Belajar Bisnis dari Pebisnis Ulung CEO Malang Strudel Donny Kris Puriyono melalui Bakar Jembatan - Tugujatim.id

Belajar Bisnis dari Pebisnis Ulung CEO Malang Strudel Donny Kris Puriyono melalui Bakar Jembatan

  • Bagikan
Ilustrasi bisnis. (Foto: Pixabay/Tugu Jatim)
Ilustrasi bisnis. (Foto: Pixabay/Tugu Jatim)

MALANG, Tugujatim.id – Siapa sih yang tak ingin menjadi pebisnis sukses? Barangkali banyak orang ingin menjadi seorang pebisnis profesional. Nah, Tugu Malang, partner Tugu Jatim, berupaya memberikan wadah bagi pebisnis pemula untuk menimba ilmu dari pebisnis profesional dengan menghadirkan CEO Malang Strudel Donny Kris Puriyono dalam live Instagram @tugumalangid pada Rabu (31/03/2021).

Bincang-bincang santai bertema “Tips Memulai Bisnis dan Bagaimana Cara Mengembangkannya” itu berlangsung penuh motivasi bisnis dari Donny Kris. Acara tersebut mendapat antusias luar biasa dari netizen melalui beragam pertanyaan.

Donny memulai perbincangan dengan membagikan tip memulai bisnis yang tepat. Menurut dia, untuk menjadi pebisnis ulung harus memiliki alasan yang kuat membangunnya. Hal itu dilakukan agar pebisnis memiliki mental tangguh dan tak berbalik arah dalam menghadapi tantangan yang ada.

“Sebenarnya paling gampang melihat sejauh mana mereka akan bertahan dengan bisnisnya saat ditanya di awal. Apa alasan kuat Anda berbisnis dan visinya apa. Ini sebenarnya sudah bisa menjelaskan bisnisnya akan bertahan atau tidak,” ungkapnya.

CEO Tugu Malang Group Irham Toriq bersama Donny Kris memberikan tip memulai bisnis yang baik. (Tangkapan layar live Instagram @tugumalangid/Tugu Jatim)
CEO Tugu Malang Group Irham Toriq bersama Donny Kris memberikan tip memulai bisnis yang baik. (Tangkapan layar live Instagram @tugumalangid/Tugu Jatim)

Donny menyebutkan, uang bukanlah tujuan utama dalam membangun bisnis. Ketika uang atau profit menjadi tujuan utama, maka bisnis tidak akan bertahan lama saat menemui kendala seperti bisnis tidak jalan maupun merugi di awal berbisnis.

“Kita ambil contoh saja, Bill Gates ketika mendirikan Microsoft. Visinya simpel, bagaimana bisa menghadirkan PC di setiap rumah. Padahal, di tahun 80-an tidak ada yang namanya PC. Jadi, tidak melulu tentang profit, tapi ada visi yang lebih besar daripada itu,” tuturnya.

Sementara Malang Strudel menurutnya, memiliki filosofi bagaimana bisnis itu dibangun agar dapat menambah ilmu dan mempererat tali persaudaraan atau ukhuwah pendirinya. Di mana Malang Strudel didirikan oleh tiga sahabat, untuk itu nama perusahaan tersebut bernama PT Hasanah Ukhuwah Bertiga.

“Alasan kuat kami membangun Malang Strudel, gak ngomongin ingin menjadi yang terhebat dan terbaik di Malang. Visi kami simpel, bagaimana Malang Strudel bisa menjadi kebanggaan Malang Raya,” ucapnya.

“Di Malang Strudel, kami juga membina sekitar 2 ribu UMKM yang produknya dijual di Malang Strudel. Jadi, mereka tidak hanya menitipkan produk kepada kami, tapi juga memberikan pelatihan agar dapat menciptakan produk yang bagus,” katanya.

Kebanyakan orang mengatakan, terjebak pada pemikiran saat membangun bisnis itu modal utama adalah uang. Padahal menurut dia, modal utama itu bukan uang tapi jaringan. Saat Anda punya jaringan yang sangat kuat, uang itu akan mudah didapatkan. Selain itu, membangun track record bisnis juga menjadi modal untuk menjadi pengusaha yang besar.

“Saat Anda memulai bisnis, sebenarnya disitulah mulai membangun track record. Tanpa ada track record yang baik akan susah untuk mengembangkan bisnis. Sementara cara paling gampang memperluas jaringan sebenarnya masuk saja ke dalam komunitas. Pilih juga komunitas yang punya visi yang sama,” tambahnya.

Kebanyakan pebisnis pemula juga banyak yang bingung harus berbisnis dengan cara berkolaborasi atau berbisnis sendiri. Menurut Donny, Anda harus mengetahui apa kelemahan dan kelebihan diri sendiri. Jika memiliki kelemahan, maka disarankan untuk membangun bisnis dengan berkolaborasi.

“Di kondisi pandemi ini, sebenarnya sudah ketinggalan zaman kalau mendirikan bisnis sendirian. Karena kompetisi bisnis itu semakin sengit. Untuk menembus kompetisi itu menurut saya ya berkolaborasi,” ucapnya.

Dia menganggap perkembangan zaman juga menjadi tantangan besar. Bagi dia, pebisnis harus mampu beradaptasi dan tangguh menghadapi perkembangan zaman.

“Seperti cerita evolusi dinosaurus, mereka mungkin besar dan kuat, tapi itu zaman dahulu. Saat dihadapkan dengan zaman yang serba cepat dan rapi, ya mereka punah juga. Begitu juga dengan bisnis, saat tidak punya inovasi produk, ya kita akan tertinggal,” katanya.

Pebisnis yang sukses menurutnya juga merupakan pembelajar yang baik. Hal itu akan berpengaruh saat pebisnis beradaptasi ketika menemui kendala dalam perkembangan zaman.

“Kalau bukan pembelajar yang baik, pasti kita akan terhenti dalam suatu masalah yang dihadapi. Kemudian tidak bisa naik kelas bisnisnya. Karena seorang pebisnis hebat adalah seorang pembelajar yang baik,” ucapnya.

Dalam berbisnis juga diperlukan prinsip untuk tidak kembali pada kesalahan. Dia mengatakan, seperti istilah membakar jembatan agar tak digunakan untuk kembali lagi ke belakang. Donny juga memiliki cerita membakar jembatan, di mana dia tidak mengambil ijazahnya sebelum bisa punya mobil tanpa mengandalkan ijazah.

“Saat lulus kuliah, saya pernah berjanji untuk tidak mengambil ijazah sebelum saya bisa membeli mobil pertama. Dalam keluarga saya belum pernah ada sejarah membeli mobil baru, itu belum ada,” ujarnya.

“Saya 2005 lulus kuliah, 2007 baru ambil ijazah saya dengan membawa mobil baru. Itu salah satu cara membakar jembatan saya,” imbuhnya.

Dalam berbisnis juga sangat diperlukan bekerja dengan mendekatkan diri kepada sang pencipta. Hal itu dilakukan agar dapat menjaga ketenangan batin dalam berbisnis.

“Faktor spiritual itu sangat penting untuk menjaga semangat hati. Kalau secara spiritualbagus, kita bisa mengerjakan semua hal dengan tenang. Berbagai persoalan bisnis itu akan terasa kecil sekali. Setahu saya semua pebisnis besar itu memiliki sisi spiritual yang baik,” tutupnya. (Mokhammad Sholeh/ln)

 

  • Bagikan