sambung Roul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Hanif Nanda Zakaria
Editor: Dwi Lindawati








