Tugujatim.id – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Bappenas Republik Indonesia mengadakan sesi diskusi ”Charting Indonesia Forward as a Green Global Battery Hub” dalam konferensi perubahan iklim PBB (COP29) di Baku Olympic Stadium Azerbaijan, Jumat (15/11/2024). Hasilnya, Indonesia akan dijadikan pusat baterai hijau.
Untuk diketahui, baterai hijau merupakan baterai ramah lingkungan yang dapat menyimpan elektron hijau yang dihasilkan dari sumber terbarukan seperti angin dan matahari. Tapi, baterai itu tidak terbarukan.
Baterai hijau terbuat dari mineral yang ditambang dari kerak bumi seperti bahan bakar fosil sehingga tidak dapat diisi ulang secara alami. Agar baterai bisa menjadi ramah lingkungan, mineral dalam baterai harus bisa didaur ulang sehingga dapat mengurangi limbah.
Baca Juga: Nagita Slavina Rilis Single Terbaru “Angan-Angan Belaka”, Aransemen Lagu Mama Rita Bernuansa Modern
Acara yang diadakan di paviliun Indonesia di Baku Olympic Stadium Azerbaijan ini untuk mendiskusikan mengenai langkah strategis Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai pemain global dalam transisi energi hijau. Salah satunya sebagai pusat dari baterai hijau dunia. Hal ini didukung dengan adanya posisi yang sangat strategis di Indonesia untuk menjadi pusat industri baterai dunia.
”Posisi Indonesia yang sangat strategis dapat menjadi pusat industri baterai dunia dengan proses produksi yang berpegangan pada standar evironmental, sosial, dan governance,” kata Wakil Kepala Bappenas Febrian Alphyanto mengutip dari bappenas.go.id pada Rabu (20/11/24).
Sementara itu, Kementerian PPN atau Bappenas bersama dengan World Resources Institute (WRI) Indonesia telah menyusun dokumen Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nasional yang merupakan bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Dalam 10 tahun terakhir, kebijakan hirilisasi dapat meningkatkan pendapatan sektor nikel sebesar sebanyak dua kali lipat. Tapi, dia mengatakan, sektor ini juga menjadi salah satu penyumbang signifikan emisi gas rumah kaca.
”Sebagai negara yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk memaksimalkan potensi ini. Tapi, kita harus dapat memastikan pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan sejalan dengan komitmen nasional untuk mengurangi dampak lingkungan khususnya emisi gas rumah kaca”, jelas Febrian Alphyanto.
Baca Juga: Antisipasi Fenomena Bencana Hidrometeorologi, KAI Daop 9 Jember Normalisasi Jalur Kereta
Dia mengatakan, Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nasional akan diimplementasikan dalam tiga fase yaitu inisiasi, akselerasi, dan ekspanasi. Pada fase inisiasi akan fokus pada riset, perencanaan, dan pembuatan kebijakan terkait infrastruktur rnergi baru terbarukan (EBT) pada wilayah industri nikel.
Sedangkan pada fase akselerasi akan ditargetkan pada pembangunan sistem transmisi listrik dan penyimpanan energi yang akan dihubungkan dengan sumber EBT. Dan terakhir fase ekspansi ini akan memperluas adopsi pembangkit EBT dan teknologi rendah karbon dalam proses produksi pada smelter nikel yang akan mendorong Indonesia menjadi pusat baterai hijau dunia.
Karena itu, Indonesia akan menjadikan Sulawesi sebagai produsen utama nikel dan kobalt karena memiliki potensi EBT seperti angin yang berada di selatan pulau dan panas bumi yang terletak pada bagian utara. Dalam kesempatan ini, pemerintah menyatakan, ingin menjalin kerja sama global untuk berinvestasi dalam membangun industri yang terkait dengan EBT agar dapat mencapai dekarbonisasi.
”Dalam hal ini, pemerintah ingin menjalin kerja sama global untuk berinvestasi membangun industri yang terkait dengan EBT untuk mencapai dekarbonisasi,” kata Dirjen EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengutip dari bappenas.go.id.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News Tugujatim.id
Writer: Abidhah Jinan Salma Octavia/Magang
Editor: Dwi Lindawati








