JEMBER, Tugujatim.id – Bencana banjir Jember melanda Senin (15/12/2025) setelah air Sungai Bedadung meluap dan menggenangi kawasan pemukiman warga. Sungai Bedadung yang memiliki cakupan daerah tangkapan air seluas 499,5 kilometer persegi ini merupakan aliran terpanjang di Jawa Timur.
Mata airnya bersumber dari sisi barat Gunung Iyang di wilayah Rowosari, Sumberjambe, yang dikenal sebagai Sungai Sumberpakem dan berakhir di pesisir Samudra Hindia dekat wilayah Puger.
Menurut Profesor Entin Hidayah, pakar pengelolaan air dari Universitas Jember, cuaca buruk memang menjadi pemicu utama. Namun, dampak bencana tidak akan sedahsyat ini bila ekosistem di daerah hulu sungai masih terjaga dengan baik.
Baca Juga: Banjir Jember Hancurkan Jembatan, Warga Desa Jubung Tempuh Jarak 5 Kali Lipat Lebih Jauh
“Intensitas curah hujan tinggi bukan satu-satunya penyebab. Kerusakan lingkungan, terutama di area hulu, memperparah situasi,” ungkapnya, Rabu (17/12/2025).
Entin menambahkan, konversi lahan secara besar-besaran turut memperburuk kondisi. Area hutan telah bertransformasi menjadi ladang pertanian, sawah, bahkan kompleks hunian dalam beberapa tahun belakangan.
Dampak dari perubahan tata guna lahan ini sangat signifikan. Zona penyerapan air menyusut drastis, menyebabkan air hujan tidak lagi tertampung di kawasan atas dan langsung meluncur deras menuju dataran rendah.
“Volume air yang diterima Sungai Bedadung beserta cabang-cabangnya melonjak drastis dalam waktu bersamaan,” paparnya.
Solusi Penanganan Banjir di Jember
Solusi yang ditawarkan mencakup penanaman kembali hutan dan pengawasan ketat terhadap perubahan fungsi lahan agar air hujan dapat diserap kembali oleh tanah. Kompleks Villa Tegal Besar Indah di Kelurahan Tegal Besar, Kaliwates, menjadi perhatian khusus karena lokasinya tepat di pinggiran sungai.
Tri Wahyudi, pemimpin komunitas setempat, menyebutkan sekitar 150 penduduk dari berbagai usia menjadi korban banjir Jember. Sebagian warga mendesak PT Sembilan Bintang Lestari untuk memindahkan hunian mereka ke lokasi yang lebih layak.
“Pengalaman banjir 2021 membuat kami trauma. Koordinasi dengan pengembang selalu memakan waktu lama,” keluhnya.
Sementara itu, Achmad Imam Fauzi dari Bapenda Jember menegaskan bahwa bencana ini bukan sekadar takdir alam, melainkan dari tergerusnya wilayah di sepanjang bantaran sungai di Jember.
“Ini konsekuensi dari pelanggaran wilayah sungai. Alur alami sungai terhambat oleh ambisi developer yang tidak bertanggung jawab. Sungai hanya merebut kembali wilayahnya, sementara rakyat yang menanggung akibatnya,” kritiknya.
Pemkab berjanji akan membenahi kawasan tersebut sesuai regulasi yang berlaku. Area sempadan sungai sejauh 15 meter dari garis pasang tinggi akan dikembalikan fungsinya sesuai ketentuan. Namun, prioritas saat ini adalah penyelamatan dan pemulihan korban bencana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Diki Febrianto
Editor: Dwi Lindawati








